
Satu minggu kemudian...
Bramantya terkejut melihat bayi yang dilahirkan Arine. Laki-laki itu teringat dengan wajah bayi polos yang menggemaskan itu, dia teringat dengan adik satu satunya ketika masih bayi. Beberapa kali, Bramantya mengambil gambar bayi itu, dan bahkan mempostingnya sebagai status di whatsapps, dan profil Insta**gram. Raffi pun tidak kalah heboh, melihat bayi lucu itu, laki-laki itu malah enggan untuk kembali ke Tokyo, bahkan berencana untuk memindahkan kantor perusahaan di Sapporo agar lebih dekat dengan bayi milik Arine.
"Bram... curang sekali kamu, kenapa memasang foto Brian di profilmu, ataukah kamu mau meng klaim jika Brian adalah putramu.." Raffi tiba-tiba datang dan menegur Bramantya yang sedang tersenyum mengamati gambar bayi yang dilahirkan Arine.
"Lah.. apa pedulimu Raff... Brian adalah putraku, dan akan memanggilku sebagai papa juga. Kamu tidak boleh untuk melarangnya.." Bramantya tidak mau kalah. Laki-laki itu merasa ikut merawat ketika mama bayi itu hamil, jadi juga berhak untuk dipanggil sebagai papa..
"What... jangan harap kamu Bram... Brian akan memanggilmu sebagai Uncle .. not papa. Akulah yang akan dipanggil papa oleh Brian. Ingat papa Arine lebih mengenalku, dan menitipkan putrinya padaku. jadi posisiku lebih berhak untuk dipanggil papa.." Raffi bersuara dengan keras.
Dari dalam rumah, Arine keluar sambil membawa Brian dengan tangan di depan,
"Kalian ini bisa tidak sih, tidak ribut, bertengkar terus. Brian sampai terbangun mendengar suara kalian..." Arine menegur dua laki-laki itu. Dengan datangnya Raffi, dan perdamaian antara mereka terjadi, rumah Arine selalu ramai, karena Raffi dan Bramantya hampir setiap hari selalu ada di rumahnya. Kedatangan dua laki-laki itu sangat membantu kerepotannya, meskipun tidak jarang akhirnya mereka seperti anak kecil, yang selalu berebut.
"Raffi tuh Rine... masak dia protes ketika akan meminta Brian untuk memanggilku papa, dan malah meminta Brian untuk memanggil paman padaku. Enak saja.." Bramantya mengadukan sikap Raffi.
"Ya terang tidak boleh, sudah jelas bukan bagaimana hubungan kalian berdua. Akulah yang berhak untuk dipanggil papa, lagian kakek Brian juga menyetujuinya.." Raffi membela dirinya.
Arine geleng geleng kepala melihat dua laki-laki itu. Tapi hati gadis itu merasa senang, karena memiliki dua pengawal. Hubungannya dengan Raffi perlahan membaik, dan tidak meributkan bagaimana nanti ke depannya.
"Kenapa Brian nanti tidak memanggil kalian berdua dengan panggilan papa.. Ada papa besar, dan ada papa kecil.. Bukankah akan adil untuk kalian berdua, dan Brian juga akan merasa senang, karena mendapatkan kasih sayang dari kedua papanya.." Arine menengahi keributan dari dua laki-laki dewasa itu.
__ADS_1
"Ha.. ha.. ha.., aku menyetujuinya Rine.. Karena aku yang lebih lama bersamamu, jadilah akulah papa besar, dan Raffi papa kecil. Deal.." Bramantya berbicara serius..
"Hempphhh... okaylah.. Deal..." sahut Raffi.
Tiba-tiba ponsel Bramantya berdering, dan ketika melihat siapa yang melakukan panggilan padanya, laki-laki itu segera menjauh dari Arine dan Raffi. Laki-laki itu tidak mau, jika kedua orang itu mengetahui isi pembicaraan dengan keluarganya. Setelah agak jauh, Bramantya segera menerima panggilan tersebut.
"Ya ma.. Bram disini.." laki-laki itu segera menyapa mamanya.
"Untunglah kamu segera mengangkatnya Bram.. Bagaimana kabarmu, dan jawab jujur pertanyaan mama.. Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari mama kan.. Bram.." Bramantya bingung dengan pertanyaan mamanya.
