One Night Incident

One Night Incident
Bab 59 Kedatangan


__ADS_3

Nyonya Sarah terhenyak, dan sorot matanya nanar melihat ke arah tenaga kesehatan yang membawa pergi bed suaminya. Claudia juga tidak jauh berbeda, kedua perempuan itu melihat ke arah pintu keluar dengan tatapan penuh kemarahan. Beberapa saat kemudian, keduanya kembali duduk di atas kursi..


"Bagaimana ma kelanjutannya, apakah papa Abraham mau memberikan sebagian assetnya untuk kita..?" Claudia mengejar mamanya dengan pertanyaan,


"Diam kamu Claudia.., kamu tahu sendiri bukan apa yang terjadi. Semenjak gadis ja**lang itu kembali, menjadi sangat sulit untuk berbicara, atau mempengaruhi papamu. Melihat kondisinya, jika yang terjadi barusan itu benar adanya, bisa bisa papamu sudah tidak memiliki umur lama. Kita bisa tidak mendapatkan apapun..." dengan nada kesal, perempuan paruh baya itu akhirnya memberikan tanggapan.


"Waaaww.... berarti Claudia akan terusir dari circle pertemanan mam... Teman teman sosialitaku pasti akan meninggalkanku, karena selama ini semua sumber daya berasal dariku. Bagaimana ini mam,.., mama harus memikirkan cara.." Claudia menjadi ikutan gusar.


Terlihat wajah kecemasan dari wajahnya, merasa khawatir akan ditendang dari circle pertemanannya. Baru semenjak mamanya menikah dengan papanya Arine, Claudia bisa diterima dalam kelompok sosialtanya, dam ketika saat ini, posisi mamanya terancam, gadis itu pasti khawatir dengan masa depannya.


"Apa kamu pikir, hanya kamu saja yang pusing dengan semua ini Claudia. Aku terlalu besar kepala, dan terbuai dengan janji janji dari laki-laki itu, sampai aku mau menikah dengannya. Dan sekarang ketika laki-laki itu sudah terbaring sekarat, tidak ada yang aku ambil sedikitpun darinya..." bukannya memberikan masukan untuk putrinya, namun perempuan paruh baya itu juga terlihat cemas dan gelisah.


Keduanya duduk terdiam, dan saling berpikir untuk memecahkan masalah mereka. Beberapa saat kemudian...


"Mama..., apakah di kamar mama dan papa, tidak ada brankas berisi surat surat asset papa.Jika ada, mama bisa mengambil dan menahannya. Dengan itu, mama akan memiliki kuasa pada papa..." tiba-tiba Claudia teringat sesuatu.


"Apa kamu pikir papamu sebodoh itu Claudia. Mama sudah berusaha membuka brankas yang ada di kamar papa, semua surat kepemilikan asset ternyata tidak disimpan di rumah. Lawyer  papamu yang menyimpannya, dan mama tidak berhasil mendapatkan, bahkan salinannya. Sedangkan cash money di brankas juga tidak seberapa, hanya ratusan juta, dan semua sudah mama pindahkan ke rekening mama untuk sementara." wajah perempuan paruh  baya itu betul-betul kalut.

__ADS_1


Kedatangan Arine kembali ke negara ini, menjadi ancaman yang menakutkan untuk mereka. Karena setelah Tuan Abraham bertemu dengan putri kandungnya, laki-laki itu menjadi sangat berhati-hati. Informasi sangat sulit keluar dari bibirnya.., seakan kedatangan Arine membawa pengaruh besar pada Tuan Abraham.


"Untung saja mobil Claudia sudah diatas namakan Claudia ma.. Jika tidak, Claudia pasti juga akan kehilangan mobil itu. Ke depan, apa yang harus kita lakukan ma," Claudia terus mendesak mamanya.


"Hempphh... mungkin cara terakhir harus kita gunakan Claudia. Pada saat papa sekarat, atau tidak sadar, mama akan memaksa laki-laki itu untuk tanda tangan pengalihan beberapa asset. Dengan tanda tangan itu, kita akan bisa berbuat banyak untuk meraup kekayaan. Enak saja... mama sudah berkorban mau menikah dengannya, masak tidak ada sedikitpun asset atas nama milikku..." senyuman sinis terbit dari bibir perempuan paruh baya itu.


