One Night Incident

One Night Incident
Bab. 49 Berusaha Keras


__ADS_3

Siang Harinya


Di depan laptop, Arine tidak bisa fokus karena teringat dengan apa yang sudah dilakukan pada Elmar tadi pagi. Dalam hati, sebenarnya Arine merasa sakit ketika memberikan peringatan pada Elmar, namun hal itu harus dilakukannya. Arine tidak mau, jika kehidupan bahagianya dengan Brian, tiba tiba direcokin orang asing, dan seenaknya mempermainkan kehidupan mereka di masa depan.


"Aku pikir, reaksiku tadi pagi sangat wajar... Dengan seenak hatinya, Elmar datang dan pergi, dan memperlakukanku dengan serendah itu. Tanpa aku sadari, bahasa tubuhku menerima semua perlakuan itu dengan suka rela. Hal itu sangat memalukanku..." tiba tiba Arine menutup wajah menggunakan kedua tangan.


Terbayang jelas bagaimana laki laki itu memperlakukannya. Bukannya menolak, tetapi semua yang dilakukan Elmar membuatnya terlena. Masih teringat, bagaimana bibir kenyal Elmar menyentuh bibir, dan tanpa komitmen apapun, mereka akhirnya berpagutan dan saling menikmati. Arine meraba bibir dengan menggunakan jari tangannya, seakan merasakan kehangatan bibir laki laki itu. Setelah itu, tangan Arine turun dari bibir menuju ke telinga, dan leher. Semua sentuhan yang pernah dilakukan oleh Elmar, seakan terbayang lagi di wajahnya, dan tubuh gadis itu menunjukkan reaksi.


"Emmmpphh.... Elmar, kita sudah terlalu jauh..." tanpa sadar, Arine mendesis sambil menyebut nama laki laki yang sudah diusir dari kehidupannya itu.


Arine seakan menikmati permainannya sendiri, dengan membayangkan Elmar yang melakukan itu semua kepadanya. Jantung gadis itu menjadi berdegup kencang, dan nafasnya menjadi memburu... Tetapi...


"Gila .. gila... apa yang sudah aku lakukan sendiri, kenapa aku malah tidak bisa menghilangkan pikiran tentang Elmar dari otakku..." tiba tiba gadis itu seperti kembali tersadarkan. Wajah Arine menjadi merah padam..


"Kenapa pesona laki laki itu sangat membiusku, dan aku merasa akrab dengan perlakuannya, juga aku merasa tidak asing.. Kenapa aku menginginkanmu Elmar..." gadis itu menjadi seperti tidak terkendali.


Ternyata di dalam hati Arine, nama Elmar meskipun baru beberapa hari mereka bertemu, sudah menorehkan ingatan dan kenangan masa lalu. Seperti ada dorongan dari dalam dirinya, untuk terus berada di dekatnya, tetapi akal waraa Arine masih berusaha untuk mendominasi. Beberapa saat, gadis itu masih berada dalam mode diam. Laptop di depannya sama sekali tidak disentuhnya, dalam otaknya kali ini, dipenuhi bayangan tentang Elmar...


"Tok.. tok... tok.., mommy.., apakah Brian boleh masuk ke ruang kerja mommy..." lamunan Arine sesaat buyar, dan gadis itu berusaha mengembalikan dirinya dalam mode waras.

__ADS_1


"Masuklah sayang..., apa yang bisa mommy bantu.." sambil berusaha untuk tersenyum, Arine menyambut kedatangan putranya.


Tiba tiba bocah kecil itu berlari dan langsung memeluk putranya.. Arine menerima pelukan itu, dan mengusap usap punggung anak itu. Arine tahu, mungkin Brian masih terkejut dengan sikapnya tadi pagi, dan memisahkan putranya dengan laki laki yang dipanggilnya dengan sebutan daddy.


"Ada apa Brian... ceritakan pada mommy, jika saat ini Brian sedang ada masalah.." Arine berusaha menyelami perasaan putranya.


"Mmmppphh.... tidak mommy, Brian hanya tidak mau mommy bersedih. Sejak dari pasar, mommy berada di dalam ruang kerja, dan mendiamkan Brian. Apakah mommy marah dengan sikap Brian momm..., karena Brian yang membawa daddy dalam kehidupan kita..?" dengan polosnya, Brian bertanya sambil menatap mata mommy nya.


