One Night Incident

One Night Incident
Bab 66. Bersama Mommy


__ADS_3

Mansion mewah...


Nyonya William berlari ke arah pintu masuk mansion, ketika melihat dari atas balkon Bramantya membawa Brian ke mansion tersebut. Wajah bahagia membayang di wajahnya, dan Brian tidak punya pilihan lain selain menerima pelukan dari perempuan sosialita itu.


"Mama... biarkan Brian barang sejenak dulu untuk beradaptasi dengan mansion ini. Tidak malah membuatnya ketakutan seperti ini.." melihat ekspresi Brian, Bramantya menegur mamanya.


"Tidak ya Brian sayang... ini karena oma sudah sangat kangen untuk bertemu dengan cucu oma... Ayolah masuk ke dalam Brian, rumah ini adalah rumahmu. Kamu bebas melakukan apa saja di dalam rumah ini.." seperti anak kecil, nyonya William menggandeng tangan Brian dan membawanya masuk ke dalam.


Dari belakang, Bramantya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kejadian itu. Laki-laki itu sudah tahu, jika ternyata Brian adalah keponakannya, putra dari adiknya Elmar. Meskipun dalam hati ada rasa perih dan kesedihan, namun laki-laki itu sangat pandai untuk menjaga perasaannya. Bagaimanapun Brian masih ada dekat dalam keluarganya, dan mereka tidak akan terpisahkan. Namun... adanya kehilangan kenyataan untuk tidak menaruh harapan lebih pada Arine, membuat laki-laki ini hanya bisa tersenyum kecut.


"Hempph... mungkin aku memang harus mengalah. Aku pikir, aku sudah menemukan tautan hatiku, namun ternyata aku hanya menjaga jodoh adikku.." Bramantya bergumam sendiri.


Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling mansion, dan karena urusan Brian, dirinya harus kembali ke mansion ini lagi setelah bertahun tahun lamanya. Semua masih sama dengan terakhir kali dirinya kembali ke mansion ini, tidak ada yang berubah. Apalagi Elmar, anak itu juga sangat jarang kembali ke mansion, karena memilih untuk tinggal sendiri, jauh dari keluarganya.


"Tuan Bram... kamarnya sudah kami siapkan, jika tuan akan beristirahat.." terlihat seorang ART memberitahu laki-laki itu.


"Siapkan black coffee no sugar saja, dan buatkan beberapa potong sandwich tuna.. Antarkan di ruang tengah, dan juga siapkan makanan untuk keponakanku Brian.." laki-laki itu memberi perintah yang lain pada ART itu,


"Baik tuan... segera saya siapkan.." ART itu kemudian kembali ke belakang.


Setelah menghela nafas, akhirnya Bramantya berjalan menuju ke ruang tengah. Dan terlihat Brian sudah berada di dalam ruangan itu dengan mamanya.

__ADS_1


"Papa besar... rumah papa besar sangat megah dan mewah.. Kenapa papa besar tidak tinggal di tempat ini, malah memilih tinggal di rumah kecil yang ada di Sapporo..." Baru saja Bramantya akan mendudukkan pantat di atas kursi, Brian bertanya padanya,


"Ha.. ha.. ha..., cucu oma ternyata sangat cerdas, dan sangat mendukung pemikiran oma.." merasa mendapat dukungan, karena Nyonya William kesulitan mengarahkan Bramantya untuk kembali ke Indonesia, tertawa terbahak.


"Brian... ada urusan orang dewasa dimana bocah seperti Brian belum sampai pikirannya. Rumah besar dan mewah, tidak selalu dapat menjamin kebahagiaan sayang. banyak hal lain yang perlu dipenuhi, apalagi untuk laki-laki dewasa seperti papa besar.." sambil mengusap kepala Brian, Bramantya memberikan tanggapan.


Nyonya William masih tersenyum mendengar jawaban putranya. Perempuan paruh baya itu, sudah kehilangan akal untuk meminta kedua putranya agar tinggal di mansion ini. Meskipun masih berada di Jakarta, putra keduanya Elmar, juga sangat jarang menginap di mansion tersebut.