Claudia hanya mengangguk anggukkan kepala, menyetujui apa yang menjadi pemikiran dari mamanya. Setelah beberapa saat diam, akhirnya kedua perempuan itu kemudian berdiri dari tempat duduknya..


***********


Halim Perdana Kusuma Jakarta...


"Elmar... tunggu kami. Kita bisa pulang ke mansion bersama, tidak perlu sendiri sendiri.." dari belakang, Bramantya berteriak memanggil Elmar.


"Aku tidak ada waktu lagi Bram.. jangan ganggu aku. Urus papa dan mama, bawa mereka kembali pulang ke mansion. Aku akan pergi sendiri... Kamu sudah menyiapkan dua mobil untuk penjemputan kali ini bukan Bidzar...?" tidak mau berhenti menunggu keluarganya, sambil berjalan cepat, Elmar memberikan tanggapan.


"Iya Tuan... sudah ada dua mobil SUV yang melakukan penjemputan di depan." dengan patuh, Abidzar menjawab pertanyaan dari majikannya. Laki-laki itu merasa tidak nyaman dengan sekitarnya, tetapi dia tahu jika tuan mudanya tidak bisa untuk dilawan.

__ADS_1


"Hempphh... sangat egois sekali kamu Elmar... Sampai kakakmu, papa dan mama kamu abaikan. Apakah kamu tidak bisa berpikir dengan jernih, tujuan mana yang akan kamu datangi.." Bramantya terlihat marah. Laki-laki itu berusaha untuk menahan adik kandungnya itu,.


Bukannya berhenti, tetapi Emar malah mempercepat langkah kakinya. Anak muda ini memang tidak memberi tahu pada keluarganya, ketika Brian terus menghubunginya, Dalam pikirannya, bertemu dengan Arine dan putranya, yang akan menghentikan kecemasannya itu. Abidzar yang mengetahui tujuan dari Tuan nya, hanya diam tidak berani untuk memberi tahu keluarga dari Tuan nya.


"Biarkan adikmu sendiri dulu Bram... Tidak ada gunanya kamu memaksanya, memang sejak dulu bukankah Elmar memang keras bukan..." mendengar perselisihan dari kedua putranya, tuan William akhirnya bersuara, Saat ini kondisi tubuhnya memang sudah dalam keadaan lelah, setelah menempuh perjalanan jauh. Mengalah dan bersabar menjadi pilihan terbaik untuk kali ini.


Mama keduanya hanya diam dan ikut menganggukkan kepala, menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya. Terlihat ada semburat kecewa di wajah Bramantya, karena jujur dalam hati laki-laki itu, dirinya juga ingin segera bertemu dengan Arine dan Brian, Meskipun laki-laki itu tahu, jika ternyata Brian adalah putra dari adik kandungnya, tetapi hidup bersama sejak Arine masih hamil, melahirkan, tidak bisa serta merta dia melupakan semuanya, Tapi karena tidak mau memancing keributan, akhirnya Bramantya memilih untuk mengalah.


"Tuan muda Elmar... itu di depan mini market, mobil jemputan kita sudah menunggu..." tiba tiba Abidzar memberi tahu jika sudah ada dua mobil yang siap di depan pintu kedatangan,.


Beberapa orang dengan sigap mendatangi mereka, dan mengambil barang bawaan mereka. Tanpa bicara, Elmar segera memilih mobil yang diparkir di depan, dan anak muda itu langsung masuk ke dalam mobil tersebut.


"Bidzar.. tinggalkan semua barang pada pengawal, kamu ikuti aku segera.." melihat asisten pribadinya masih diam menunggu pengawal datang kepadanya, Elmar berteriak memberi arahan.


"Ba..., baik tuan muda.." dengan wajah malu pada tuan besar dan nyonya besar, dengan terpaksa akhirnya Abidzar segera mengikuti arahan dari tuan mudanya.


Laki-laki berbadan tegap itu segera masuk ke pintu mobil bagian depan, duduk di samping driver. Tanpa pamitan, akhirnya mobil itu segera pergi dari depan terminal kedatangan. Tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan, dan driver hanya menjalankan mobil sesuai arah yang diberikan oleh Elmar,.

__ADS_1


***********


__ADS_2