Arine tersenyum, kemudian mengusap lembut wajah putranya...


"Buang jauh jauh pikiranmu itu Brian.. Mommy tidak marah padamu, hanya saja ke depan, mommy dan Brian harus lebih hati hati sayang.. Kita bukan orang yang lemah, dan kurang.. Dengan tangan kita sendiri, kita akan bisa mencukupi kebutuhan hidup kita, dan untuk sementara mommy bisa sekaligus bertindak sebagai daddy untuk Brian.. Jadi, mommy pikir, Brian berhenti dulu untuk mencari papa dalam arti sebenarnya untuk Brian.. Pada saatnya, percayalah sayang,  papamu akan datang sendiri." dengan suara pelan dan lembut, Arine berusaha memberi pengertian pada putranya.


*************


Bram menatap punggung Elmar yang sejak pagi melamun di balkon kamar atas. Di tangan laki laki itu ada sebatang rokok, yang hanya dibiarkan saja. Perlahan Bram mendatangi Elmar, kemudian duduk di depan laki laki itu..


"Apa masalahmu Elmar... apakah dengan melamun dan membakar rokok, akan dapat memberimu jalan keluar.." Bram meraih tangan kanan adik kandungnya, kemudian mengambil rokok yang sudah hampir habis itu. Laki laki itu kemudian membuang di asbak, setelah terlebih dahulu mematikan apinya.


Elmar mengangkat wajah dan beradu pandang dengan mata kakaknya. Tetapi laki laki itu tetap diam, tidak mau membuka suara..

__ADS_1


"Kamu sedang ribut dengan Arine... Hemmpph... aku sudah lumayan lama mengenal gadis itu, dan bahkan aku sempat jatuh hati kepadanya. Jika saja... kamu tidak datang, dan tidak ingin menjadikan gadis itu sebagai istrimu, aku mungkin sudah akan melamarnya.." sambil tersenyum pias, Bram memberikan tanggapan.


"Dan sekarang jika kamu menyerah, aku akan merebut kesempatan ini. Tidak akan aku biarkan siapapun, termasuk dirimu akan mendekat pada Arine.." lanjut Bram.


Tapi... tiba tiba Elmar berdiri, kemudian mencekal leher kakak kandungnya..


"Apa yang kamu katakan Bram... aku bisa membunuhmu, jika berani mendekat pada Arine. Aku hanya memberi waktu pada Arine untuk berpikir dan bernafas, dan aku akan berusaha untuk membawanya pergi dari kota ini.." tatapan Elmar seakan ingin menghujam mata kakak kandungnya.


Bukannya marah, Bramantya malah tersenyum. Ternyata laki laki itu hanya ingin menguji adiknya...


"Kejar impianmu Elmar... Arine bukanlah seperti gadis gadis kebanyakan. Pengalaman masa lalu, dan kehidupannya, membuat gadis itu menjadi seorang perempuan yang mandiri dan tangguh, serta tidak akan mudah untuk percaya dengan laki laki manapun. Namun... dengan kegigihanmu, aku yakin Arine akan lunak kepadamu, apalagi dengan bantuan Brian yang juga mendukungmu," melihat adiknya sudah kembali bereaksi, Bramantya tersenyum puas.


"Benar Bram... aku tidak berpikir ada seorang gadis sekuat itu. Kamu tahu sendiri bukan, di Jakarta banyak para gadis yang menantiku, bahkan mereka tidak risih saling berebut hanya untuk mendapatkan perhatianku. Tapi Arine beda... meskipun gadis itu  rapuh, namun ternyata dirinya kuat..." ucap Elmar perlahan.


"Baiklah... beri waktu sementara waktu untuk Arine... Besok pagi, aku akan berkunjung ke rumahnya, akan aku lihat apakah dia berani untuk berkeluh kesah tentangmu, ataukah malah akan menghujatmu.." Bram berdiri dan menepuk punggung adik kandungnya, kemudian laki laki itu berjalan meninggalkan laki laki itu.


Elmar masih tetap berada di tempat itu, dan senyuman kembali muncul di bibir laki laki itu. Sepertinya laki laki itu sudah menemukan cara yang jitu untuk menundukkan kembali Arine.


**********

__ADS_1


__ADS_2