
Malam harinya..
Karena mama dan papa Bramantya tidak mau ditinggalkan oleh Arine, laki-laki muda itu mencari alasan agar Brian bisa menginap dengannya di Tokyo. Kebetulan malam ini, laki-laki itu melakukan panggilan telpon pada Arine, berusaha untuk mendapatkan ijin, Mendengar permintaan Bram, sontak Arine merasa marah, karena merasa telah dibohongi oleh Bram. Arine sampai mengancam, untuk ke depannya tidak akan pernah mau memberi ijin pada laki-laki itu.
"Arine.. terus aku harus gimana, di cancel penerbangan tujuan Sapporo juga bukan kehendakku. Apakah kamu memberi kami ijin, kami akan pulang malam ini juga dengan perjalanan darat, kemudian ke Sapporo dengan kapal fery. Jika kamu memberikan ijin, kami akan berangkat, dan juga akan sampai ke kota itu dua hari lagi.." Bramantya berusaha meyakinkan Arine.
Tampak Arine terlihat berpikir, dan akhirnya..
"Okay.. okay Bram...., tapi ingat jaga baik baik Brian, jangan sampai terpengaruh hal hal buruk kehidupan malam di kota Tokyo. Jika kamu sampai berani untuk tidak memperhatikan pesanku, jangan salahkan jika aku akan menyusul dan menarikmu untuk kembali pulang.." Arine memberikan ancaman.
"Bisa dipastikan Arine.. sejak kapan kamu meragukanku. Harusnya kamu ikut bersama dengan kami, padahal kemarin aku tanpa sengaja melihat, kamu tampak bersikeras untuk jumpa off line dengan perusahaan yang menyewa jasamu di Tokyo. Ada baiknya kamu menyusul kesini Arine, jadi sekalian kita mengajak Brian jalan jalan, dan mengantarkan ke Disney land." laki-laki itu memang pintar mengambil hati.
"Hempphh... ide yang bagus sih Bram.., tapi coba nanti malam aku pikir pikir lagi, setelah mencoba untuk chat dengan asisten Anidzar.." Bramantya lagi lagi tersenyum, karena merasa pancingannya berhasil.
"Aku tunggu berita baiknya Arine, semoga kita bisa bertemu di kota Tokyo." dengan senang hati, Bramantya mengakhiri panggilan.
*********
Ketika Arine berangkat tidur, gadis itu terlihat gelisah. Kebiasaan menghabiskan waktu berdua dengan Brian setiap waktu, malam ini terasa ada yang hilang dengan tidak adanya Brian di sampingnya. Berkali kali gadis itu terbangun dari posisi tidur, dan untungnya ada chat masuk dari asisten Abidzar.
"Miss Arine... kebetulan tuan muda dan saya asisten Abidzar malam ini sudah berada di Tokyo. Jika miss Arine tidak keberatan, besok siang kita bisa bertemu di restaurant Gyopao Gyoza Roppongi. Kita akan banyak berbincang tentang rencana perusahaan ke depan.." Abidzar mengirim sebuah chat.
__ADS_1
"Baik Asisten Abidzar, kebetulan saya juga ada perlu di Tokyo, karena anak saya sudah berada di kota itu lebih dulu. Akan saya pastikan, saya akan sampai di restaurant secara on time.." tidak mau berpikir panjang, Arine segera mengiyakan.
"Baiklah Miss Arine... jumpa lagi besok siang di kota Tokyo. Selamat malam dan semoga mompi indah.." Abidzar mengakhiri chat.
"Terima kasih.."
Begitu selesai melakukan chatting dengan asistern Javanica Group, Arine tersenyum, dan kemudian mengirim chat pada Bramantya, untuk menunda tiket kepulangan laki-laki itu dan putranya ke Sapporo. Perlahan gadis itu kembali mengangkat tubuhnya dari atas ranjang, kemudian menata perlengkapan untuk dibawanya ke kota Tokyo keesokan paginya.
"Mungkin apa yang dikatakan Bram tentang Brian dan aku benar adanya. Aku sudah terlalu mengabaikan kebutuhan relaksasi untuk putraku. Hanya karena uang, dan uang, aku jarang mengajak Brian secara khusus berjalan jalan denganku. Mungkin besok, aku akan mengajak putraku ke Disney land, dan beberapa objek wisata di kota itu." sambil menyusun pakaian dan memasukkan ke travel bag, Arine berpikir sendiri.
