One Night Incident

One Night Incident
Bab 25. Kita Seperti Keluarga Sebenarnya


__ADS_3

Arine diam tidak memikirkan kata-kata dari Bramantya, karena gadis itu merasa akan bisa hidup berdua hanya dengan Brian putranya. Apalagi dari komunikasi terakhir dengan papanya, tuan Abraham sudah bisa menerima keadaan, dimana Arine melahirkan seorang bayi tanpa diketahui siapa papanya.. Hal itu yang menguatkan hati gadis itu untuk bertahan dalam kesendirian.


Di samping gadis itu, Bramantya ikut terdiam, ada perang batin dalam diri laki-laki itu. Namun laki-laki itu tidak mengatakan lebih lanjut apa yang sedang dipikirkannya. Tetapi, karena mereka berdua sudah berada dalam diam beberapa lama,..


"Jum.at besok aku akan pergi ke Tokyo.., Arine. Dan aku ijin untuk membawa Brian bersamaku, aku akan mengenalkan Brian pada papa, mama, dan juga adikku. Aku harap kamu tidak melarangku untuk membawa Brian bersamaku.." kata kata tegas laki-laki itu, tidak bisa ditolak.


"Jika Brian pergi, aku akan dengan siapa Bram.. Kamu kan tahu, jika hanya aku dan Brian saja yang tinggal di rumah ini.." secara tersembunyi, akhirnya gadis itu mengutarakan keberatannya.


"Jika kamu keberatan, atau kamu menemaniku juga ke Tokyo, dan akan aku kenalkan pada papa, mama serta adikku, tapi dengan status sebagai istriku. Jadi.. aku bisa menghindari perintah mama untuk menikahi gadis pilihannya.." Arine terkejut dengan ucapan laki-laki yang sudah seperti kakaknya sendiri.


"Dasar gila.." sahut Arine akhirnya.


"Ha.. ha.. ha.. jika aku gila, aku pasti akan menularkan kegilaanku pada putraku Brian.. Sudah, kamu tidak ada hak pilih, Brian akan ikut bersamaku. Kamu bisa gunakan waktumu untuk mencari pasangan, akan lebih mudah jika kamu dalam keadaan lajang.." tanpa memikirkan perasaan Arine, laki-laki itu terus nyerocos.


Bahkan ketika gadis itu memberinya tatapan tajam, laki-laki itu pura-pura tidak melihanya.. Dan yang membuat Arine tidak bisa marah, Bramantya telah menyinggung harga dirinya, namun Arine tidak bisa marah padanya.


"Bagaimana Arine.. apakah kamu memberiku ijin.." Bramantya kembali mengulang keinginannya.


"Boleh... asal jangan pertemukan Brian dengan Raffi. Aku sedang tidak ingin ada hubungan dengan laki-laki itu. Seperti anak kecil.." akhirnya ijin membawa Brian dikeluarkan juga dari bibir Arine.


"Uhuy... kamu memang adikku yang paling mengerti aku Rine.. Bagaimana dengan tawaranku membawamu, dan mengaku sebagai istriku.." Bramantya mulai berani menggoda.

__ADS_1


"Dasar gila... ogah. Aku tidak mau kena karma nantinya, berbohong pada orang tua..." Arine pura pura marah, kemudian mengalihkan kembali fokus perhatian pada layar laptop di depannya.


Bramantya ikut melihat sekilas apa yang dikerjakan oleh gadis itu, dan ketika melihat apa yang dikerjakan oleh Arine adalah perusahaan yang sangat dia kenal, laki-laki itu terdiam. Ingin rasanya Bram mengatakan, bagaimana hubungan dirinya dengan perusahaan tersebut. Tapi dari pada dikatakan gila, laki-laki itu memutuskan untuk diam, dan menunggu sampai gadis itu tahu dengan sendirinya.


"Arine,,, sebenarnya apa sih yang kamu kerjakan, bekerja tanpa status. Selalu membantu perusahaan perusahaan. Padahal dengan status free lance, ketika ada pemberian reward, kalian tidak akan mendapatkan apapun. Sedangkan jika kalian salah mengerjakan sesuatu, punishment pemecatan akan mengenaimu." tiba tiba Bram memprovokasi.


Gadis itu tersenyum, kemudian meletakkan mouse kembali dan melihat ke arah laki laki itu.


"Bram... kamu paham bukan bagaimana kebutuhanku. Aku tidak hanya butuh uang untuk saat ini, tapi juga butuh uang untuk masa depan Brian.. Saat ini yang aku butuhkan hanya cuan Bram.., cuan, cuan, dan cuan. Dan aku tidak butuh status.." jawab Arine datar, dan cukup membuat laki laki itu terkejut.


