
Setelah memastikan jika papanya bisa ditinggal, Arine segera bergegas datang ke kantor kepolisian untuk memenuhi janjinya. Gadis itu meminta Brian putranya untuk tidak ikut, karena merasa khawatir akan mengganggu psikologis putranya. Namun dengan dalih, akan menjaga mommy nya, anak kecil itu tidak mau ditinggalkan. Dengan terpaksa, akhirnya Arine membawa serta Brian ke kantor polisi.
"Turunkan di depan pintu masuk kantor polisi saja bang..." terdengar suara Arine memberi perintah driver ojol untuk mengantarkan masuk ke dalam halaman pagar kantor polisi.
"Baik mbak, ini saya sudah nyalakan seins untuk belok kiri.." sambil memberikan tanggapan, driver membelokkan mobil, memasuki halaman kantor polisi. Tidak lama kemudian, mobil itu sudah berhenti tepat di depan pintu masuk.
"Sudah sampai mbak..., pembayaran sudah dilakukan dengan OVO ya. Hati-hati..." dengan ramah, driver taksi online memberi tahu jika mereka sudah tiba.
"Okay.. terima kasih mas.." Arine dan Brian segera membuka pintu mobil, kemudian keduanya keluar. Tidak berapa lama, mobil yang mengantarkan mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
Terlihat Arine mengambil nafas dalam sebelum memutuskan masuk ke kantor polisi. Senyuman miris tersungging di bibirnya, karena tidak menyangka jika kedatangannya kembali ke negara Indonesia, malah membuat mereka berurusan dengan pihak kepolisian. Melihat reaksi mommy nya, Brian menggenggam tangan mommy nya..
"Mommy... apakah mommy takut. Jangan khawatir mommy, Brian akan menjaga mommy, dan memastikan jika mommy akan baik-baik saja.." terlihat di wajah polosnya, anak kecil itu bertindak seperti pahlawan untuk mommy nya.
Mendengar perkataan putranya, Arine tersenyum kemudian menundukkan badannya ke bawah. Perempuan muda itu mengusap wajah putranya beberapa saat, kemudian memberikan ciuman di kening anak kecil itu.
"Brian sayang... apakah pernah mommy mengajarkan padamu, jika kita harus takut. Selama tidak ada kesalahan, dan kita dalam posisi benar, kita akan tetap tegap menghadapi semua kids..." perempuan itu memberikan nasehat pada putranya. Brian tersenyum manis, dan menganggukkan kepalanya ke bawah,
"Benar mommy..., kita segera masuk dan temui orang-orang yang sudah berani mempermasalahkan kita..." anak kecil itu segera menarik tangan mommy nya, dan mereka kemudian masuk ke dalam,
__ADS_1
Arine dan Brian segera memasuki kantor polisi. Banyak tatapan mata tertuju pada mereka, karena seorang gadis cantik tampak menggandeng seorang anak kecil yang lucu. Dalam pandangan orang-orang itu, mereka bukan terlihat seperti seorang mommy dan putranya, namun seperti seorang kakak yang sedang menggandeng tangan adiknya.
"Kak... mengisi buku tamu dulu ya.. Baru bisa masuk ke dalam..!" mungkin jealous karena Arine menjadi pusat perhatian, seorang polisi wanita sipil memberi tahu Arine dengan nada tidak mengenakkan.
Arine tidak menjawab, hanya tersenyum smirk, kemudian melangkah ke arah pengisian buku tamu. Untungnya pengisian dilakukan secara komputer, sehingga Arine tidak repot untuk menulis secara manual. Setelah beberapa saat, dan Arine kembali ke tempat Brian menunggu..
"Hempphh... menghadiri panggilan somasi saja bertingkah. Lurus, dan masuk ke arah kanan..." tidak diduga, masih dengan nada sinis dan tidak mengenakkan, polisi wanita tadi memberi arahan pada Arine,
"Hey nyonya... bisa tidak berbicara dengan halus, dan tersenyum dengan mommy. Nyonya ini bekerja pada layanan sipil, meskipun di dalam kantor polisi. Service excellent seharusnya yang Nyonya lakukan.." tidak disangka, Brian bereaksi keras. Anak kecil itu datang menghampiri perempuan itu, kemudian berbicara dengan nada lantang,
Orang-orang yang banyak menunggu dalam ruangan itu, melihat ke arah Brian. Tetapi mereka hanya senyum dan menganggukkan kepala, seakan memberikan dukungan pada anak kecil itu. Wajah polisi wanita yang terlihat dari name tag yang tergantung, bernama Rina itu merah padam. Perempuan itu mungkin tidak mengira akan mendapatkan pelajaran dari anak kecil itu.
