One Night Incident

One Night Incident
Bab 27. Janji dengan Laboratorium


__ADS_3

Setelah bermain beberapa saat dengan tuan William dan nyonya Clara, Brian tampak kelelahan. Dan karena juga sudah merupakan jam tidur siang anak itu, Bramantya mengajak Brian untuk tidur di kamar. Anak itu memang selalu menurut pada Bram, dan tidak lama kemudian Brian sudah tertidur. Perlahan Bramantya memisahkan diri dari Brian, kemudian menghampiri papa dan mamanya yang menunggu di kursi tengah.


"Duduklah Bram,, ada yang ingin papa bicarakan denganmu.." tiba tiba tuan William meminta putra pertamanya untuk duduk.


"Ya pa...," tanpa membantah, anak muda itu kemudian duduk di depan papa dan mamanya.


Kedua orang tua itu tidak segera berbicara, tetapi terus memandangi wajah putra pertamanya, sampai Bramantya merasa serba salah.


"Ada apa ini ma.., pa... kenapa sepertinya jadi Bram yang saat ini mama dan papa adili.." merasa bingung dengan tatapan kedua orang tuanya, Bram jadi bertanya.


"Putraku... jawab dengan jujur, tidak ada yang perlu kamu tutupi dari kami Bram.. Katakan jika Brian adalah putra kandungmu, katakan pada kami. Papa dan mama akan menerima meskipun hal ini salah dalam keluarga kita, siapa mommy  dari Brian. Mama ingin menemuinya, dan melamarnya secara resmi untukmu.." tiba tiba nyonya Clara berbicara serius pada putranya.


Tuan William tidak berkomentar, tetapi ikut memperhatikan dan mendengarkan komunikasi itu. Mendengar arah pembicaraan mamanya, Bram merasa geli, dan laki-laki itu tersenyum.


"Ma.. pa..., mohon papa dan mama untuk percaya pada putra mama dan papa ini.. Tidak akan senista itu Bram, yang menghancurkan harapan seorang gadis. Meskipun Bram tahu, Arine mommy nya Brian selalu terlihat riang, kokoh, dan mandiri, tapi gadis itu pasti akan sering meratapi kehidupan dan nasib buruknya. Hanya karena Brian, gadis itu punya semangat lagi untuk menundukkan dunia pa, ma..." Bramantya memulai ceritanya tentang Arine..


"Jadi... siapa papa Brian..?" wajah nyonya Clara tiba tiba mengarah pada suaminya.

__ADS_1


"Lho.. lho.. lho, ada apa ini mam.. Kenapa ekspresi mamah berubah menjadi seperti itu melihat papa,.?" tuan William sontak kaget, karena merasa istrinya curiga kepadanya.


"Jika saja papa Brian itu ada, mungkin Bram tidak akan menjadi jatuh kasihan pada kehidupan mereka ma.. Sejak Arine hamil Brian.., dan menangis di bandara Soekarno Hatta, Bram sudah membantu sampai sekarang. Dan karena ingin agar Brian tumbuh wajar dan normal seperti anak anak lainnya, Bram pernah mengatakan untuk menikah dengan Arine.. Tapi Arine dengan tegas menolak Bram, dan malah mengatakan Bram gila.." teringat pembicaraan dengan Arine tadi malam, Bram tersenyum sendiri.


Tuan William dan nyonya Clara saling berpandangan, karena sedikitpun mereka tidak menemukan jika putranya telah berbohong pada mereka. Tapi kemudian...


"Apakah kamu bisa membawa mama untuk bertemu dengan Arine Bram.. " tiba tiba nyonya Clara bertanya pada putra pertamanya. Ada harapan dalam tatapan mata perempuan itu..


"Maksud mama..., apakah mama akan bertanya langsung pada Arine ma.. Jika iya, buang saja jauh jauh pikiran itu mah... Arine berbeda dengan gadis atau para perempuan lainnya. Arine akan bisa berkilah, dan menganggap masa bodoh semuanya, Jangan mah... please..." Bramantya mencoba menenangkan mamanya.


