
Arine dan Elmar sangat beruntung, karena mereka datang menjenguk Tuan Abraham, laki-laki paruh baya itu sudah dalam keadaan stabil. Melihat kedatangan putri, dan juga menantunya (tuan Abraham mengakui Elmar sebagai menantu, karena pengakuan laki-laki muda itu ketika mereka pertama kali bertemu), tersenyum dan berusaha untuk beranjak duduk.
"Tunggu Elmar pa... Elmar akan membantu papa duduk..." Elmar berlari mendatangi laki-laki paruh baya itu, dan perlahan membantunya untuk duduk bersandar,
Arine mengambil bantal besar, dan mengganjal punggung papanya dengan bantal tersebut. Setelah itu, Arine mengambil air putih di gelas dan meminta papanya untuk minum beberapa teguk. Tuan Abraham sangat penurut, dan melakukan apa yang diinginkan oleh putrinya. Beberapa saat kemudian...
"Arine... Elmar.., dimana cucuku Brian. Kenapa papa tidak melihatnya...?" merasa tidak menemukan Brian, tuan Abraham mengarahkan pandangan ke pintu masuk.
"Brian tadi sedang jalan dengan Uncle nya papa, dan mereka pulang ke mansion untuk bertemu dengan oma Brian. Yah... bisa dimaklumilah pa..., sudah beberapa hari mama tidak bertemu dengan cucunya..." Elmar menjelaskan keberadaan Brian,.
"Hmmmpph... papa sangat senang mendengarnya menantuku. Ternyata banyak yang menyayangi cucuku, sehingga Brian tetap tenang meskipun sedang tidak bersama dengan mama dan papanya.." tuan Abraham tersenyum bahagia.
"Iya pa... mungkin karena terbiasa mandiri di Sapporo, Hokaido. Sifat mandiri dan disiplin sangat dominan dimiliki oleh Brian.." Arine ikut menimpali.
Sesaat pembicaraan mereka terputus, dan Arine teringat dengan perbincangan bersama Elmar ketika mereka masih berada di dalam kamar hotel. Hati gadis itu deg degan, merasa ragu jika Elmar akan melakukan seperti yang sudah dijanjikan di kamar tadi. Di samping gadis itu, Elmar juga terlihat sedikit gelisah seperti menata hati dan perasaannya juga. Tiba-tiba...
"Papa... apakah papa sore ini sedang dalam keadaan baik-baik saja pa.." di luar dugaan, ternyata Elmar memulai pembicaraan,
Dari sampingnya, Arine melihat ke arah laki-laki itu, dan Elmar malah menggenggam tangannya seperti memberi isyarat agar gadis itu diam sebentar.
"Ada apa nak Elmar.. Papa merasa sudah membaik, dan mungkin pulang juga sudah bisa. Melihat putriku dan suaminya, serta cucuku yang dalam keadaan sehat, tidak kurang satu apapun, papa seperti memiliki semangat hidup lagi..." sambil tersenyum, tuan Abraham memberikan tanggapan.
__ADS_1
"Nanti dulu pa..., papa harus bersabar dulu. Nanti Arine akan berkonsultasi dulu dengan dokter, karena hanya dokterlah, expertise yang bisa memastikan papa sudah baik atau belum.." Arine memotong kata-kata papanya, terlihat sekali jika perempuanĀ muda itu sangat khawatir.
"Kamu terlalu mengkhawatirkan papa Arine.. Papa tidak berbohong, papa sudah kembali sehat dan fit, seperti semula.." masih dengan wajah pucat, laki-laki paruh baya berusaha meyakinkan putrinya.
"Papa Abraham... apa yang diucapkan Arine benar adanya pa.. Kita harus tunggu dulu advice dari dokter. Meskipun papa sudah terlihat kuat, tetapi harus melakukan serangkaian pengecekan dulu. Barulah papa akan kita bawa pulang, dan kita akan berkumpul dengan Brian juga.." Elmar ikut mendukung perkataan Arine,
Tuan Abraham yang sudah terlihat bersemangat, kembali merasa lesu mendengar jawaban dari putri dan menantunya itu. Tetapi sepertinya laki-laki paruh baya itu, bisa menerima apa yang dikatakan oleh kedua anak muda itu. Kemudian...
