One Night Incident

One Night Incident
BAB 50. Tiba-tiba Menghilang


__ADS_3

Keesokan Paginya...


Pada pukul sembilan a.m, sekalian berolah raga pagi, Bramantya sengaja berkunjung ke rumah Arine dan Brian. Beberapa hari ini, laki laki itu sengaja memberi waktu pada Elmar untuk mendekati Arine, tapi menurutnya Elmar tidak berhasil meluluhkan hati gadis itu. Beberapa meter dari halamam rumah Arine, Bramantya mengerutkan kening, karena rumah gadis itu terlihat sepi, semua pintu dan jendela masih tertutup rapat.


"Tumben sekali, biasanya tidak seperti itu. Meskipun Arine mengajak Brian ke pasar, biasanya jendela tetap dibiarkan terbuka untuk ventilasi udara segar.." Bram bertanya tanya pada dirinya sendiri.


"Aku akan melihatnya langsung saja, siapa tahu mereka masih tertidur karena terlalu lelah. Baru dua hari sampai kembali ke rumah ini, mungkin banyak aktivitas yang mereka lakukan.." kurang mempercayai penglihatannya, Bramantya tetap memasuki halaman, dan naik ke atas teras.


"Mmmppphh... tapi sepi sih, seperti tidak terdengar ada orang di dalam." laki laki itu kembali bimbang.


Perlahan untuk memastikan dirinya, Bram menekan bel pintu. Beberapa saat laki laki itu masih menunggu, dan karena tidak ada pergerakan apapun, Bram melakukannya lagi sampai tiga kali..


"Ternyata Brian dan Arine memang tidak ada di rumah. Ataukah mereka masih di pasar...?? Tapi.., Elmar mengatakan, mereka sudah ke pasar hari kemarin. Jadi.." Bram tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Tidak mau terlalu lama menghabiskan waktu hanya berdiri dan menunggu, Bram meraih ponsel yang disimpan di saku jaket yang dikenakannya. Perlahan Bram menggulir nomor ponsel Arine, dan melakukan panggilan keluar kepadanya. Beberapa saat tidak ada suara panggilan tersambung, dan laki laki itu kembali mengulanginya...


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan. Tinggalkan pesan, atau menghubungi nomor ini beberapa saat lagi..." jawaban otomatis dari perangkat provider memberi kejelasan pada laki laki itu.


"Ponselnya sedang tidak aktif, ada dimana kamu Arine..." mendadak Bram menjadi panik, dan menghubungkan dengan keadaan yang dialami adik kandungnya.


Pikiran adanya pertengkaran antara Arine dan Elmar terbayang di dalam pikiran laki laki itu. Tiba tiba saja, Bram merasa bersalah, jika hal itu benar benar terjadi. Laki laki itu diam, dan terduduk di teras perempuan itu. Dari jalan masuk menuju ke rumah Arine... terlihat Elmar yang juga akan mengunjungi rumah gadis itu. Di tangan Elmar, ada sebuah buket mawar merah dan lily putih, terlihat sangat indah di pandangan.

__ADS_1


"Untuk apa kamu datang kesini Elmar... semua sudah terlambat..." tanpa menjelaskan duduk perkaranya, Bramantya berbicara ketus pada adik kandungnya.


"What you say... Bram...?? Apa maksud perkataanmu, dan untuk apa pagi pagi kamu sudah berada di depan rumah Arine. Apakah kamu akan mendahuluiku, untuk mendapatkan perhatian dari  Arine.." Elmar merasa tersinggung dengan ucapan kakaknya.


"Plak...." tamparan keras bersarang di rahang Elmar.


"What....??? Apa yang kamu lakukan kepadaku Bram.. Apakah dengan cara ini, kamu menunjukkan rasa bersaing untuk mendapatkan Arine.,?" Elmar bertambah marah. Laki laki itu mencengkeram leher kakak kandungnya, dan untung saja kesadaran menghampiri laki laki itu, Dengan kesal, Elmar melepaskan cekalan di leher kakaknya, kemudian membanting tangan kanannya ke bawah.


Bramantya membiarkan Elmar yang berjalan naik ke atas teras. Laki laki itu menekan bel pintu beberapa kali, namun tidak terdengar ada jawaban dari dalam rumah. Beberapa saat, rupanya Elmar baru tersadar, dan laki laki itu berjalan kembali menghampiri kakaknya...


