One Night Incident

One Night Incident
Bab 44. Konflik Kecil


__ADS_3

Mendengar perkataan laki laki yang belum lama mengenalnya, tidak membuat Arine melambung tinggi harapannya. Gadis itu malah mendorong dada Elmar agar menjauh darinya.. Gadis itu segera mengambil tas tangan, dan akan bergegas keluar dari dalam kamar untuk menyusul putranya. Elmar tidak tinggal diam, dengan cepat laki laki itu berusaha menahan gadis itu lebih lama..


"Kak Elmar... menjauhlah dariku.. Kata kata kak Elmar barusan terdengar indah bagi perempuan lain, tapi sangat memuakkan untuk gadis kotor sepertiku kak..." ucapan Arine seakan menampar wajah Elmar, dan saat itu juga laki laki itu ingin mengatakan siapa dia sejujurnya. Namun,, untungnya laki laki itu masih bisa bertahan.


"Stop ucapanmu Arine... semua yang pernah terjadi di masa lalumu, bukan merupakan sesuatu yang kotor, Itu murni accident, dan kamu masih menjaga kemurnian Brian, itu sesuatu yang luar biasa. Aku melamarmu dengan tulus Arine, dan bersedia untuk bersama sama saling membenahi diri, karena akupun juga laki laki kotor sepertimu.." Elmar berusaha meyakinkan gadis itu.


Tapi bukannya tunduk dan lunak akan pesona laki laki tampan di depannya itu, Arine malah tersenyum dan menatap mata Elmar di depannya.


"Kasihan Brian kak, anak itu pasti sudah menunggu kita. Dan jika kak Elmar mau mendengarkan permintaan Arine, pulanglah setelah kita makan pagi bersama. Jangan berikan harapan yang tinggi untuk putraku, karena akan lebih sakit untuk Brian, jika anak itu jatuh dari ketinggian.." bukannya memberikan tanggapan atas kata kata Elmar, Arine malah mengajak laki laki itu untuk pergi ke restaurant.


Elmar mengambil nafas dalam, dan akhirnya laki laki itu menunda untuk mengutarakan apa yang ingin diucapkannya.


"Baiklah Arine... demi putra kita Brian.. kita tidak boleh mengabaikannya.." akhirnya Elmar memutuskan untuk mengalah. Laki-laki itu menahan kesabarannya.


Arine berjalan lebih dahulu daripada laki laki itu, dan setelah menutup pintu kamar, Elmar bergegas menyusul Arine yang sudah sampai lebih dulu di depan pintu lift. Kedua orang itu dalam diam, masuk ke dalam lift, sampai lift itu turun di lantai dua, tempat restaurant hotel berada.


**********


Restaurant...


Karena masih pagi, suasana restaurant hotel terlihat ramai. Tetapi untungnya Brian sudah memblok meja dan kursi untuk mereka berempat, tapi sengaja meminta bantuan pelayan restaurant untuk memindahkan satu kursi ke tempat lain. Jadilah.,, Elmar dan Arine akhirnya duduk saling berdampingan, sedangkan Brian duduk di depan kedua orang itu.


"Mommy... bukannya mommy sangat menyukai pancake dengan sirup maple.. Brian sudah menyiapkan untuk mommy..." dengan gemasnya, Brian menawarkan makanan untuk Arine.


"Terima kasih sayang, Brian memang putra mommy yang menggemaskan.." tanpa pikir panjang, Arine segera mengangkat piring kecil berisi pancake, kemudian langsung mencicipinya.

__ADS_1


"Aku akan mengambil hot coffee, apakah kamu membutuhkan juga Arine.." tiba tiba Elmar berdiri, dan menawarkan diri untuk mengambilkan kopi untuk mommy Brian.


"Jika tidak merepotkan .., boleh.."


Elmar segera bergegas menuju ke arah pembuatan kopi. Laki laki membuat dua cangkir hot coffee, kemudian mengantarkan ke meja mereka.


"Daddy... Brian akan mengambil sandwich tuna, daddy mau juga bukan.." sepeti mengetahui jika daddy nya ingin selalu berdekatan dengan mommy, Brian menawarkan diri untuk melayani papanya.


"Brian memang paling tahu selera daddy nya.." reflek, Elmar mengusap kepala anak kecil itu.


Brian segera berjalan meninggalkan mommy dan daddy nya. Arine masih terlihat menghabiskan pancake, dan sesekali menyesap kopi yang dibuatkan oleh Elmar. Keduanya menikmati minuman dalam diam, dan karena kejadian  di kamar hotel barusan, membuat sikap Arine agak kagok. Tiba tiba tangan Elmar terulur ke piring kecil di depan Arine, dan laki laki itu mengambil pancake dengan tangannya langsung, kemudian langsung memasukkan ke mulutnya.