"Hempphh... kamu bisa mendapatkan cuan tanpa harus bekerja sekeras itu Arine.. Atau kamu bisa menikah denganku, aku akan cover semua kebutuhanmu dan Brian.. Bagaimana penawaranku..?" kali ini, Arine lah yang terkejut dengan ucapan laki laki itu.


"Jika kali ini, kamu masih berbicara gila padaku dan menggangguku bekerja, aku akan usir dirimu dari rumahku Bram.. Menyingkirlah.." dengan melotot, Arine mengusir laki laki itu.


***********


Tokyo...


Setelah mendapatkan ijin dari Arine, akhirnya Bramantya benar benar membawa Brian melakukan perjalanan ke Tokyo. karena baru pertama kalinya, anak kecil itu naik pesawat, sepanjang perjalanan banyak sekali pertanyaan muncul darinya. Dengan sabar, Bramantya meladeni pertanyaan itu, dan menjelaskan dengan detail, untuk tidak menyesatkan anak itu.


Kali ini, dua orang itu, seorang laki-laki dewasa dan seorang anak kecil bergandengan tangan memasuki lobby sebuah hotel terkenal dan termegah di kota Tokyo. Ketika mereka melewati orang orang, banyak tatapan kagum terarah pada mereka, dan keduanya cuek saja, bahkan Bramantya sedikitpun tidak merasa risi ataupun malu.

__ADS_1


"Papa besar... sebenarnya papa mengajak Brian ke hotel ini, apakah ingin mengajak brian menginap disini pa.. Ataukah hanya untuk bertemu dengan orang orang..?" dengan polosnya, Brian bertanya pada papanya.


"Sekarang papa balik bertanya. Jika papa besar menawarkan padamu, apakah Brian akan suka, jika papa besar ajak untuk menginap di sini.." Bramantya mencoba menguji kecerdasan anak itu.


"Mmppphhh... tentu saja akan sangat senang sekali papa..., baru kali ini Brian bisa masuk ke hotel sebesar ini. Tentu akan sangat menyenangkan berada di sini, lihat itu kolam renangnya pa.., sangat besar. Hanya saja.. sayang pa.." tiba tiba anak kecil itu tidak meneruskan kalimatnya.


Bramantya merasa penasaran dengan arah pembicaraan Brian.., dan laki-laki itu mengejar pertanyaan untuk mencari tahu kelanjutannya..


"Hanya kenapa Brian... Masak bicaranya terpotong.."


"Hanya saja, mommy tidak ikut ke tempat ini pap... Pasti mommy akan merasa senang juga, jika berada di tempat ini juga. Jadi ada mommy, ada papa besar, dan juga ada Brian.. Kita seperti sebuah keluarga yang lengkap dan besar.." tidak tahu mengapa, mendengar perkataan Brian, hati Bramantya merasa ikut trenyuh.


Brian anak yang tumbuh cerdas, dan terpenuhi semua keperluannya. Namun anak ini mmebutuhkan kasih sayang dari seorang papa, yang betul betul menyayanginya. Sedangkan, dari cerita Arine, gadis itu sendiri yang pernah menolak Raffi, padahal laki laki itu yang pernah menjalin hubungan percintaan dengannya. Beberapa waktu lalu, Bramantya ada harapan untuk kembali menyatukan kedua orang itu. Tapi tadi malam, laki-laki itu mendengar sendiri bagaimana Arine menolak Raffi..


"Brian... apakah Brian mau menelpon mommy sekarang nak.. Brian bisa melakukan video call, dan mengatakan I miss you mommy..." dengan cepat Bramantya berusaha menyenangkan anak ini.


"Mau pap... Brian mau video call dengan mommy..." begitu Bram melihat keseriusan dan keinginan Brian, laki-laki itu segera menekan video call dengan Arine. Tidak lama kemudian.., panggilan itu akhirnya tersambung.


"Mommy.... Brian dan papa besar di tempat ini momm... Tempatnya sangat indah dan megah... Kata papa besar, kapan kapan papa besar akan membawa mommy dan Brian untuk menginap di tempat ini mom... Mommy mau ya.., biar kita seperti sebuah keluarga yang lengkap momm..." dengan comelnya, Brian memamerkan hotel tempatnya berada saat ini.


"Okay Brian... mommy bersedia. Baik baik di sana dengan papa besar ya nak.., jangan lakukan kesalahan, kasihan papa besar.." dengan rasa sesak di dada, Arine menjawab ucapan putranya.

__ADS_1


Dari belakang Brian, Bramantya ikut tersenyum dan melambai lambaikan tangannya. Melihat pemandangan itu, tiba tiba saja Arine merasa terkejut.


***********


__ADS_2