
Wajah nyonya Edward memerah karena menahan malu dan kemarahan. Kata-kata yang diucapkan teman sosialitanya nyonya William, sangat menyakiti perasaannya., Perempuan itu merasa, di awal mama Elmar sangat menyanjung, dan berharap akan perjodohan antara putrinya dengan keluarga konglomerat itu. Tetapi seketika, harapan itu kandas saat ini juga...
"Apakah kita tidak bisa membicarakannya lagi Jeng..., seperti kesepakatan kita bertahun tahun yang lalu. Selain Elmar, aku ingat jika kakaknya Bramantya yang bertempat tinggal di Jepang, juga belum memiliki pasangan. Kenapa kita tidak merubah haluan saja Jeng..., karena aku yakin dengan usia matang seperti putra pertamamu, sudah sangat sulit untuk menentukan pilihan hidup.." ternyata nyonya Edward tidak berhenti,
Setelah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Elmar selaku menantunya, pilihan selanjutnya beralih pada Bramantya putra pertama keluarga William. Namun... nyonya William hanya menanggapi hal itu dengan tersenyum, kemudian...
"Jeng... aku sudah menyesal untuk mengatur kehidupan putraku, agar di kemudian hari aku tidak salah langkah. Jeng juga lihat sendiri bukan, dimana dulu kita getol untuk mengatur perjodohan ini. Namun tidak diduga, ternyata Elmar malah sudah memiliki seorang putra, dan istri yang sangat cantik tanpa memberi kabar pada kami orang tuanya.." menggunakan alasan Brian dan Arine, mama Elmar membuat alasan.
"Tapi Jeng... keluarga istrinya Elmar tidak sederajat dengan keluarga kita. Mereka sangat urakan, dan tidak tahu etiket pergaulan selaku kalangan atas. Jangan sampai nama keluarga Jeng hancur, jika nantinya Bramantya juga mendapatkan jodoh yang sama..." perempuan itu terus memprovokasi nyonya William.
Rupanya keluarga Edward sangat bernafsu sekali untuk bisa berbesan dengan keluarga William. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan harapan keluarga itu. Berada dalam circle pergaulan kelas atas, kaum sosialita, namun mereka tidak bisa mengimbangi dengan pola pikir, dan life style. Mengintimidasi masyarakat bawah, masih menjadi ciri khas kaum sosialita di negara ini.
"Sudahlah Jeng... aku kan sudah mengatakan dari tadi. Aku sudah kapok untuk mengatur perjodohan putra putraku, karena mereka sudah memiliki sudut pandang sendiri. Jika memang Jeng dan Stevia ingin mencoba mendekati Bram, keluarkan upaya kalian untuk mendekati putraku. Tetapi ada satu hal yang perlu kalian ingat, aku tidak akan bermain peran dalam hal ini.." merasa jengkel dengan desakan dari teman sosialitanya, akhirnya nyonya William membuat ketegasan.
Merasa diabaikan, kembali nyonya Edward terlihat tidak suka dengan penolakan itu. Apalagi tiba-tiba perempuan itu melihat, di depannya nyonya William sudah berdiri dari posisi duduknya,,
__ADS_1
"Mau kemana Jeng... hari masih siang. Aku masih banyak waktu untuk berbincang, karena kebetulan aku sudah mem block semua agendaku untuk hari ini..." nyonya Edward terkejut, dan bertanya pada mama Elmar.
"Maaf Jeng.. aku tidak bisa berlama lama untuk berbincang di tempat ini. Kebetulan papanya Elmar dan Bram tadi berpesan padaku, jika sore ini kami ada jamuan dinner dengan rekan kerja perusahaan papanya anak anak. Jadi.. saya tidak bisa membersamai Jeng di tempat ini.." sambil tersenyum, nyonya William memberikan tanggapan.
