
Bramantya terlihat masih mengamati mama dan Keiko dalam kesendirian. Laki-laki itu sampai tidak sadar, jika ada kehadiran tiga orang di atas roof top yang mengamati apa yang dilakukannya. Pandangan Bramantya yang tampak melucuti gadis yang sedang bersama dengan mamanya, menarik perhatian tiga orang tersebut.
"Hemppphh.... antusias amat kakakku yang satu ini, seperti ada point of interest yang membuat matanya tidak bisa beralih pandangan ke tempat lain.." karena perhatian Bramantya tetap fokus pada object pandangan, terdengar suara laki-laki yang menyindir dengan halus.
Putra pertama keluarga William terkagetkan, dan melihat ke sumber suara. Senyuman muncul dari bibir laki-laki itu, dan Brian sudah berlari memeluk tubuhnya.
"Papa besar.., kita sudah berada di roof top sejak tadi.. tapi papa besar, tidak menyadarinya.." suara polos Brian mempertegas apa yang dilihatnya.
"Bram... tidakkah aku salah lihat. Bukankah gadis yang bersama mama itu Dokter Keiko Kana, dokter yang membantuku ketika Brian lahir..." Arine merasa tidak mempercayai pandangan matanya.
Tetapi karena beberapa kali berurusan dengan dokte rmuda itu, Arine yakin jika yang sedang bersama mama mertuanya adalah dokter yang bekerja dalam satu laboratorium dengan Bramantya. Kembali pandangan malu terlihat di wajah Bramantya, dan laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Wow... betul betul sebuah langkah maju satu tahapan, Ternyata kakakku sekarang hebat, bisa membawa gadis ke mansion mama, tanpa kabar kabar terlebih dulu..." Elmar menepuk bahu kakaknya.
Karena suara ke empat orang itu lumayan keras, nyonya Clara dan Keiko melihat ke arah mereka. Gadis yang memiliki profesi dokter itu kaget, melihat keberadaan Arine di roof top.
"Arine... is that you girl...?" Keiko bertanya pada Arine dari kejauhan, merasa tidak percaya bisa bertemu dengan gadis itu di tempat ini.
Arine tidak menjawab dengan kata-kata, namun gadis itu segera melangkahkan kaki menghampiri Keiko. Di depan mama mertuanya, Arine dan Keiko berpelukan sesaat. Kemudian...
"Lho.. lho.., kalian berdua rupanya sudah saling mengenal juga.. Hmmmpp... kota Sapporo memang kota yang kecil ya, wajar saja jika kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya.." Nyonya Clara berceloteh tentang dua gadis yang berpelukan itu. Tetapi aura bahagia terlihat jelas di wajah perempuan paruh baya itu,
__ADS_1
"Benar mama..., dokter cantik ini yang membantu Arine ketika melahirkan Brian beberapa tahun lalu. Dan Bram juga pernah mengenalkan kami.." Arine membuat penjelasan, dan gadis itu melepaskan pelukan pada Keiko.
"Hempphhh begitu ya... Ternyata semuanya seperti dilancarkan, dan sangat membantu harapan mama menjadi kenyataan.." nyonya Clara bergumam sendiri.
Keiko yang tidak begitu paham dengan maksud perkataan mama Bramantya, hanya tersenyum. Tetapi Arine dengan mudah menerka, apalagi ketika melihat Bramantya tampak menyembunyikan wajah, ketika adik kandungnya Elmar memukul lengan atasnya..
"Ide mama sangat bagus.., kenapa mama tidak segera merubahnya menjadi kenyataan ma.. Mumpung ada Keiko di tempat ini, dan Bram juga belum kembali ke Sapporo, secepatnya kita buat pengesahan.." sambil tersenyum, Arine menyahuti perkataan mama mertuanya..
"Arine .. jangan menjadi kompor gas kali ini. Beri aku waktu untuk memberikan pengertian pada Keiko dulu.., please.." Bramantya seperti kehilangan muka mendapatkan serangan itu, Dengan cepat, laki-laki itu meminta waktu untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.
