One Night Incident

One Night Incident
Bab 53. Sikap Kepemilikan


__ADS_3

Arine membiarkan putranya Brian melakukan panggilan pada Elmar, karena dirinya tidak memiliki nomor ponsel laki laki itu. Hanya nomor Bram dan Raffi yang disimpannya, dan Arine yakin jika Brian akan menghubungi salah satu dari laki laki itu. Terlihat jika Tuan Abraham sudah terbangun, dan mungkin mendengar keributan yang terjadi..


"Papa mau minum..." Arine segera mendatangi papanya, sambil membawa gelas di tangannya.


Perlahan dengan menggunakan straw, gadis itu membantu papanya meminum air mineral. Claudia dan nyonya Santa mencibir apa yang dilakukan oleh gadis itu. Tiba tiba...


"Daddy... ini Brian. Mommy dan Brian mendadak harus ke Jakarta dadd,.. karena opa masuk rumah sakit. Saat ini kami ada di rumah sakit Harapan Kita.." Arine kaget mendengar suara putranya.


Arine sama sekali tidak mengira jika Brian akan memiliki nomor ponsel Elmar, bahkan bisa menghafalnya.


"Sejak kapan Brian... Daddy mencari kalian kemana mana. Okay... apakah ada masalah dengan kalian berdua.." suara Elmar yang sengaja di loud speaker oleh Brian, tampak dengan tegas bertanya pada Brian.


"Ceritanya nanti daddy... Ada beberapa orang yang menindas mommy... dadd.. Mereka bahkan menyebut Brian sebagai anak haram... Kapan daddy akan menyusul kami di Jakarta.. tunjukkan pada mereka dadd, jika Brian bukan anak haram.." lanjut Brian sambil menyuarakan kekesalannya..


"Tenanglah Brian... berikan ponselnya pada mommy. Daddy akan bicara, dan tunggu kedatangan daddy segera..." mendengar perkataan daddy nya, Brian berjalan mendekat pada mommy nya, kemudian menyerahkan ponsel kepada perempuan itu.


Arine kaget dengan reaksi dari Elmar. Dengan tangan bergetar, Arine menerima ponselnya kemudian menempelkan ponsel ke telinga setelah terlebih dahulu mematikan loud speaker,


"Kak... jangan pedulikan kata  kata Brian..." sambil berjalan keluar dari dalam kamar, Arine memberikan tanggapan.


"Arine.. kenapa kamu melakukan sesuatu tanpa persetujuanku. Kamu sudah membawa putraku pergi, tanpa sedikitpun meninggalkan kabar untukku.. Jika kamu tahu Arine,. bukan hanya aku, tapi Bram, Abidzar bahkan papa dan mama semua terlibat untuk menemukanmu dan Brian.." bukannya menanggapi kata kata Arine, tapi Elmar malah marah padanya.

__ADS_1


"Sebentar kak... memang apa pedulinya kalian, dan ingat kak. Tidak ada hubungan apapun diantara kita kak, jadi jangan sok mengaturku.." simpati Arine pada Elmar seketika hilang, setelah mendengar kemarahan laki laki itu.


"Dengar Arine.. aku akan menjadikanmu sebagai istriku, karena Brian adalah putraku. Tunggu aku, secepatnya aku akan melakukan perjalanan ke Jakarta untuk menemuimu dan Brian. Jangan berlari lagi Arine, karena aku pasti akan bisa menemukanmu.." dengan sikap kepemilikan, Elmar berusaha menahan Arine.


Arine mengambil nafas, tapi posisinya saat ini, dirinya memang membutuhkan bantuan dari laki laki yang sedang menelpon itu. Gadis itu mencoba mengendalikan emosinya..


"Sudahlah kak Elmar.. aku tidak mau terpancing emosi. Papaku masih drop, aku harus kembali menemaninya di dalam ruangan.. Dan pesanku kak... jangan memberi harapan terlalu tinggi untuk putraku, karena aku tidak akan pernah bisa melihat putraku kecewa." sebelum mengakhiri panggilan, Arine berpesan pada Elmar.


"Arine... aku tidak pernah memberikan harapan apapun pada Brian.. Takdir yang sudah mempertemukan kita, dan menunjukkan pada Brian siapa daddy nya. Tunggu aku Arine.." gadis itu bertambah kesal, mendengar respon dari laki laki itu.