Terlihat ada bias rasa kecewa di wajah nyonya Edward, apalagi dalam pembicaraan mereka, belum ada kesepakatan yang menguntungkan diri dan keluarganya. Namun nyonya William, sudah menyodorkan tangan untuk mengajaknya berjabat tangan. Dengan sikap terpaksa, akhirnya dua perempuan sosialita itu saling berjabat tangan, dan melakukan cipika cipiki. Perlahan mama Elmar dan Bramantya berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan teman sosialitanya.
***************
Malam harinya....
"Papa... apakah papa membutuhkan bantuan Arine pa...?" Arine bertanya dengan suara lirih.,
Meskipun suara gadis itu sangat lirih, namun rupanya Elmar ikut mendengarnya. Dengan sigap, laki-laki muda itu segera berdiri dari posisi duduknya, kemudian berjalan menghampiri Arine dan tuan Abraham.
"Kalian pulanglah, kembalilah ke rumah atau tempat dimana kalian tinggal saat ini. Kasihan Brian, anak ini masih kecil, dan tidak akan baik untuknya jika harus tinggal seharian di rumah sakit..." ternyata laki-laki paruh baya itu sangat peduli dengan cucunya.
__ADS_1
"Tapi pa... kami sudah banyak kehilangan kesempatan untuk bersama dengan papa.." namun bukannya menurut, Arine menolak dengan halus.
Tangan Elmar terulur ke pundak Arine, dan anak muda itu memijit pelan pundak perempuan muda itu. Pemandangan itu membahagiakan tuan Abraham, karena meskipun hanya sentuhan lembut, namun mencerminkan jika menantunya itu sangat perhatian dengan putrinya. Hal berbeda dialami oleh Arine, mendapatkan sentuhan itu tubuhnya terasa menegang, dan tiba-tiba dirinya merasa risih. Namun untuk melarang atau meminta tuan muda Elmar melepaskan tangannya, khawatir jika papanya menjadi curiga,
"Nak Elmar... bawa istri dan putramu keluar dari rumah sakit ini. Kalian bisa datang lagi besok pagi, karena sekarang sudah malam. Arine tidak akan mudah menuruti keinginan papa ini.." merasa tidak bisa mempengaruhi putrinya, tuan Abraham meminta pada laki-laki muda itu.
"Baiklah pa. dan papa jangan khawatir. Ada orang-orangku di luar kamar, mereka akan menggantikan kami untuk menjaga papa. Jangan sungkan pa..., katakan pada orang-orangku jika papa membutuhkan sesuatu." seperti gayung bersambut, Elmar langsung menyetujui permintaan dari laki-laki paruh baya itu.
Arine terkejut, karena dengan mudahnya tuan muda Elmar menyetujui permintaan itu tanpa berpikir. Namun jika dirinya memprotes, maka sandiwara jika mereka adalah pasangan suami istri akan diketahui oleh papanya. Akhirnya perempuan muda itu hanya bisa mengambil nafas panjang, dan tidak ada pilihan lain baginya untuk melakukan penolakan,
"Ayo Arine... kasihan putra kita Brian. Apa yang dikatakan papa benar adanya, udara rumah sakit tidak baik untuk tumbuh kembang Brian. Mungkin, ketika besok kita berkunjung lagi ke rumah sakit ini, Brian untuk sementara bisa kita titip ke rumah papa dan mama William. Di rumah juga ada kak Bram.." dengan suara lembut, Elmar mengajak Arine.
"Mmmpphh... baiklah pa.. Arine untuk sementara akan membawa Brian pulang dulu.." akhirnya tanpa menanggapi ajakan Elmar, Arine menyanggupi permintaan dari papanya,
Elmar segera membantu perempuan muda itu berdiri, dan tuan Abraham tersenyum melihat perlakuan Elmar pada putrinya. Ada rasa bahagia yang tumbuh dalam perasaan laki-laki itu, melihat istrinya diperlakukan dengan baik oleh suaminya. Meskpun apa yang ada di depannya itu hanyalah semu menurut pemikiran Arine, tetapi hal itu tidak diketahui oleh laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1
***************