One Night Incident

One Night Incident
Bab. 32 Mencari Kejelasan


__ADS_3

Beberapa Saat


Elmar melihat ke arah Abidzar yang sudah memberikan isyarat agar mereka segera berangkat. Tapi Brian dan Raffi masih terlihat antusias berbicara. Akhirnya dengan sopan, Elmar meminta ijin pada Raffi untuk segera pergi membawa Brian.


"Selamat siang pak... kebetulan saya dan Brian akan segera ke restaurant, karena kami ada janji bertemu dengan kolega. Jika anda tidak keberatan, saya akan membawa Brian sekarang.." dengan sopan, Elmar berbicara pada Raffi.


"Mmmpph... baik Tuan, maaf sudah mengganggu perjalanan kalian. Brian... jaga sikap dimanapun berada ya. Jika papa kecil boleh tahu.. di hotel mana mommy menginap sayang.." Raffi berusaha mencari tahu. Dan sikap ingin tahu Raffi, menimbulkan perasaan tidak suka pada diri Elmar.


"Papa besar yang tahu dimana hotelnya mommy.. papa kecil.. Tapi papa besar sedang ada urusan keluar, dan jika papa kecil ingin tahu, coba papa kecil bertanya pada papa besar saja.." dengan lugu, Elmar memberikan tanggapan.


"Ya sudah Brian.., papa kecil akan mencari tahu sendiri. Ayuk toss dulu dengan papa.." Brian dan Raffi melakukan toss di depan Elmar. Tidak tahu mengapa, ada rasa iri di hati Elmar saat ini. Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan oleh laki laki itu, selain hanya menatap kedekatan mereka.


Tidak lama kemudian, Brian menghampiri Elmar kemudian kembali tangan anak kecil itu berpegangan dengan tangan laki laki itu. Elmar segera berjalan menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka. Tapi begitu mereka masuk ke dalam mobil,..


"Atshusi... kita ikuti mobil itu. Ada seseorang yang ingin aku temui..." tiba tiba Raffi yang ternyata masih berada di lobby, meminta temannya untuk mengikuti mobil Elmar.


*********


Di dalam mobil...


Dalam perjalanan, Elmar mencari cara untuk mengorek keterangan dari Brian, tetapi berpikir kata kata apa yang tidak terlalu vulgar. Beberapa saat laki laki itu terdiam, sampai dari kursi depan asisten Abidzar beberapa kali mencuri pandang pada mereka di kursi tengah..


"Brian... bagaimana ceritanya, kenapa kamu memiliki dua papa, ada papa besar dan ada papa kecil. Uncle juga mau nih, menjadi papa tengah untuk Brian.." dengan tutur halus, Elmar memulai pembicaraan dengan anak kecil itu,

__ADS_1


"Tidak tahu Uncle... sejak kecil, papa besar dan papa kecil meminta Brian untuk memanggil dengan panggilan seperti itu. Dan mommy juga mengijinkannya.." tidak ada yang ditutupi, Brian akhirnya bercerita,


"Mmmpphh... jika begitu, apakah papa besar dan papa kecil tidak tinggal satu rumah dengan kalian. Maksud Uncle, tidak tinggal dengan Brian dan mommy.." pertanyaan Elmar sudah mulai menjurus pada kedekatan dua laki laki dengan mommy Brian,


"Tidak selalu Uncle... tapi papa besar yang agak sering menginap di rumah. Terutama jika Brian sedang sakit, pasti papa besar akan menginap di rumah, dan juga sering menemani mommy ke dokter. Jika papa kecil, seringnya jika week end, kata mommy papa kecil bekerja di kota ini Uncle, di Tokyo.." penjelasan Brian sedikit memberi harapan baru untuk Elmar.


Abidzar kembali melirik ke belakang, untuk mengingatkan tuan mudanya agar tidak terlalu menekan Brian. Namun.. Elmar tidak memperhatikan peringatan yang disampaikan oleh asisten pribadinya..


"By the way... jika papa besar menginap di rumah kalian, papa besar tidur dimana.. Apakah dengan mommy ataukan di kamar dengan Brian...?" lanjut Elmar.


"Tuan Elmar..." mendengar pertanyaan ELmar, Abidzar bersuara keras mencoba mengingatkan laki laki itu.


Brian yang masih polos, ikut menoleh ke arah Abidzar, dan Elmar malah memandang dengan tatapan marah pada Abidzar.


