
Mata Elmar yang merah menahan marah, memindai dua wajah polisi yang mendadak merasa dingin di sekujur tubuhnya. Sebagai pengusaha muda, dimana perusahaannya masuk dalam jajaran konglomerasi di Indonesia, tentu saja wajah laki-laki muda itu cukup famous. Dua polisi itu tidak menyangka, jika akan berurusan dengan pengusaha muda tersebut.
"Maaf Tuan muda Elmar... kami hanya ingin konfirmasi apakah mobil Tuan muda mengalami kendala, sehingga harus berhenti di jalan seperti ini.." polisi yang semula berniat untuk memberikan kartu tilang, mendadak berubah seperti Santa Claus
"Apakah aku begitu percaya pada kalian, dan juga kurang memiliki pengawal yang cukup, sehingga mobilku harus mogok di jalan seperti ini.." masih dengan tatapan tajam, suara kejam dan berat Elmar sangat mendominasi.
"Baik... baiklah Tuan muda Elmar.. Silakan lanjutkan aktivitas tuan muda, kami benar-benar hanya ingin konfirmasi saja. Jika membutuhkan bantuan apapun, jangan segan untuk menghubungi kami.. Permisi..." merasa serba salah, dan kehilangan kesadaran, dua polisi segera mundur dan kembali ke sepeda motor mereka.
Elmar segera menaikkan kaca mobil, dan duduk di sampingnya Arine yang merasa malu karena khawatir jika aktivitas terakhirnya dengan Elmar, diketahui dua polisi itu menangkupkan kedua telapak tangan di atas wajahnya.
"Honey... kenapa kamu harus malu seperti ini. Anggap saja ada intermezo barusan..." Elmar yang mengetahui apa yang dilakukan istrinya, tersenyum manis dan membuka kedua telapak tangan Arine. Nada dingin dan tegas yang tadi diucapkan pada kedua polisi itu, mendadak hilang. Dengan wajah penuh senyuman, laki-laki muda itu menjadi seperti Bucin di depan istrinya,
"Lanjutkan perjalanan kak, kita yang salah. Tetapi malah kak Elmar menyalahkan dua polisi tadi, tidak gentle itu namanya.." sambil menahan malu, dengan pipi bersemburat merah, Arine tidak berani menatap mata suaminya secara langsung.
"Wajahmu menggemaskan honey, dengan pipi merah seperti buah peach. Membuat suamimu ini harus segera mereguk manis buahnya..." tiba-tiba Elmar mendekatkan wajahnya ke wajah Arine, dan berbisik lembut di telinga gadis itu.
Mendapat bisikan langsung di telinga, kembali Arine merasa seperti kesetrum. Sesaat gadis itu kembali seperti kehilangan keseimbangan, dan tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Tetapi ketika bibir suaminya kembali akan mengeksplor bibirnya, gadis itu menjadi siaga. Dengan sigap, Arine mendorong dada suaminya ke belakang, dan...
"Mmmppph... kak Elmar.., jujur kak, Arine malu. Kita melakukan hal ini sejak tadi di jalan ramai, pantas bukan jika dua polisi itu menghampiri kita. Ayolah kak, please jangan lakukan di tempat inilah... kita mengganggu lalu lintas kak.." menyadari dimana posisi mereka saat ini berada, Arine mencoba mengalihkan suaminya,
__ADS_1
"Pesona istriku terlalu menggai**rahkan\, sehingga suamimu ini tidak mampu menahan ha**srat untuk menyatu denganmu honey... " laki-laki itu tetap tidak mau memundurkan tubuhnya.
"Ayolah kak... please.., jangan biarkan istri kak Elmar ini tidak memiliki muka. Arine janji deh, akan menuruti semua kemauan kak Elmar, tapi janganlah di tempat ini.." merasa tidak bisa menggoyahkan suaminya, dengan puppy eyes, Arine membuat permohonan pada laki-laki muda itu.
"Cup..., aku tidak tega untuk memaksamu di tempat ini honey.. Ingat, turuti kata-kataku, seperti janjimu barusan.." mendengar ucapan janji istrinya, Elmar kemudian memberikan kecupan di bibir istrinya.