"Ha... ha.. ha.., ayolah Bram.. kamu ini laki-laki, jangan cemen lah. Berani membawa gadis pulang ke rumah, ya harus berani untuk bertanggung jawab dong.." Elmar tidak mau kalah, laki-laki itu ikut membully kakak kandungnya,
"Sekarang kalian semua menyingkir dari tempat ini... Aku akan membawa Keiko pergi siang ini, untuk lunch di luar. Jangan ganggu kami okay.." seperti kehilangan kesabaran karena rasa malunya, Bramantya mengusir mereka.
************
Beberapa saat kemudian...
Di dalam sebuah restaurant mewah, terlihat Bramantya dan Keiko menduduki satu round table di sebuah ruangan yang sudah dibook atas nama mereka. Laki-laki itu mengenakan pakaian rapi, dan Keiko juga mengenakan sack dress, dan muncul aura cantik, elegan pada perempuan muda itu.
"Bram... ada apa ini Bram..? Kamu sudah membawaku lari dari keluargamu, padahal auntie Clara sudah menyiapkan lunch untuk kita tadi.." rupanya Keiko belum mengetahui maksud dari laki-laki itu membawanya kemari.
__ADS_1
Bramantya tersenyum, dan menatap ke mata gadis yang duduk di depannya.. Laki-laki itu seperti sedang menimbang nimbang sesuatu, dan hanya tersenyum sambil melihat tanpa berkedip pada wajah gadis cantik itu. Tiba-tiba tidak diduga, dan yang juga membuat gadis itu terkejut, tangan Bramantya menggenggam tangan Keiko dengan erat, dan tidak mengalihkan pandangannya...
"Hey Bram... what happened, tatapanmu padaku membuatku takut...?" Keiko yang tidak bisa menerka, bertanya pada laki-laki itu.
Terlihat Bramantya seperti berpikir sejenak, kemudian..
"Keiko... semua mungkin begitu mendadak untukmu Keiko.. Dan aku juga berharap, jika apa yang akan aku sampaikan kepadamu bukanlah sesuatu kesalahan.." beberapa saat akhirnya Bramantya mengeluarkan suara.
Keiko belum bereaksi, karena gadis itu mendengarkan setiap ucapan dari laki-laki itu.
"Keiko..., marry me...!! Jangan tanya apapun tentang permintaanku ini Keiko, karena aku juga tidak akan mampu untuk memberikan jawaban saat ini.." dengan nada tegas namun pelan, akhirnya Bramantya menyampaikan maksudnya pada gadis itu.
"What you say Bram... Apakah pendengaranku tidak salah kali ini...?" merasa terkejut dengan perkataan Bram, Keiko berusaha untuk mencari tahu.
Di pelupuk mata gadis itu, dengan cepat tergenang air mata. Gadis itu mungkin tidak menyangka, kedatangannya ke Jakarta tanpa sengaja, karena undangan dari mama laki-laki itu, akan berakhir mengejutkan.
"Aku berkata jujur Keiko... tetapi jangan bertanya apakah aku mencintaimu saat ini. Karena aku belum tahu dengan perasaanku sendiri, hanya kembali aku memintamu.. Marry me..!" tiba-tiba di tangan Bramantya sudah ada satu pouch berwarna merah.
Laki-laki itu dengan gemetar membuka pouch itu di depan Keiko. Tanpa kata, dengan bibir yang sedikit membuka Keiko melihat apa yang dilakukan oleh Bramantya. Tiba-tiba saja, tangan Bramantya sudah menarik jari manis Keiko, dan tanpa kata sepatahpun, tangan laki-laki itu sudah melingkarkan cincin pada jari manisnya.
"Bram... apakah aku tidak sedang bermimpi siang ini Bram..? Apa yang kamu lakukan kepadaku..." masih merasa bingung dengan kejadian itu, Keiko bertanya. Air mata sudah mengalir dari sudut matanya.., dan dengan menggunakan ibu jarinya, Bramantya mengusap air mata tersebut,
__ADS_1
"Kamu menerimaku bukan Keiko.." setelah melihat gadis di depannya sudah mampu mengendalikan emosinya, dengan suara lembut, Bramantya kembali bertanya pada Keiko.
**************