"Bye.." dengan kesal, Arine langsung mengakhiri panggilan.


Sebelum memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruangan, Arine mencoba menenangkan dirinya kembali. Setelah berhasil menguasai dirinya kembali, gadis itu perlahan mendorong pintu, kemudian masuk ke dalam.


"Daddy sedang banyak aktivitas sayang... besok jika daddy sudah kembali ke Jakarta, Brian bisa mengadukan secara langsung. Biarkan daddy istirahat malam ini..." Arine tersenyum, dan berusaha menenangkan putranya.


Ketika Arine mendekati papanya, Claudia dan Nyonya Santa melihat gadis itu dengan sinis. Tapi gadis itu mengabaikannya, malah menarik kursi dan duduk di samping papanya. Tuan Abraham tersenyum menatap wajah putrinya..


"Arine.. siapa tadi yang ditelpon oleh cucuku. Apakah dia daddy nya Brian...?" mata tuan Abraham tampak berbinar, dan Arine tidak sampai hati untuk menghilangkan harapan laki laki itu.


Perlahan Arine menganggukkan kepala untuk membuat papanya senang. Tampak wajah Claudia dan Nyonya Santa terlihat semakin kesal, melihat keakraban gadis itu dengan papanya..

__ADS_1


"Benarkah putriku sudah menikah..., dan Brian benar benar cucuku.. Jika ada waktu, bawa suamimu padaku Arine.. papa ingin mengenalnya sebelum usia papa di dunia ini berakhir.." dengan senyum bahagia, tuan Abraham membuat permintaan.


"Untuk kali ini sepertinya belum bisa pa... karena daddy nya Brian sedang ada project di Sapporo, pulau Hokkaido. Jika project yang dikerjakannya sudah selesai, pastilah daddy nya Brian akan menemui papa, dan akan meminta restu langsung dari papa..." Arine menyenangkan hati papanya.


Meskipun nanti, Arine tidak tahu bagaimana harus berbicara jujur pada laki laki itu, jika ternyata Elmar dan dirinya tidak memiliki hubungan apapun. Brian ikut mendekat ke arah opanya, dan anak itu meletakkan kepala di sisi ranjang tuan Abraham.


"Tidak apa Arine... kapan kapan pasti papa akan melihatnya." Tuan Abraham tampak bahagia, karena didampingi putri dan cucunya.


"Oh ya pa... by the way, papa harus banyak istirahat pa.. Untuk saat ini, papa sebaiknya kembali istirahat dulu, dan lain waktu papa bisa berbincang lagi dengan kita.." tiba tiba dari belakang, Nyonya Santa menyela pembicaraan Arine dan tuan Abraham.


Tuan Abraham tampak tidak suka mendengar perkataan dari istrinya. Tapi untungnya Arine juga menyetujui, jika papanya harus banyak beristirahat..


"Iya pa... Arine dan Brian malam ini akan menginap di rumah sakit, jadi papa segeralah beristirahat. Jika papa sudah sembuh, kita akan banyak berbicara lagi.." Arine ikut merayu papanya.


"Opa harus banyak beristirahat, sehingga cepat sembuh. Jika sudah sembuh, opa bisa menemani Brian jalan jalan di Jakarta, Jadi, jika Brian kembali ke Sapporo, akan punya cerita untuk teman teman, jika Brian juga pernah jalan jalan dengan opa.." dari samping mommy nya, Brian ikut meminta opanya agar cepat beristirahat.


"Cucu opa memang sangat cerdas.  Dan opa pasti akan segera sembuh jagoan, karena cucuku datang untuk menghiburku, jauh jauh dari negara Jepang.." Tuan Abraham tersenyum. Laki laki paruh baya itu mengusap pelan kepala bocah kecil itu.


Brian tiba tiba mengangkat kakinya, bocah itu berjinjit, dan tiba tiba memberikan ciuman di pipi opanya.


"Good night opa..., sweet dream.." dengan suara mungilnya, Brian mengucapkan selamat malam.

__ADS_1


Tuan Abraham mengangguk dan tersenyum samar. Untuk menghargai upaya cucunya, akhirnya tuan Abraham kembali memejamkan matanya.


*************


__ADS_2