"Tapi kamu juga tidak bisa begitu egois pada mama Bram..., melihat bagaimana pembelaanmu pada gadis itu, apakah putra mama sudah bisa membuka hatinya lagi. Sepertinya kamu ada ketertarikan dengan gadis itu Bram.., katakan jujur pada mama.." Nyonya Clara terus mendesak.


"Katamu Arine, mommy Brian juga bekerja sebagai free lancer di Javanica. Aku akan mencari tahu sendiri Bram.." merasa tidak ada keputusan dari pembicaraan itu, akhirnya tuan William berpikir sendiri.,


**********


Di dalam kamar

__ADS_1


Nyonya Clara tampak mengusap pipi  dan rambut Brian yang tengah tertidur beberapa kali. Tampak kasih sayang terpancar dari tatapan matanya. Wajah Brian yang menggemaskan, putih, bersih mengingatkan perempuan itu pada kedua putranya ketika mereka masih kecil.


"Nak Brian... aku akan membantu mengorek dan menyelidiki siapa sebenarnya ayahmu. Meskipun kemungkinan itu kecil, Bramantya dan William punya kans besar untuk menjadi papamu yang sebenarnya. Tinggal dekat dengan mommy mu, bisa jadi William dan Arine melakukannya, tanpa mereka sadari, dan muncullah kamu.. Atau bisa juga, suamiku William, karena tadi aku dengan sendiri dari Bram, meski hanya sebagai free lancer, Arine juga bekerja di Javanica.." nyonya Clara berbicara sendiri,


Bramantya dan suaminya William kebetulan sedang berdiskusi di ruang kerja yang ada di Pant House, dan sejak tadi Clara berpamitan ingin menemani Brian. Perempuan paruh baya itu kembali mengusap lembut pipi Brian yang menggemaskan, dan semakin menatap, ada semacam magnet yang kuat pada diri Clara untuk memiliki anak itu.


Tanpa sadar.., tatapan nyonya Clara melihat ada rambut Brian yang terjatuh di atas bantal. Perlahan perempuan itu mengambil, dan melihatnya dengan lebih dekat.,


"Kenapa aku tidak mencocokkan DNA anak ini, dengan rambut papa dan Bramantya. Siapa tahu, memang salah satu dari mereka yang sudah berbohong kepadaku. Aku harus memeriksa dan mencari kebenarannya. Bukan untuk mengungkap, ataupun menjelekkan status Brian, tapi hanya untuk mencari kejelasan, agar semakin jelas masa depan anak ini.." tiba tiba muncul ide bagus dalam pikiran nyonya Clara.


Dengan hati hati, nyonya Clara membawa rambut Brian, kemudian memasukkan ke dalam dompetnya. Perempuan itu kemudian berdiri, dan berjalan menuju ke meja rias.. Di atas meja rias, perempuan itu mencoba menemukan sisir yang tadi digunakan suaminya untuk merapikan rambutnya. Senyuman muncul di bibir nyonya Clara, karena tanpa bersusah payah, akhirnya apa yang dicarinya di temukan juga.


Ketika memasukkan rambut suami dan rambut Brian, pandangan perempuan itu melihat foto Elmar ketika masih kecil. Perempuan itu menarik keluar foto itu, dan tersenyum ketika melihat wajah putranya saat dia kecil, sama persis dengan wajah Brian..


"Kalau dengan Elmar.., kemungkinan ini malah sepertinya tidak ada, karena Elmar jelas jelas di Jakarta, dan tidak pernah berkunjung ke Jepang.. Hanya kali ini saja, anak itu mau datang kesini, karena alasan memberi kejutan pada Bram untuk hari ulang tahunnya.." nyonya Clara berbicara sendiri.


Setelah meyakinkan keputusannya, perempuan itu kemudian menggulir ponsel, dan mengatur janji dengan laboratorium rumah sakit terkenal yang ada di Tokyo. Tidak lama, senyuman muncul di bibir nyonya Clara, yang menandakan jika janjian dengan orang laboratorioum sudah didapatkannya.

__ADS_1


*********


__ADS_2