
Keiko Kana tersenyum ketika melihat Bramantya mengambilkan teh panas untuknya, dan gadis itu segera mengambil teh itu dari tangan Bramantya. Berpikir jika gadis itu belum melakukan sarapan pagi, laki-laki itu berjalan meninggalkan gadis itu kembali, untuk mengambilkan beberapa snack untuk dikonsumsi Keiko. Beberapa saat kemudian...
"Bagaimana perjalananmu ke kota ini Keiko... aku harap kamu menyukainya..?" Bramantya yang memang sebelumnya, agak membatasi pergaulan dengan perempuan, agak gagu bertanya pada gadis itu.
"Aku pasti menikmatinya Bram... karena begitu masuk pesawat, aku sudah tertidur. Karena sebelumnya, aku baru saja menjalani operasi caesar dua ibu muda. Jadi.. yah tahu sendirilah, badanku capek dan lelah. Makanya begitu duduk di seat pesawat, aku langsung tertidur..." sambil menikmati potongan sandwich, gadis itu menjawab.
"Baguslah jika begitu... Oh ya Keiko, kamu lanjutkan dulu sarapan paginya ya, aku akan mencari mama. Karena kamu masih capek, harus cepat istirahat. Dan karena mama yang mengundangmu langsung, jadi mama harus ikut bertanggung jawab kepadamu.." seperti kehabisan bahan pembicaraan, Bramantya mengalihkan fokus pembicaraan,
Untungnya Keiko juga mengenal sikap agak introvert Bramantya pada perempuan, sehingga mengijinkan laki-laki itu meninggalkannya beberapa saat. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian melanjutkan menikmati sandwich yang ada di depannya.
"Hempphh... dimana lagi mama tadi duduk. Aku kehabisan kata, untuk mengajak Keiko bicara..." Bramantya bergumam sendiri. Laki-laki itu terlihat kesal, karena merasa dipojokkan dalam situasi ini.
Pandangan laki-laki itu memindai setiap kursi yang ada di dalam lounge, dan untunglah laki-laki itu melihat keberadaan mamanya. Nyonya Clara tengah mengobrol dengan temannya, dan Bramantya segera mendatangi perempuan paruh baya itu. Mama laki-laki itu terkejut ketika melihat putranya sudah berdiri di samping tempatnya duduk.
"Hey Bram.. ada apa... Ini kebetulan mama bertemu dengan Jeng Yuni, jadi berbicara sebentar.." melihat ekspresi kejengkelan Bramantya, nyonya Clara bertanya pada anak muda itu.
"Ayuk mama kembali ke meja kita.. Mama harus bertanggung jawab atas sesuatu.." tanpa ekspresi, Bramantya mengajak mamanya untuk ikut bersamanya.
Nyonya Clara tersenyum, kemudian melihat ke lawan bicaranya...
"Maaf ya Jeng Yuni... Bram sudah mengajakku kembali.. Lain waktu, kita akan bicara banyak," perempuan paruh baya itu kemudian berpamitan dengan lawan bicaranya.
__ADS_1
"Baik Jeng Clara... Owalah ini nak Bram to.., sudah sangat lama sekali tante tidak pernah bertemu lagi. Evelyn ada di Paris sekarang nak Bram..., mungkin lain kali tante akan membawa Evelyn untuk berkunjung ke mansioan mama..." seperti menawarkan putrinya untuk Bramantya, Nyonya Yuni mengajak bicara Bramantya.
"Iya tante Yuni... mari.." Bramantya tidak memberikan peluang pada teman mamanya itu untuk lebih banyak berbicara. Tanpa ekspresi, laki-laki muda itu merangkul bahu mamanya, dan membawa nyonya Clara ke tempat duduk Keiko.
Baru sampai di dekat meja mereka, tatapan nyonya Clara mendadak bersinar ketika melihat seorang gadis cantik dan mungil, tengah menikmati potongan sandwich. Perempuan paruh baya itu menoleh ke arah putranya, namun Bramantya tidak memberikan tanggapan.
"Hrmppphh... apakah gadis cantik ini, Keiko Kana, teman putraku Bram..." tiba-tiba nyonya Clara membuka pembicaraa.
Mendengar suara perempuan paruh baya yang sepertinya mengajak bicara, Keiko mengangkat wajahnya. Melihat keberadaan Bramantya, dan disampingnya berdiri seorang perempuan, Keiko tersenyum.