Sebelum lidah Elmar kembali mengeksplore bibir dan membuatnya terlena, Arine menutup rapat bibir, sehingga mau tidak mau Elmar kembali menarik bibirnya. Dengan wajah kecewa, akhirnya Elmar kembali memposisikan dirinya sebagai driver. Laki-laki itu menegakkan kembali sandaran kursi, dan perlahan mobil berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut. Arine tersenyum melihat Elmar tampak kecewa, dan untuk menetralisir suasana Arine menyandarkan kepala di bahu kiri laki-laki itu.
***********
Rumah Sakit
"Ini akibat dari hasutan mama, yang selalu berusaha untuk mendekatkan Stevia dengan putra William. Sadarkah kamu sekarang, setelah melihat putri kita seperti ini..." menarik tangan istrinya untuk keluar dari kamar inap Stevia, tuan Edward menyemprot istrinya.
"Bukan begitu pa... kan papa juga lihat sendiri bukan, bagaimana bahagia dan berbinarnya wajah Stevia, ketika berjumpa dengan Elmar.. Papa seharusnya ikut mendukung, tidak malah menyalahkan mama seperti ini..." nyonya Edward tidak mau kalah, perempuan itu tidak mau disalahkan.
"Aku tidak mau tahu..., malam ini juga aku sudah membuat pengaturan. Papa sudah menyuruh orang-orang papa untuk menyiapkan pesawat pribadi. Malam ini juga, kita akan pindah ke Canada.. Tidak ada untungnya tetap bertahan di Jakarta, karena yang jadi Stevia semakin tidak akan bisa melupakan Elmar." tetapi sepertinya tuan Edward sudah tidak bisa diajak untuk bicara.
Mendengar hal itu, nyonya Edward hanya tertunduk diam. Perempuan sosialita itu tahu jika suaminya sudah marah, maka tidak akan ada yang bisa melunakkan hatinya. Hanya diam, dan menunggu sampai kemarahan itu hilang, maka suaminya baru akan bicara dengan sendirinya, Setelah beberapa saat...
__ADS_1
"Apakah kamu tidak mendengar kata-kataku lagi ma...?? Apa yang tadi aku perintahkan, segera persiapkan semuanya. Bawa perlengkapan dan barang yang penting saja, selebihnya nantiĀ bisa dikirimkan oleh orang-orang papa.." melihat istrinya diam, Tuan Edward kembali mengingatkan perempuan itu.
"Iya... iya... pa.." perempuan itu kemudian membalikkan badan, dan kembali masuk ke dalam kamar.
Tuan Edward tetap bertahan di luar ruangan, dan laki-laki itu mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Tidak lama kemudian, terlihat laki-laki itu tengah menerima panggilan..
"Persiapkan semuanya, juga peralatan kesehatan untuk membawa putriku. Aku tidak mau mendengar, ada fasilitas yang tidak bisa disiapkan dan dimasukkan dalam pesawat.." dengan wajah tidak enak, terdengar tuan Edward memberikan perintah pada anak buahnya,
"Siap tuan Edward... akan segera kami kondisikan semuanya.." tanpa banyak menimbang, orang-orang suruhan itu menyanggupi perintahnya,
Setelah mendengar kesanggupan orang-orangnya, tuan Edward masih diam terpaku di luar kamar perawatan Stevia. Laki-laki itu terlihat mengambil nafas panjang, kemudian membalikkan badan dan masuk ke kamar perawatan. Terlihat nyonya Edward tampak sedang berkemas, dibantu ART keluarga mereka. Sedangkan Stevia, masih tertidur di atas ranjang rumah sakit.
"Pa..., bagaimana nanti jika Stevia menolak untuk diajak pergi..?" tiba-tiba nyonya Edward menghentikan aktivitasnya, dan berjalan ke arah suaminya.
"Banyak acara.. Papa sudah memerintahkan pada tenaga kesehatan untuk menyuntikkan obat penenang di waktu sore, sehingga Stevia tidak sadar ketika membawanya pergi.." seperti tidak ada beban, tuan Edward langsung memberikan tanggapan.
"Oh begitu ya pa..." dengan ekspresi kurang suka, nyonya Edward melihat ke arah suaminya. Tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.
*************
__ADS_1