Tidak lupa Arine juga menambahkan beberapa potong untuk pakaian putranya. Dalam melakukan pekerjaan sederhana ini, tidak tahu sebabnya hati Arine sangat ringan. Mungkin karena motivasi untuk menyenangkan putranya, sehingga tangannya tergerak ringan pula untuk melakukannya.
"Akhirnya kelar juga.. aku harus istirahat dulu, agar bisa melakukan perjalanan ke Sapporo agak pagi. Kebetulan ada flight pertama menuju ke Tokyo.." melihat angka jarum jam, Arine memtuskan untuk segera beristirahat. agar keesokan paginya tidak terlambat bangun,
********
Swimming pool hotel
Di pagi harinya, untuk mengisi waktu bermain, Bramantya mengajak Brian untuk berolah raga pagi, dan sekaligus akan melakukan sarapan bersama. Namun ketika Bram sedang melakukan olah raga gym, Brian minta ijin untuk main air di kolam renang. Karena sudah sangat paham dengan keamanan di hotel, dengan senang hati Bramantya mengijinkan Brian untuk berenang, dan akan menyusulnya jika sudah selesai melakukan gym.
"Hey Uncle... sedang berenang juga ya.." dengan sikap polosnya, Brian menyapa satu laki-laki muda.
__ADS_1
Melihat kelucuan anak itu, laki-laki dewasa yang disapa Brian tersenyum dan mengusap kepala anak kecil itu. Tapi tiba tiba saja, laki laki dewasa itu memperhatikan Brian dengan seksama, sampai anak kecil itu menjadi kurang nyaman.
"Uncle... kata mommy, tidak sopan menatap orang dengan tatapan seperti itu. Akan bisa menimbulkan multi tafsir, dan terkadang akan berakhir pada perselisihan. Apakah Uncle merasa ada yang aneh dengan Brian.." melihat tatapan tajam dan terkejut laki laki dewasa itu, dengan lucunya brian melakukan konfirmasi.
"He .., he.. he.. iya nak, siapa tadi namamu bocah, Brian ya... Uncle seperti pernah melihat dan tidak asing dengan wajahmu, makanya Uncle menatap seperti itu.." laki laki itu mencoba mengurangi kekurang nyamanan Brian.
"Uncle bisa saja..., Brian selama ini hanya berada di kota Sapporo di pulau Hokkaido paman.. Mommy jarang mengajak Brian keluar dari Sapporo. Untung saja papa besar kali ini mendapatkan ijin dari Mommy untuk membawa brian ke Tokyo. Dan ternyata, kota ini sangat indah..." tidak tahu mengapa, Brian merasa excited dan akrab dengan laki laki dewasa yang baru saja dikenalnya,
Demikian juga dengan laki laki itu, tanpa ragu dan sungkan menanggapi celoteh lucu dari Brian.
"Brian mau berenang ke tengah dengan Uncle tidak...? Jika mau, Uncle akan mengawasi dan memegangimu bocah.." tiba tiba laki laki itu menawarkan pada Brian.
"Really Uncle... Brian mau..." di luar dugaan, Brian merasa sangat senang.
"Ayolah..." akhirnya laki laki dewasa itu mengajak Brian berjalan dalam air yang lebih dalam, Setelah melihat Brian berenang mendahului, laki laki dewasa itu segera mengejar dan menjejeri posisi renangnya.
Tidak diduga, ternyata kekuatan dan kelincahan Brian melebihi usianya. Laki laki itu tampak kagum dengan kegesitan Brian.
"Orang tua ini bisa mengajari anak sekecil ini dengan sangat baik.. Tetapi kenapa ya, aku seperti merasa akrab dan ada keterikatan dengannya. Dan yang lagi... wajah bocah ini kenapa bisa sama dengan wajahku ketika seusia seperti ini. Aku baru saja teringat.." laki laki dewasa itu berpikir sendiri sambil berenang.
Beberapa kali, laki laki dewasa itu tersenyum dan mencuri pandang terhadap Brian, tanpa diketahui oleh anak kecil tersebut.
__ADS_1
**********