"Andakah auntie Clara, mama dari Bramantya..." dengan suara merdunya, Keiko bertanya pada mama Bramantya.
"Kamu sangat cantik sekali Keiko, jauh lebih cantik dari fotomu. Sangat cocok dengan putraku Bram..., bukankah begitu Bram..." Bramantya kaget ketika namanya disebut oleh mamanya. Laki-laki itu tidak memberikan jawaban, hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Auntie bisa saja, lihatlah Bram menjadi malu auntie.." Keiko menjadi tersenyum malu, melihat respon Bramantya.
Gadis itu memang sudah lama memiliki rasa ketertarikan pada Bramantya, namun melihat sikap cuek laki-laki itu, gadis itu hanya memendam perasaannya dalam hati saja. Untunglah dalam adat kebudayaan yang ada di negaranya, perempuan dan laki-laki tidak menjalin hubungan pernikahan seperti menjadi kebiasaan umum, sehingga gadis itu hanya sabar menunggu laki-laki itu.
"Tidak ada yang salah Keiko cantik. Kamu gadis yang bebas, putraku Bram juga laki-laki yang bebas. Tidak ada salahnya bukan, jika kalian melakukan approach, apalagi bisa berjodoh.." semakin mengarah pada apa yang diinginkannya, nyonya Clara memberikan tanggapan.
Mendengar kata-kata dari perempuan itu, pipi Keiko memerah, dan gadis itu melirik ke arah Bramantya yang masih berwajah datar.
__ADS_1
"Kita keluar saja sekarang mam..., Keiko pasti sudah capek setelah menempuh perjalanan ke Jakarta.." seperti ingin mengalihkan pembicaraan, Bramantya mengajak kedua perempuan itu untuk cepat bergegas.
"Benar... benar sekali. Ayolah kita bergegas kembali... biar Keiko segera beristirahat..." nyonya Clara segera mengajak Keiko untuk keluar dari lounge.
Melihat jika Keiko membawa satu tas kabin di tangannya, Bramantya meraih tas itu, kemudian membawakannya. Keiko tersenyum, dan merasa tersentuh dengan perhatian kecil dari laki-laki itu. Ketiganya kemudian berjalan keluar dari executive lounge. Karena tadi Bramantya menitipkan mobil melalui layanan vallet, mereka tidak berjalan terlalu lama. Begitu mereka sudah sampai, di terminal kedatangan mobil laki-laki itu sudah terparkir di depan mereka.
"Keiko... kamu duduk di kursi depan menemani Bram ya... Auntie duduk di kursi tengah, karena auntie akan sekalian istirahat.." seperti memberikan kesempatan pada dua anak muda itu, agar mereka lebih dekat, nyonya Clara membuat pengaturan.
"Baik auntie.." begitu melihat security airport membukakan pintu depan, Keiko langsung masuk dan duduk di dalamnya.
Setelah itu, nyonya Clara juga ikut masuk, dan terakhir kali Bramantya. Tidak lama kemudian, Bramantya sudah menginjak gas mobil, dan perlahan mobil berjalan keluar dari bandara.
"Mama... dimana mama akan menginapkan Keiko hari ini, karena Keiko butuh untuk istirahat beberapa waktu mam..." sambil mengemudi, Bramantya bertanya pada mamanya.
Karena tahu jika mamanya yang mengundang gadis itu untuk datang ke Jakarta, maka mamanya yang harus menanggung dan memikirkan akomodasi gadis itu.
"Untuk sementara kita bawa dulu untuk pulang ke mansion Barra... Di mansion, banyak kamar kosong, jadi Keiko bisa menempati salah satunya. Lagian, dengan tinggal di mansion, satu rumah dengan kita, kamu dan Keiko juga akan lebih punya waktu untuk berbicara pribadi.." semakin kentara upaya dari perempuan itu, untuk menyatukan dua anak muda itu.
Keiko terkejut mendengar kata-kata itu, tetapi dalam hati gadis itu merasa tenang. Keiko hanya melirik ke arah laki-laki yang ada di sampingnya. Tidak ada protes, ataupun kata-kata dari Bramantya, namun laki-laki itu mengarahkan mobil ke arah pulang.
**************
__ADS_1