"Brian sayang... mommy it.s okay. Tidak perlu kita membuang buang waktu sayang, kita masuk ke dalam. Terima kasih Miss Rina.." tidak mau menimbulkan keributan, dengan senyum manis dan sikap bermartabat, Arine menggandeng tangan Brian dan mengajaknya masuk ke dalam. Dengan sikap manis, Arine malah tersenyum dan berpamitan dengan perempuan yang memperlakukannya dengan tidak baik.
"Huuuuuu...." beberapa laki-laki yang tampak menunggu, tanpa dikomando malah menyoraki polisi wanita itu,
Dengan tatapan tidak suka, perempuan itu membalikkan badan dan masuk ke dalam ruangan,
***********
__ADS_1
Di dalam ruang interogasi...
"Apakah anda tahu mbak Arine... tuntutan yang dilayangkan pada anda, beserta putra anda..?? Putra anda mungkin akan mendapatkan pengampunan, karena masih di bawah umur. Tetapi sebagai pihat pengampunya, dan ketika kejadian anda bersamanya, maka anda bisa mendapatkan tuntutan tidak memberikan pengajaran dengan baik, pada seorang anak..." tampak pria berseragam, dan di sampingnya duduk laki-laki yang sepertinya pengacara, bertanya pada Arine.
"Hempphh.... aneh sekali hukum yang berlaku di negaraku ternyata. Beberapa tahun meninggalkan negara ini, aku harap perubahan baik yang terjadi, namun masih saja membela pihak yang mampu membayar banyak.." sambil tersenyum miris, Arine memberikan tangggapan,
"Hati-hati jika bicara mbak Arine... Anda bisa mendapatkan tuntutan tambahan atas kasus penghinaan..." tiba-tiba laki-laki berdasi ikut berbicara, dan menatap Arine dengan tajam.
"Lelucon apaan ini, beberapa orang mengintimidasi my momm... Bisakah menyampaikan dulu dengan jelas, tidak asal saling menyerang.." mendengar orang-orang tampak menyudutkan mommy nya, Brian berdiri dan bersuara,
Dari belakang punggungnya, Arine mengusap punggung atas Brian beberapa kali untuk mengendalikannya. Namun Arine tidak melakukan apapun, karena percaya dengan kemampuan putranya. Dengan sabar, perempuan itu membiarkan Brian berbicara.
"Mommy dan Brian yang direndahkan, dihina hanya karena ketidak sengajaan. Malah kami berdua yang dipanggil oleh pihak kepolisian.. Hukum apaan ini... Mommy, kita kembali ke Jepang saja mommy, negara ini tidak disiplin, dan sangat mudah menindas orang lain?" Brian melanjutkan kata-katanya.
"Lantang sekali bicaramu anak kecil... Sepertinya mommy mu tidak mengajarimu dengan baik, bagaimana bersopan santun, dan bicara dengan pihak yang lebih tua.. " laki-laki berdasi menanggapi perkataan Brian,
"Prok... prok... prok...., segera sampaikan pada kami. Untuk apa saya diundang datang ke kantor kepolisian, tidak masalah memperlihatkan sifat asli kalian, yang berada di belakang topeng jika kalian orang-orang yang bermartabat." mengetahui jika suasana dalam ruang sudah tidak kondisi, Arine bertepuk tangan.
Semua yang ada dalam ruangan, dua polisi dan dua dari pihak yang mengajukan tuntutan pada perempuan muda itu menatap ke arah Arine. Mereka tidak mengira, ternyata mereka merasa sedang berurusan dengan pihak yang salah...
__ADS_1
"Baiklah mbak Arine..., kendalikan dulu putramu. Kita duduk dengan tenang, dan pengacara dari Nona Stevia akan menyampaikan tuntutannya.." akhirnya begitu mendengar ketidak sukaan Arine, polisi kembali mengarahkan ke fokus pembicaraan mereka.
***********