One Night Incident

One Night Incident
Bab 71 Kamu adalah Candu


__ADS_3

Ketika rombongan Elmar sudah keluar dari kamar Tuan Abraham, nyonya Clara terus menggandeng tangan Arine. Bahkan Elmar tidak memiliki kesempatan untuk mendekat pada calon istrinya. Bramantya yang berjalan dengan Brian, hanya senyum senyum memperolok adik kandungnya itu.


"Nak Arine... kita pulang ke mansion. Mama dan papa sudah menganggapmu sebagai menantu dalam keluarga William, dan kebetulan malam ini papa akan kembali dari Dubai. Bram sudah berjanji akan mengajak Brian untuk menjemput opanya di airport..." tiba-tiba nyonya Clara mengajak Arine.


Gadis itu terkejut, meskipun keluarga Elmar baik padanya, namun hatinya tidak menginginkan dirinya berkumpul dalam satu rumah dengan keluarga itu, karena memang belum ada status resmi antara dirinya dengan Elmar. Tetapi Arine juga tidak tega untuk menolak, karena khawatir menyakiti perasaan perempuan paruh baya itu.


"Arine ... mama bertanya padamu honey..." dari belakangnya, Elmar mengingatkan gadis itu.


"Mmppphhh iya kak, Arine sedang berpikir. Begini ma.., meskipun Arine dan Brian sudah lama tinggal di Jepang, tetapi Arine masih menggunakan tata krama orang Indonesia. Jadi... sebelum ada pernikahan antara Arine dan kak Elmar.., mohon maaf ma.., Arine belum bisa tinggal bersama dalam satu rumah dengan kak Elmar.." sambil melirik ke arah Elmar, Arine akhirnya memberikan tanggapan.


"Kenapa begitu cantik... kan mama juga papa William sudah memberikan restu untuk kalian. Tadi juga papamu pak Abraham juga sudah merestui kalian, bukankah itu sama saja..." tetapi nyonya Clara tidak berhenti sampai disitu. Perempuan itu terus mendesak.


"Apakah kamu tidak melihat begitu khawatirnya mama honey...? Toh, kamu dan Brian hanya tinggal di rumah, kami tidak akan mengganggumu.." Elmar ikut bicara, tetapi Bramantya hanya diam saja.


Laki-laki itu tahu bagaimana sikap Arine, jika sudah memiliki keinginan, atau meyakini sesuatu, maka tidak akan mudah untuk digoyahkan. Dirinya dulu bisa dengan bebas, terkadang menginap di rumah Arine, karena mereka pure hanya berteman, tidak sedang dalam satu hubungan. Lagian ada Brian, yang menjadi satu orang lagi diantara mereka. Namun, untuk kali ini sepertinya sulit untuk membawa Arine menginap di mansion, sebelum ada pernikahan antara Elmar dan gadis itu.


"Oma... daddy.., jangan paksa mommy... Biarkan untuk malam ini mommy kembali ke hotel, dan jika oma terus memaksa mommy, maka Brian akan cancel untuk ikut menjemput opa di airport..." tiba-tiba suara Brian terdengar membela mommy nya.

__ADS_1


Mendengar suara Brian, Elmar terlihat malu pada putra kecilnya. Tetapi keinginan untuk melindungi Arine dan Brian sangat tinggi, dan tidak mudah bagi laki-laki itu untuk begitu saja melepaskan mereka. terlalu berbahaya bagi Arine tinggal sendiri di hotel, apalagi posisi Arine sedang memiliki hubungan yang tidak baik dengan mama tiri, dan juga adik tirinya.


"Mama dan kak Bram pulang saja... Elmar akan mengantarkan Arine ke hotel dulu. Tetapi untuk mengambil semua baju dan perlengkapannya, karena malam ini juga Arine harus tidur di hotel milik keluarga kita. Terlalu bahaya untuk calon istriku, mama dari putraku tinggal sendiri di luaran..." dari belakang, Elmar menghentikan tubuh Arine, kemudian memeluknya dengan penuh rasa kepemilikan.


Nyonya Clara tertegun, demikian juga dengan Bramantya. Tetapi mereka tidak akan pernah bisa menolak atau membantah kata-kata dari anak muda itu.


