One Night Incident

One Night Incident
Bab 77 Ke Rumah Opa


__ADS_3

Jakarta...


Bramantya yang sedang duduk disamping mamanya terkejut, ketika melihat ponselnya berdering. Laki-laki itu dengan sigap mengeluarkan ponsel, dan terkejut lagi ketika melihat siapa yang melakukan panggilan kepadanya. Berada di sebelahnya, tanpa sadar nyonya Clara melihat wajah cantik Jepang, muncul di layar ponsel putranya. Perempuan itu tersenyum, dan memberikan isyarat agar Bram menerima panggilan tersebut. Akhirnya...


"Mmmppphhh... apa sih mam..." melihat mamanya berbicara dengan bahasa isyarat, Bramantya merasa heran.


"Itu menantuku sedang melakukan panggilan padamu Bram.. Angkatlah, atau harus mama yang mengangkatnya, dan langsung melamarnya sekarang juga.." nyonya Clara seperti memberikan ancaman,


"Apaan sih ma, ini Dokter Keiko Kana, rekan kerja di laboratorium yang ada di kota Sapporo ma... Bukan siapa, siapa.." Bramantya mencoba mengelak, karena memang antara dirinya dengan gadis itu memang tidak ada hubungan apapun.


"Ya kalau memang kalian tidak sedang dalam hubungan, kenapa kamu tidak segera mengangkat panggilan itu. Apakah kamu malu jika mama mendengar kata-kata kalian...?? Atau mama saja yang menerimanya, sekalian mama akan berkenalan dengan gadis cantik itu. Putih, imut lagi..." nyonya Clara akan merebut ponsel putranya.


Namun dengan sigap Bramantya menyingkirkan dari dekat mamanya. Untuk mengurangi rasa kepo mamanya, akhirnya Bramantya dengan malas, menggulir panggilan diterima. Melihat ponsel itu sudah terkoneksi dengan lawan bicara, nyonya Clara tersenyum dan duduk diam kepo menunggu pembicaraan.


"Hi Dokter Keiko Kana... how are you...??" dengan wajah tanpa ekspresi, akhirnya Bramantya menyapa dokter cantik itu.


"Mmmpphh.., mmmphh... sorry Bram.., janganlah panggil aku dengan sebutan Dokter. Keiko sajalah, biar lebih akrab kedengarannya..." dengan gugup, perempuan cantik yang tengah berada di Sapporo itu memberikan jawaban.


"Ha.. ha.. ha.., okaylah.. Keiko, apa ada hal penting, sampai kamu melakukan panggilan padaku.." Bramantya mulai menghilangkan sebutan dokter dalam panggilannya.

__ADS_1


"Tidak Bram... sorry ya aku sudah mengganggumu. Tanpa sadar, aku tadi menggulir nomor ponselmu Bram.. Jika kamu tidak menerima panggilanku ini, aku malah tidak tahu jika sudah membuat panggilan denganmu.." untunglah Keiko Kana sudah bisa menguasai kegugupannya. Dengan lancar, gadis itu memberikan tanggapan.


"Begitukah... ya sudah. Jika tidak ada keperluan, kita akhiri saja yang panggilan ini. Kebetulan aku sedang tidak berada di negara Jepang saat ini Keiko. Aku sedang ada urusan di Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Ada Arine juga, dengan putranya Brian..." nyonya Clara terkejut mendengar ucapan putranya.


Apalagi ketika perempuan itu mendengar, jika putranya akan mengakhiri panggilan. Perempuan itu langsung berjalan mendekat, dan tanpa Bramantya sadari, ponsel putranya itu sudah beralih berada di tangannya...


"Eiitss.... ada gadis cantik teman putraku ini. Siapa disana, mama ingin mendengar suara, dan berkenalan denganmu cantik.." Bramantya terkejut, dan mengetuk jidatnya sendiri. ketika mendengar mamanya langsung menyapa Keiko dengan menggunakan ponselnya.


"Mmmmpphh... ini siapa ya, apakah auntie itu mamanya Bramantya. Jika benar, mohon perkenalkan auntie. My name is Keiko Kana, dan Keiko teman Bramantya di Sapporo, Hokaido..' menghormati lawan bicaranya, Keiko tampak menjawab sapaan dari mamanya Bramantya.