"Nak Elmar..., sejak tadi papa melihat seperti ada yang mau ditanyakan oleh nak Elmar. Ada apakah itu, katakan pada papa..." ternyata raut wajah gelisah yang terlihat di wajah Elmar, dengan mudah diketahui oleh laki-laki paruh baya itu.
"Emmmpphh... iya pa. Sebenarnya ada yang mau Elmar tanyakan pada papa.. Karena Elmar tidak bisa lagi untuk menahannya begitu lama.." akhirnya Elmar memulai pembicaraan.
"Pada kesempatan kali ini pa.., Elmar akan melamar Arine langsung pada papa.. Jika papa merestui, kita akan menikah secara hukum di Indonesia pa. Brian membutuhkan legalitas pengesahan dari negara ini, karena dari negara ini papa dan mamanya berasal.." akhirnya Elmar melanjutkan kata-katanya.
"Nak Elmar... Arine.., tidak ada sebuah kebahagiaan bagi seorang papa, melebihi ketika putrinya dipinang oleh laki-laki. Meskipun, kalian berdua sudah memiliki seorang putra, menikahlah lagi di negara ini. Papa akan mendukung kalian, dan restu papa akan selalu bersama dengan kalian berdua." dengan suara tersendat karena rasa haru, tuan Abraham berbicara pada dua anak muda di depannya itu.
Air mata mulai mengalir dari sudut mata laki-laki itu, dan Arine serta Elmar dengan serentak memberikan pelukan pada beliau.
********
Mansion....
__ADS_1
Nyonya Clara, mamanya Elmar sudah berpakaian rapi. Wajah dan penampilan perempuan paruh baya itu tampak elegance, menandakan sebagai sosialita yang sebenarnya. Dari dalam kamar, Brian berjalan keluar dengan menggandeng tangan Bramantya..
"Oma... kita akan berangkat sekarang bukan..? Brian sudah kangen pada mommy, sudah sejak pagi Brian tidak bersama dengan mommy.." melihat omanya yang sudah siap, Brian tanpa ragu bertanya pada perempuan itu.
"Benar cucu oma..., ayuk kita berangkat. Oma sudah menunggu kalian sejak tadi.. Oh ya Bram... tadi papamu sudah mengirim kabar pada mama, jika malam ini diperkirakan akan sampai di rumah. Sudah sejak tadi malam, papamu melakukan perjalanan dari Dubai..." sambil meraih tangan Brian, nyonya Clara mengajak bicara putra pertamanya,.
"Oma... apakah yang oma maksud adalah opa William, yang pernah bertemu dengan Brian di Tokyo.." tidak diduga, Brian menyahut pembicaraan itu,.
"Benar Brian sayang... Itu opamu, dan karena opa masih banyak kesibukan di beberapa negara, baru malam ini melakukan perjalanan pulang ke Jakarta. Opa kangen pada cucunya Brian... " sambil tersenyum, nyonya Clara memberikan tanggapan atas pertanyaan Brian.
"Oh ya Brian... by the way.., nanti malam Brian ikut papa besar ke bandara ya. Kita akan menjemput opa, pasti opa akan merasa senang bisa berjumpa dengan Brian.." sambil menundukkan badan kemudian menggendong Brian, Bramantya ikut memberikan tanggapan.
Nyonya Clara tersenyum, melihat keakraban Brian dengan putra pertamanya. Meskipun beberapa waktu, perempuan paruh baya itu merasa prihatin karena dari kedua putranya belum ada yang menikah, padahal dirinya sudah merindukan cucu. Namun.. ketika mengetahui jika ternyata putra keduanya sudah memiliki seorang putra, kebahagiaan perempuan itu terasa lengkap.
"Bip.. bip... bip..." tiba-tiba ponsel nyonya Clara berbunyi.
Perempuan itu segera mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan ketika melihat jika nyonya Edward yang melakukan panggilan, perempuan itu mengabaikannya.
"Panggilan dari siapa ma... kenapa mama membiarkannya.." sambil berjalan menuju mobil, Bramantya bertanya pada mamanya.
"Hempphh... biar saja Bram. Mama baru malas beradu pendapat, Mamanya Stevia yang melakukan panggilan.." sambil masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka pintunya, perempuan itu memberikan tanggapan.
__ADS_1
*************