"Maksud mama...??? Bramantya tidak menyembunyikan apapun dari mama, benar ma Demi Tuhan... Dan keadaan Bram disini juga baik-baik saja, hanya saja dalam waktu dekat ini, Bram belum bisa kembali ke Jakarta ma.. Eksperimen Bram sedang akan memasuki masa panen.." laki-laki itu menjelaskan keadaanya pada mama.
"Tapi Bram... siapa bayi yang ada di profil Ig dan whatsapps itu. Kenapa wajah bayi itu sama persis dengan wajah adikmu, seperti pinang dibelah dua.." mama laki-laki itu terus mengejarnya.
"Baiklah.. mama menjadi tenang sekarang. Bagaimana dengan putri teman mama yang fotonya pernah mama kirimkan padamu. Jika kamu tertarik, secepatnya mama dan papa akan melamarnya.." karena ingin segera mendapatkan cucu, terdengar perempuan itu mendesak putranya.
"Hadeh ma... Bram belum berminat ma, dan Bram janji akan mencarinya sendiri. Dah ya ma.. ada teman Bram soalnya. bye.." laki-laki itu segera mengakhiri panggilan, setiap kali mamanya menyinggung tentang perjodohan.
***********
Hummingbird House
__ADS_1
Tuan Abraham merahasiakan tentang putrinya Arine yang sudah melahirkan di Sapporo, Hokkaido. Laki-laki tidak menyembunyikan kebahagiaannya, dan pulang ke rumah dengan raut wajah cerah. Setelah sekian lama, hanya ada penyesalan dan kesedihan setelah tanpa sengaja mengusir putrinya, di rumah ini biasanya hanya ada amarah dan emosi saja.
"Papa kelihatannya berbeda dari biasanya, kali ini wajah papa tampak cerah.." Nyonya Sarah menyapa kedatangan suaminya.
Tuan Abraham hanya tersenyum, dan menyerahkan jas serta tas pada perempuan itu. Setelah menerima barang-barang suaminya, nyonya Sarah mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah. Dari arah kamar Claudia, pasangan suami istri itu melihat jika putrinya akan pergi. Terlihat dari dandanan yang dikenakan Claudia.
"Mau kemana kamu Claudi... ini sudah malam. Tidak bisakan kamu membiasakan diri untuk tetap berada di dalam rumah, jika malam sudah datang.." tuan Abraham menyapa gadis itu.
"Ini Jakarta pa,.. kota metropolitan bukan kota kecil. Hal biasa di kota ini, jam segini cewek cewek mencari hiburan pa.. Lagian, Claudi tidak aneh aneh kok.." gadis itu membuat alasan.
"Papa tahu .. ini Jakarta. Tapi kebiasaan buruk ya jangan diikuti, karena akan lebih aman jika seorang perempuan itu berada di dalam rumah." laki-laki itu tetap melarang putri tirinya.
Nyonya Sarah hanya diam saja, tidak ikut berkomentar mendukung putri kandung, ataupun suaminya.
"Tenang pa... tidak perlu paranoid. Claudi ini bukan kak Arine, yang tidur dengan laki-laki sembarang, dan akhirnya hamil tanpa diketahui siapa papa dari anaknya.." ucapan Claudia itu dengan telak menyindir tuan Abraham.
Wajah laki-laki yang tadi terlihat cerah itu, tiba-tiba berubah menjadi merah padam. Amarah mulai menguasai laki-laki itu, dan tuan Abraham dengan cepat berjalan masuk ke dalam kamar. Nyonya Sarah dengam tergesa mengikuti langkah suaminya..
"Tenang pa... jangan diambil hati kata-kata Claudia. Maklumlah anak itu, belum dewasa tumbuh kembangnya.." Nyonya Sarah berusaha melunakkan hati suaminya.
"Jika memang putrimu tidak bisa diatur, dan tidak mendengarkan kata-kataku, suruh pergi saja dari rumah ini. Semua yang terjadi di dalam rumah ini adalah tanggung jawabku, tapi jika ada yang berani membantah, maka lebih baik dia harus meninggalkan rumah.." kata kata tuan Abraham terdengar marah.
__ADS_1
Dari luar kamar, tubuh Claudia mendadak menggigil takut. Gadis itu betul betul tidak menyangka, jika papa tiri yang biasa menyayangi dan menuruti semua kehendaknya, berubah menjadi seperti itu. Akhirnya Claudia kembali masuk ke dalam kamar, tidak jadi pergi meninggalkan rumah.
*************