"Apakah cucu oma mau menemani oma untuk tinggal di mansion ini Brian...?? Opa juga pasti akan merasa senang, karena cucu cerdas seperti Brian mau berada di dalam rumah ini..." tidak mau ketinggalan kesempatan, Nyonya William menyambung perkataan Bramantya.


"Maaf oma... Brian tidak bisa, Kasihan mommy, pasti mommy akan merasa sangat kesepian jika tidak ada Brian di sampingnya.. Sampai kapanpun, Brian tidak akan meninggalkan mommy sendirian..." jawaban cerdas Brian, cukup mengejutkan nyonya William.


"Sudahlah ma... yang penting status Arine dan Brian jelas dulu di keluarga kita, baru mama berpikir yang lain.." seakan tahu kesedihan yang dirasakan mamanya, Bramantya menghentikan diskusi.


"Hempphh... benar ucapanmu Bram.. Biarkan semua mengalir dulu..." akhirnya sambil tersenyum kecut, nyonya William mengakhiri topik tersebut.


**************


Amanda Grande....


Di dalam ruang tengah sebuah rumah mewah, terlihat seorang gadis berteriak meraung raung. Gadis itu adalah Stevia, gadis yang cinta mati pada tuan muda Elmar. Nyonya Edward berusaha untuk memberikan pengertian pada putrinya, namun bukannya berhenti menangis, namun Stevia malah menjerit.

__ADS_1


"Mama... Stevia hanya mau kak Elmar untuk menjadi pendamping Stevia selamanya mam... Huuuuu...." kata-kata yang terus meluncur keluar dari bibir Stevia, semakin membuat mamanya menjadi pening kepala.


"Terus apa maumu Stev... apakah kamu pikir mama tidak berusaha. Mama hanya diam saja.. Jika kamu tahu\, mama Elmar\, Nyonya besar William yang biasanya berpihak pada mama\, kali ini berbeda. Perempuan itu juga memberikan dukungan pada hubungan putranya dengan perempuan ja***lang itu.." nyonya Edward memberikan tanggapan.


"Tidak mau... pokoknya kak Elmar harus menjadi milikku. Jika tidak, lebih baik Stevia mati saja ma... huuu... huu..." tangisan gadis itu semakin terdengar kencang memenuhi ruangan.


"Terserah apa maumu Stev.... mama malah pusing sejak tadi mendengar tangisanmu. Mama akan masuk ke dalam kamar, mau istirahat.." merasa tidak bisa mengendalikan putrinya, nyonya Edward berdiri dari posisi duduknya, dan berencana akan meninggalkan ruangan itu.


Stevia merasa kaget, dan merasa diacuhkan. Biasanya mamanya menjadi pendukung nomor satu, namun kali ini sepertinya mamanya sudah menyerah. Hati gadis itu menjadi hancur, dan tidak diduga tiba-tiba Stevia meraih vas bunga dari kristal, kemudian...


"Prang..." suara vas bunga terbanting dan pecah di lantai terdengar memenuhi ruangan.


Nyonya Edward terkejut dan melihat ke arah sumber suara. Terlihat putrinya Stevia mengambil pecahan vas bunga, kemudian meletakkan di pergelangan tangan, di atas nadi gadis itu...


"Stevia... jangan bertindak impulsive. Hentikan tindakan bodohmu itu..." nyonya Edward menjadi kalut dan cemas, Perempuan sosialita itu membalikkan badan, dan berlari ke arah putrinya. Tetapi sepertinya perempuan itu terlambat, karena jelas terlihat di matanya, darah sudah mengucur keluar dari pergelangan tangan putrinya.


"Tidak ada gunanya Stevia hidup lagi mama... Stevia hanya mau hidup dengan kak Elmar..." Stevia sudah seperti orang gila, terus menceracau menyebut nama Elmar.


Dari arah belakang, karena mendengar barang pecah, dan jerit teriakan nyonya Edward, para ART dan penjaga rumah berlari ke ruang tengah. Mereka terkejut melihat nyonya besar, dan nona muda sedang menangis panik. Apalagi terlihat darah yang mengucur dari pergelangan tangan nona muda keluarga ini, sudah mengotori lantai.


**************

__ADS_1


__ADS_2