"Jika papa besar ke rumah, papa besar tidur dengan Brian Uncle.. karena mommy selalu tidur sendiri, dan mengunci pintu kamar dari dalam." jawaban terakhir, membuat Elmar menjadi tenang.


***********


Gyopao Gyoza Roppong Restaurant


Melihat Brian dengan laki laki yang membawanya keluar dari dalam mobil, kemudian masuk ke restaurant, Raffi dengan ditemani Atshushi segera mengikuti keluar dari dalam mobil. Mereka sengaja memperlambat jalan kaki mereka, merasa khawatir jika tanpa dia ketahui, ternyata tiga laki laki di depannya itu tahu jika diikuti.


"Raffi... apakah kita akan mengikuti masuk ke dalam sekarang.." Atshushi yang berdiri di samping laki laki itu, bertanya.

__ADS_1


"Kita tunggu beberapa saat dulu Atshu.. Setelah sekitar lima belas menit, barulah kita masuk ke dalam,. Jika pada akhirnya kita bertemu kembali dengan mereka, hal ini akan seperti kebetulan saja." Raffi meminta mereka untuk menunggu beberapa saat.


"Baik.."


Ketika Raffi tanpa sengaja melihat ke arah pintu masuk, tiba tiba matanya menangkap kedatangan Arine yang baru keluar dalam taksi. Tatapan laki laki itu langsung berkilat, dan memiliki pikiran buruk tentang hubungan Arine dengan laki laki yang tadi datang bersama dengan Brian. Perlahan Raffi berjalan menghampiri Arine, dan meninggalkan Atshushi berdiri sendirian.


"Arine... akhirnya tanpa sengaja kita bertemu di restaurant ini.." dengan senyum merekah, Raffi menyapa gadis itu.


Arine menoleh, dan ketika melihat Raffi berdiri di dekatnya, gadis itu tampak terkejut.


"Raffi, bagaimana bisa kamu juga berada di tempat ini. Jika aku, kebetulan ada agenda interview dengan perwakilan perusahaan yang menyewa jasaku Raffi. Makanya aku pergi dari Sapporo tadi pagi.." tanpa prasangka apapun, Arine memberikan tanggapan.


"Tadi pagi... tapi tadi tanpa sengaja aku bertemu Brian di hotel termegah di kota ini. Brian mengatakan jika datang dari kemarin." Raffi mencoba mengaitkan kedatangan ibu dan anak, karena jawaban Arine berbeda dengan yang tadi disampaikan Brian.


"Kamu bertemu juga dengan Brian ... Raff.. Kebetulan sejak kemarin Bram mengajak Brian untuk berlibur di kota ini, dengan alasan keluarganya dari Jakarta, sedang holiday di negara ini. Sedangkan aku datang untuk urusanku sendiri, tapi nanti malam juga ada janji dengan Brian. Bram mengatakan jika nanti malam akan mengantarkan Brian di hotel tempat aku menginap.." Arine menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Dalam hati Raffi tersenyum senang, karena bisa jadi kedatangan Brian dan laki laki yang bersamanya, tidak berkaitan dengan kedatangan Arine di restaurant ini juga.


"Oh ya Arine... jam berapa kamu akan melakukan wawancara. Apakah perlu aku temani lebih dulu, agar rasa tegangmu hilang...?" Raffi mencoba untuk mengambil kesempatan. Tapi...


"Tidak perlu Raff.. kebetulan pukul 13 p,m aku diminta untuk menemui pewawancara. Sekarang tinggal 5 menit saja. Silakan lanjutkan aktivitasmu Raffi.., aku akan masuk dulu ke dalam." untungnya ekspresi Arine dalam menolak Raffi terlihat wajar, sehingga laki laki itu tidak banyak berpikir.


"Okay baiklah Arine.. tapi jangan salahkan aku ya,. Aku akan menunggumu sampai proses wawancara berakhir, karena aku masih ingin berbicara banyak denganmu..." tapi Raffi masih ingin menghabiskan waktu dengan Arine.

__ADS_1


"Terserah kamu sajalah.., aku duluan masuk ya.." Arine segera bergegas pergi meninggalkan Raffi sendiri. Dan laki laki itu hanya tersenyum kecut, melihat punggung gadis itu meninggalkannya.


**********


__ADS_2