"Dimana Brian dan Arine... Bram..?? Katakan padaku, dimana mereka..." dengan suara tinggi,. Elmar mencari tahu keberadaan putra dan mommy anak itu.


Bramantya terdiam, tidak memberikan jawaban pada Elmar. Laki laki itu malah mengalihkan pandangan ke tempat lain.., terkesan mengabaikan pertanyaan itu.


"Aku tidak tahu Elmar... aku datang, mereka sudah tidak ada di rumah..." Bram berucap lirih,,


"Brakkk...." tendangan kaki Elmar tiba tiba terarah ke pintu, dan pintu masuk rumah Arine tiba tiba terbuka.


Elmar diikuti Bram kemudian merangsek masuk ke dalam, namun mereka tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Bramantya yang lebih menguasai isi rumah itu, segera masuk ke tempat penyimpanan pakaian Arine dan Brian, dan mendapati jika trolly bag mereka juga tidak ada..


"Mereka sudah pergi Elmar... tapi aku tidak tahu kemana tujuan mereka..." tiba tiba Bramantya merasa lemas, dan memberi tahu adik kandungnya.

__ADS_1


"Apa katamu Bram..?" Elmar merasa tidak percaya, dengan perkataan yang diucapkan kakaknya.


"Lihatlah... trolly bag yang sering digunakan Arine dan Brian juga sudah tidak ada. Aku juga tidak melihat ada laptop di ruang kerja Arine.. Hal itu menandakan jika mereka pergi jauh, dan untuk jangka waktu yang tidak kita ketahui..." dengan tubuh lunglai, Bramantya menjelaskan pada adiknya.


Elmar terdiam, dan laki laki itu jatuh terduduk ke bawah. Terbayang bagaimana terakhir kali mereka berinteraksi. Arine merasa marah dengan sikap kepemilikan yang ditunjukkan Elmar kepadanya, karena merasa jika laki laki itu hanya mempermainkannya. Dan Brian.. yang sudah berjanji untuk memberikan  dukungan kepadanya, kemarin pagi beralih mendukung mommy nya..


"Arine ... aku tidak menyangka, kemarin pagi adalah pertemuan kita yang terakhir kalinya honey.. Aku merindukanmu Arine... aku mencintaimu.." bibir Elmar mendesis, memanggil nama Arine berkali kali.


Bramantya tidak bisa menenangkan hati adik kandungnya, karena dirinya juga merasa kehilangan atas perginya Arine dan Brian.. Sejak kehamilan awal Arine, melahirkan, sampai Brian berusia tiga tahun lebih, Bram merasa mendampingi Arine, sehingga ada chemistry dan hubungan emosional di antara mereka. Begitu mengetahui mereka pergi tanpa kata, dan tidak ada kata pamit padanya, laki laki itu betul betul merasa kehilangan.


"Bram... bantu aku. Hubungi Abidzar untuk melacak penerbangan dari Sapporo dengan tujuan ke kota lainnya. Aku akan mencari tahu sendiri dengan caraku, dan aku juga tidak akan peduli apapun, Begitu aku menemukan Arine, aku akan memberi tahu hubungan kita sebenarnya, dan aku akan membawanya ke pelaminan secepatnya.." tiba tiba Elmar berbicara dengan suara keras, membuat pengaturan.


Tidak berpikir bagaimana adik kandungnya itu sudah membuat kesal, Bramantya segera melaksanakan apa yang sudah diatur oleh Elmar. Bram melihat sendiri, bagaimana Elmar pergi meninggalkannya sendiri di dalam rumah Arine, dan dia masih menunggu panggilan pada Abidzar tersambung.


"Abidzar... lacak segera penerbangan dari kota Sapporo ke kota kota lainnya. Lakukan pencarian, apakah ada penumpang bernama Arine dan Brian pagi ini..." begitu panggilan tersambung, tanpa basa basi, Bram langsung memberikan perintah.


"Arine... Brian..., apa yang terjadi dengan mereka tuan muda pertama..." Abidzar terlihat bingung.


"Tidak perlu banyak bertanya Abidzar, ini hal yang sangat penting. Segera selidiki, dan hasilnya akan membuat kejelasan..." dengan nada tinggi, Bram menegaskan pada Abidzar.


"Ba.. baik Tuan muda pertama.." akhirnya Abidzar mengiyakan perintah yang masuk padanya itu.

__ADS_1


************


__ADS_2