One Night Incident

One Night Incident
Bab 74 Luluh


__ADS_3

Di Puncak Bogor...


Arine terkejut, ketika dua buah tangan memeluknya dari belakang. Gadis itu sedang menikmati suhu udara dingin di balkon, sambil melihat keindahan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Terlihat lembah di bawah, membentuk seperti lukisan Tuhan yang sangat indah.


"Sedang lihat apa di tempat ini honey..?? Kenapa malah aku ditinggalkan sendiri, apakah tidak lebih baik kita berdua di dalam kamar.." Elmar berbisik di telinga istrinya.


Uap hangat menyentuh leher belakang Arine, ketika laki-laki itu berbicara, dan membuat beberapa bagian tubuh Arine merasa merinding. Tidak berhenti sampai disitu, melihat reaksi yang ditimbulkan dari sentuhan di area belakang leher istrinya, membuat Elmar tersenyum smirk.


"Aku harus memancing istriku yang masih terlihat malu-malu saat ini, dan aku tidak boleh kehilangan kesempatan lagi.." Elmar berbicara dalam hati. Senyuman tampak tersungging di bibirnya. Tidak lama kemudian, laki-laki itu membuktikan tindakannya...


"Mmmmpphh... ukh... kak..." tubuh Arine seketika merasa lemas, ketika bibir dan lidah suaminya menjilati leher bagian belakangnya.


Bahkan dengan beraninya, Elmar menurunkan krah baju Arine di bagian belakang. Melihat tubuh Arine lemah terkulai, dengan sigap menggunakan tubuhnya, Elmar menyandarkan di dadanya.


"Kita masuk ke dalam honey... layani aku.." dengan senyum nakal, Elmar berbisik di telinga Arine,


Arine menengadahkan wajahnya melihat ke atas, dan seperti melihat ada kesempatan, Elmar langsung memberikan pagutan di bibir mungil gadis itu. Tidak ada kesempatan untuk melakukan penolakan, tetapi mata gadis itu malah terpejam, dan bibirnya terbuka menyambut bibir Elmar dengan lidah yang menyeruak masuk ke dalam. Seketika pasangan suami istri itu seperti lupa tempat, dimana keberadaan mereka saat ini. Dengan nafas terengah dan memburu, keduanya saling memagut, dan enggan saling melepaskan,. Bahkan posisi Arine yang semula membelakangi suaminya, kini mereka sudah saling berhadapan. Kedua tubuh itu menempel dengan erat, dan tangan Elmar sudah menggerayang kemana-mana...


"Kak... ssshhh.... aakh..." Arine merasa sudah tidak kuat lagi. Serangan bertubi tubi dari Elmar, seperti membuat dirinya melayang.


Tiba-tiba dengan satu tangan, tubuh Arine sudah berpindah ke gendongan Elmar. Dengan kedua bibir yang masih berpagutan, Elmar perlahan membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Satu kaki laki-laki itu perlahan di jejakkan ke depan, dan pintu kamar terbuka dengan sendirinya.

__ADS_1


"Honey.. apakah aku sudah boleh melakukannya sayang..." sambil membaringkan tubuh Arine ke atas ranjang, sambil tersenyum smirk, Elmar bertanya pada Arine.


Mendapat pertanyaan itu, wajah Arine semakin memerah karena merasa malu. Gadis itu bahkan tidak mampu mengeluarkan suara, dan malah mengalihkan pandangan dari suaminya.


"Mmmmpphh... ayolah honey, jawab pertanyaan suamimu.." dengan nafas memburu, dengan berbisik Elmar mengulang pertanyaan.


Arine akhirnya memberanikan diri menatap mata suaminya, dan keduanya beradu pandang. Melihat tatapan Elmar, yang terus tersenyum memandangnya, akhirnya dengan malu-malu Arine menganggukkan kepala, seperti tidak bisa mengeluarkan suara.


"Suamimu ini ingin mendengar kesanggupan dari istriku sayang... Katakan, jika kamu mengijinkanku untuk melakukan kewajibanku.." Elmar kembali mengulang pertanyaannya.


"Mmmpphh.. lakukan kak..." akhirnya dengan nada serak, Arine memberikan tanggapan.


Mendengar hal itu, Elmar tidak mau menunggu lebih lama, Laki-laki itu segera menarik pakaian yang menutupi tubuh istrinya. Keindahan tubuh Arine yang bertahun-tahun dijaganya, terekspos di depanĀ  mata laki-laki itu. Arine menutup malu wajahnya dengan menggunakan tangan, dan selanjutnya hanya pasangan suami istri itu yang tahu, apa yang mereka lakukan.