"Bagus daddy... bawalah mommy daddy. Malam ini, Brian akan menjemput opa di airport dengan papa besar. Sudah lama juga, Brian tidak tidur dengan papa besar, jadi malam ini Brian akan menemani papa besar..." tiba-tiba Brian berbicara, ternyata anak kecil itu mendukung apa yang dilakukan oleh papanya.


"Hemppphh... begitu juga bagus. Brian kasih salam dan ucapan selamat tinggal pada daddy dan mommy.. Kita akan berpisah sampai disini..." Bramantya menimpali perkataan bocah kecil itu,


Brian langsung menghentikan langkahnya, kemudian berlari ke arah daddy dan mommy nya. Arine tidak bisa menolak, perempuan itu menciumi kedua pipi Brian, demikian juga dengan Elmar.


************


Di dalam mobil....


Sambil mengemudi sendiri, tangan kiri Elmar terus menggenggam tangan Arine. Khawatir jika terjadi kecelakaan karena hanya mengandalkan satu tangan, Arine beberapa kali menarik tangannya. Namun dengan erat, dan penuh penjagaan ternyata Elmar tidak semudah itu melepaskan. Akhirnya gadis itu hanya diam saja, dan pandangan matanya ke depan melihat kemacetan.

__ADS_1


"Peninsula ke arah kanan kak... kebetulan semua barang Arine dan Brian ada di hotel itu..." ketika Elmar membelokkan mobil ke arah kiri, Arine memperingatkan laki-laki muda itu.


"Aku memiliki tujuan lain honey, karena aku tidak mau dipisahkan denganmu barang sedetikpun..." laki-laki muda itu tersenyum smirk, dan Arine tidak bisa menerka apa yang ada dalam pikiran Elmar.


"Mmmmmpph.... apa maksud kak Elmar. Kenapa Arine tidak bisa menerkanya..." merasa penasaran, ingin tahu, Arine bertanya pada laki-laki itu. Gadis itu menoleh dan melihat ke arah laki-laki yang duduk di sebelahnya itu.


Elmar tidak memberikan jawaban, namun laki-laki itu malah mengurangi kecepatan mobilnya. Tanpa Arine ketahui, tiba-tiba Elmar mendekatkan wajah ke arahnya, dan gadis itu berpikir jika laki-laki itu akan berbisik padanya. Tetapi yang terjadi, belum sempat Arine menghindar, bibir Elmar sudah meraup manis bibir Arine. Ciuman lembut berpalun-palun tidak terhindarkan lagi, dan saliva mereka telah menyatu. Arine juga tidak memiliki kemauan, dan keberanian untuk menghindar. Gadis itu terlena, seperti mendapatkan air minum ketika kehausan. Beberapa saat kemudian, karena gadis itu sudah tidak bisa mengambil nafas, barulah Elmar melepaskan. Laki-laki itu kemudian, kembali menginjak pedal gas, dan Arine tersenyum malu. Dengan menggunakan tissue, Arine mengusap bibirnya yang masih basah, dan mengalihkan pandangan keluar kaca mobil.


"Bibirmu menjadi candu bagiku honey..., dan aku tidak rela untuk sedetikpun melepaskannya. Malam ini juga, kamu harus menjadi milikku..." dengan nafas terburu, sambil mengemudikan mobil, Elmar bergumam,


Arine tidak mendengar apa perkataan laki-laki yang duduk disampingnya itu. Otaknya belum bisa untuk diajak berpikir, karena kehangatan dan dominasi bibir Elmar di atas bibirnya, masih terasa hangat dan sulit untuk dihilangkan. Tapi tiba-tiba Arine teringat, jika tujuan mereka kali ini tidak ke arah hotel Peninsula..


"Mmmpphh... kak Elmar, akan dibawa kemana Arine kak... Hotel Peninsula harusnya tadi kak Elmar ambil kanan..." Arine akhirnya bertanya pada laki-laki itu,


"Apakah honey tidak mendengar apa yang baru saja aku katakan sayang...?? Malam ini, kamu harus menjadi milikku, dan Abidzar sudah menyiapkan semuanya..." tanpa memberi tahu secara langsung, Elmar menjawab pertanyaan Arine sambil tersenyum.


Arine menjadi bertambah bingung, namun dirinya tidak memiliki nyali untuk mengejar terus pertanyaan pada Elmar.

__ADS_1


**********


__ADS_2