"Ha.. ha.. ha..., benar sekali Keiko cantik. Auntie ini mamanya Bram.., kebetulan kami sedang berkumpul di kota Jakarta Keiko. Ayolah ambil cutimu... auntie mengundangmu untuk datang ke Jakarta, dan akan mengenalkan Keiko dengan semua anggota keluarga auntie.." tidak diduga, mama Bramantya malah memberikan undangan pada gadis itu.


**************


Brian terus memeluk mommy nya, ketika mereka sudah bertemu di rumah sakit. Kebetulan hari ini bertepatan dengan sudah diijinkannya tuan Abraham untuk kembali pulang. Nyonya Sarah dan Claudia ikut bersama dengan mereka, tetapi karena besarnya tekanan keluarga William, kedua perempuan itu tidak bisa berkutik. Bahkan Elmar mendorong kursi roda tempat papa Arine duduk, sedangkan Arine dan Brian mendampingi berjalan di samping suaminya.


"Papa... bagaimana jika untuk sementara papa ikut kami menginap di rumah Arine dan Brian... Sepertinya cucu opa, ingin bersama dengan opanya.." berusaha untuk memastikan keamanan papa mertuanya, Elmar membuat pengaturan,


Mendengar hal itu, Claudia dengan ekspresi ketakutan menatap ke arah mamanya. Sepertinya perempuan paruh baya itu, memahami tatapan mata putrinya itu,

__ADS_1


"Nak Elmar..., tuan Abraham masih memiliki istri dan juga putri selain Arine. Alangkah naifnya jika papa dibawa ke tempat Arine, dan mengabaikan keberadaan kami, bahkan meminta persetujuanpun juga tidak.." dengan berani, nyonya Sarah menyela pembicaraan,


Tatapan Elmar yang semula damai, tiba-tiba seperti melonjak beberapa oktaf, Arine langsung tanggap, dengan pegangan tangannya pada pergelangan tangan laki-laki itu, akhirnya Elmar bisa mengendalikan emosinya.


"Lalu apa mau anda tante..., sepertinya aku tidak pernah mendengar, anda bisa bersikap baik pada papa.. Kecuali ada sesuatu yang kalian inginkan dari papa..." dengan sinis, Elmar menjawab perkataan mama tiri istrinya.


"Sudahlah nak Elmar.., Arine.., Sarah..., tidak perlu semua untuk diperdebatkan. Malam ini, papa ingin tinggal di kamar papa, sendirian. Siapapun tidak ada yang boleh masuk ke kamar papa... Sudah jelas bukan.." merasa jengah dengan keributan yang terjadi, tuan Abraham menyela pembicaraan.


Arine maju ke depan, kemudian menepuk bahu kanan papanya tiga kali. Laki-laki paruh baya itu menengadahkan wajahnya ke atas, dan putrinya tersenyum sambil menganggukkan wajahnya.


"Malam ini, Arine dan Brian akan menemani papa di rumah. Brian belum pernah tidur di rumah opa bukan, juga kak Elmar belum pernah sekalipun menginap di rumah papa mertua.." melihat senyuman istrinya, tidak akan ada penolakan dari Elmar. Laki-laki itu langsung tersenyum, dan ikut menganggukkan kepala.


"Asyik... malam ini Brian akan tidur di rumah opa Abraham. Setelah tadi malam tidur di rumah opa William.., Brian sangat senang dan bahagia, karena memiliki banyak keluarga.." di luar dugaan, Brian melompat kegirangan.


Semua yang ada di tempat itu tertawa melihat kekocakan bocah kecil itu. Bahkan nyonya Sarah dan Claudia, yang tadi merasa jengkel karena mendengar jika Arine, Elmar, dan putranya akan mengikuti pulang, ikut menahan senyuman yang hampir keluar dari bibirnya.


"Baik... Abidzar, kamu paham bukan apa yang harus kamu lakukan.. Siapkan pengawalan di rumah papa. dan semua perlengkapanku jangan lupa ikut kamu sertakan.." Elmar dengan tegas memberi perintah pada asisten pribadinya.


"Siap tuan... segera saya akan membuat pengaturan.." setelah menjawab, Abidzar kemudian mempercepat langkahnya. Laki-laki itu tampak berkoordinasi melalui ponsel yang ada di tangannya. Dan di tangan laki-laki itu, Elmar selalu tercukupi semua kebutuhannya.

__ADS_1


************


__ADS_2