Mansion...


Brian beberapa kali melihat ke arah jam dinding, padahal malam ini anak itu sedang menikmati makan malam. Dalam hati, Brian mengkhawatirkan keberadaan, dan keadaan mommy nya, karena sudah sejak siang mereka telah berpisah. Meskipun mommy nya pergi bersama dengan daddy nya, tetapi bocah kecil yang tidak terbiasa terpisah dengan mommy nya itu tetap merindukan keberadaan Mommy nya.


"Brian... apakah Brian ada janji akan menjumpai seseorang..? Sejak tadi, papa besar melihat tatapan Brian ke arah jam yang ada di dinding.." rupanya Bramantya juga mengamati perilaku bocah itu.


"Mmmppphh... iya papa besar. Brian hanya rindu mommy, karena mommy belum memberikan kabar dimana mommy sekarang.." dengan polosnya, Brian memberikan tanggapan.

__ADS_1


Bramantya tersenyum, dan sepertinya laki-laki itu berpikir akan menjawab apa pada bocah kecil itu. tidak lama kemudian...


"Mommy sedang ada urusan dengan daddy Brian... bukankah Brian juga mau bukan, jika daddy dan mommy bersatu lagi. Papa besar yakin, jika saat ini daddy dan mommy sedang merencanakan untuk bersatu.." akhirnya Bramantya mencoba menjelaskan pada bocah kecil itu,


Brian sepertinya tidak mudah percaya, karena anak kecil itu langsung terdiam dan tidak memberikan tanggapan atas perkataan dari papa besarnya, Tiba-tiba tidak diduga, Brian melihat ke arah oma dan opanya secara bergantian.


"Ada apa ini cucu opa sayang...? Apakah tidak suka bertemu dan bermain dengan opa malam ini..?? Mommy dan daddy mu adalah dua orang yang sudah dewasa, dan mereka memiliki banyak kebutuhan untuk mereka lepaskan. Untuk itu, Brian di mansion ini sementara, kan ada oma, opa, dan juga papa besar... Jika sampai besok siang, daddy dan mommy belum juga datang, opa sendiri yang akan menemani Brian untuk mencari mereka.." agar anak kecil itu tidak penasaran, karena ingin mengetahui mommy dan daddynya, tuan William berjanji padanya,


"Benar Brian..., oma akan ikut menemanimu dan opa.. Lagian, Brian belum melihat kamar Brian di rumah ini bukan..? Tadi maid sudah menyiapkan khusus untuk Brian." nyonya Clara ikut menimpali.


Setelah kembali terdiam, akhirnya Brian menganggukkan kepalanya. Semua yang sedang duduk di meja makan, tampak menghela nafas lega karena bisa meyakinkan bocah itu. Terlihat tuan William mengambil beberapa daging yang dimasak lada hitam dengan menggunakan penjepit makanan, kemudian meletakkannya di piring Brian...


"Sejak tadi opa melihatmu suka dengan daging lada hitam ini Brian... Perbanyak makannya, biar Brian segera tumbuh besar, dan menggantikan kedudukan opa di perusahaan..." melihat sorot mata penolakan dari cucunya, tuan William mencoba meyakinkan bocah itu.


"Mmmppphh... begitu ya opa. Baiklah.., Brian akan lebih banyak dari biasanya.." setelah memberikan jawaban, Brian segera menghabiskan makanan di piring dengan lahap.


Bramantya dan mamanya tersenyum melihat kerjasama dari Brian, dan mereka pun kemudian melanjutkan makan malam mereka. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, tampak Brian sudah merasa kekenyangan. Anak kecil itu meletakkan dengan rapi sendok, serta garpu di atas meja, persis seperti orang tua yang memiliki etiket di meja makan,


"Brian cucuku... siapa yang mengajarimu nak..., cucu oma bisa merapikan bekas tempat makannya.." nyonya Clara tidak mampu menahan rasa penasarannya. Perempuan paruh baya itu bertanya pada cucunya..


"Mommy oma.., terkadang papa besar juga mengajari Brian, ketika mommy sedang sibuk bekerja.." Bramantya hanya tersenyum kecut mendengar jawaban dari bocah kecil itu.

__ADS_1


Perkataan itu juga menyadarkan pada oma dan opan Brian, betapa besar pengaruh Bramantya yang dipanggil papa besar oleh cucunya, pada kehidupan bocah kecil itu.


***********


__ADS_2