"Ada garpu yang belum dipakai itu kak.." Arine berusaha mengingatkan laki laki itu..


"Tidak perlu Arine... pancake ini terasa lebih manis, karena sisa dari seorang gadis manis.." mendengar ucapan ngaco dari laki laki itu, Arine melengos. Tapi tanpa disadarinya, pipi Arine memerah karena merasa malu.


"Terima kasih kak.." begitu pelayan hotel meletakkan sandwich di atas meja, Brian dengan polosnya mengucapkan terima kasih. Elmar dan Arine hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala ke bawah.


"Mommy..., daddy... pagi ini Brian merasa seperti bermimpi. Karena sejak kemarin sore, Brian merasa seperti memiliki keluarga yang lengkap, sama seperti teman teman sekolah Brian yang lain. Ada daddy, ada mommy, dan juga ada Brian.." sambil memasukkan potongan sandwich di mulutnya, Brian mengejutkan Arine.


Gadis itu sampai hampir tersedak mendengar perkataan putranya, dan dengan sigap Elmar mengambil air mineral, dan memberikannya pada Arine. Tanpa banyak bicara, Arine segera mengambil gelas itu, kemudian meminum air di dalamnya sampai tandas tidak tersisa.


"Hati hati Arine... meskipun sambil bercanda, aku juga bahagia mendengarnya.." sambil mendekatkan kepala ke sisi kepala Arine, Elmar berbicara dengan lirih.


"Mmpphh... jangan terlalu banyak bermimpi.." dengan tetap melanjutkan makan, Arine membalas ucapan Elmar dengan telak.

__ADS_1


Di depan Brian, dua orang dewasa itu saling berbisik. Tanpa mereka tahu, sikap dan perilaku mereka diamati oleh Brian..


"Drttt... drtt..." tiba tiba ponsel Elmar berbunyi, dan laki laki itu mengabaikannya.


Tetapi tidak lama kemudian, bunyi getaran ponsel itu kembali terdengar.


"Tidak masalah kak, angkat saja ponselnya. Siapa tahu, istri kak Elmar di rumah sedang mencari suaminya.." entah tulus atau hanya sekedar meledek, Arine meminta laki laki itu menerima panggilan masuk itu.+


Sambil tersenyum, Elmar mengambil ponsel dan melihat siapa yang melakukan panggilan. terlihat ada nama kakak kandungnya Bram, yang sedang melakukan panggilan kepadanya.


"Aku akan menerima panggilan dari Bram sebentar.." Elmar seperti menegaskan ketika menyebut nama Bram di depan Arine. Gadis itu hanya tersenyum, dan melanjutkan sarapan paginya.


"Hempph... ada apa Bram menelponku..?" Elmar bertanya pada kakaknya.


"Kamu ada dimana ELmar... kembalilah ke Pant House secepatnya. Mama dan papa sedang ribut, dan aku tidak bisa membantu untuk melerai mereka. Mama menangis sejak tadi, dan papa bingung karena merasa tidak bersalah.." terdengar Bram menceritakan apa yang terjadi.


"Sebentar... ada masalah apa sebenarnya antara mereka." sebelum memutuskan untuk pulang, Elmar berusaha mencari tahu permasalahan yang terjadi.


"Apa lagi, jika tidak terkait dengan hasil pemeriksaan DNA kemarin siang. Cepatlah kembali Elmar, jangan banyak bicara.." Bram langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Dan Elmar terdiam beberapa saat, tetapi untungnya memori laki laki itu kemudian kembali bekerja...


"Kunci permasalahan mereka ada padaku.. Aku harus segera kembali ke pant house.." Elmar segera menyimpan kembali ponsel, dan kembali ke tempat Brian dan Arine duduk.


"Brian... Arine, ada konflik kecil di keluargaku sekarang. Aku akan kembali ke Pant House sekarang juga, tapi kalian berdua jangan pergi kemana mana, aku akan ke hotel ini secepatnya.." laki laki itu segera berpamitan pada Brian dan Arine.

__ADS_1


Arine tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Brian juga hanya menganggukkan kepala, dan menatap daddy nya. Elmar mendekati Brian, dan memberikan kecupan di kening anak itu. Ketika Elmar akan melakukan hal yang sama pada Arine, dengan sigap gadis itu menghalangi kening dengan lengannya.


**************


__ADS_2