
The Ritz Carlton Grand Ballroom
Suasana ballroom hotel sangat meriah, dan dua pasang pengantin berdiri di stage menyambut tamu. Senyuman dan wajah cerah memancar di wajah kedua pengantin, dan aura itu mengalir pada pengunjung dalam ball room tersebut. Tamu mendapatkan sweeping yang ketat, untuk memastikan jika mereka memang memiliki barcode invitation letter.
"Apakah berdiri terlalu lama, membuat kakimu pegal honey..? Duduk sajalah, jangan memaksakan diri.." Elmar bertanya pada Arine. Laki-laki itu sebenarnya menolak untuk ikut dalam acara seperti ini, demikian juga dengan Arine. Namun mereka tidak bisa memaksa papa laki-laki muda itu, karena Tuan William ingin memperlakukan kedua putranya secara sama.
"Arine masih bisa bertahan kak.., kita harus menghormati tamu. Kasihan papa, jika dipermalukan dengan sikapku yang tidak bisa menahan lelah sedikit.." sambil berbisik, Arine memberikan tanggapan,
"Hempphh.. terserah kamulah honey, aku sudah memintamu.. Mana tamu, juga tidak ada henti hentinya lagi, memang apa sih menariknya melihat orang dipajang di depan seperti ini.." lain halnya dengan Elmar. Dari bibir laki-laki itu terus keluar kata-kata tidak suka,
Dari sebelah anak muda itu, Bramantya tampak tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sikap adik kandungnya. Laki-laki itu terus tersenyum memberikan sambutan pada tamu, dan menggenggam tangan Keiko dengan erat. Sedangkan Keiko, karena baru pertama kalinya gadis itu melihat acara seperti ini, dan dia sendiri yang mengalaminya, gadis itu terlihat kagum dengan rentetan budaya yang dijalaninya.
"Sabar Elmar... hargai diri papa dan mama di depan para tamu..! Lihat wajah beliau berdua, sangat bersinar bukan.." Bramantya ikut memberikan teguran pada adiknya.
"Apakah kamu melihatku tidak sabar sejak tadi Bram..?? Kamu hanya melihat papa dan mama, tetapi kamu tidak melihat papa Abraham bukan. Sejak tadi, meskipun senyuman terus keluar dari bibir papa, tapi aku tahu papa memaksakan diri, untuk membuat kami bahagia.." Elmar tidak mau kalah, malah membawa bawa nama papa Arine.
Karena perdebatan kakak adik di stage itu terdengar, dan beberapa tamu sampai melihat pada mereka, Arine menarik tangan Elmar untuk lebih mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Please kak... jaga kesopanan sedikit saja., Tidak akan lebih dari satu jam lagi, pasti tamu sudah akan habis. Papa William juga tidak menyebarkan undangan terlalu banyak, hanya teman inti saja.." terdengar Arine meminta suaminya untuk sedikit mengalah.
"Iya istriku yang cantik.., aku hanya tidak tega melihat papa Abraham. Harusnya papa masih istirahat untuk recovery kesehatan, tapi harus berada dalam ruangan ini.." menggunakan papa Arine, Elmar tersenyum menjawab teguran dari istrinya.
"Jangan banyak alasan, lihat wajah papa berbinar kak.. Brian sangat protective, dan pasti anak itu tidak akan membiarkan opa nya sampai jatuh sakit. Ingat kak... kita ada security kecil, dan siapapun pasti akan menurut jika Brian sudah berbicara.." paham jika suaminya hanya mencari pembenaran, Arine kembali menukas kata-kata suaminya.
Tuan William dan Nyonya Clara hanya geleng geleng kepala, ketika mendengar putra kedua mereka yang sejak tadi tampak sudah tidak tahan dengan keadaan mereka di stage. Tamu-tamu juga tampak menikmati jamuan makanan yang melimpah, dan terlihat dari atas stage, pengawal keluarga William dan security tampak menutup gate masuk ke ball room. Sepertinya semua daftar tamu yang diberikan undangan sudah hadir, dan ternyata tidak ada satupun yang melewatkan undangan itu.
"Sudah selesai bukan kak..., sepertinya WO sudah akan meminta kita untuk turun, bergabung dengan para tamu lainnya kak.." melihat penanggung jawab WO melangkahkan kaki ke arah mereka, Arine berbisik memberi tahu suaminya..
***********
"Makanlah dulu honey..., aku sudah membuat blokade untuk meja kita. Tidak ada satupun yang akan berani mendekat ke meja kita, pengawal kita dengan sigap akan memberikan larangan untuk mereka.." setelah pengantin bergabung dengan tamu undangan yang lain, Elmar dengan penuh kelembutan memberikan treat pada istrinya.
"Iya kak... Arine sedang menikmati sup, mumpung masih hangat. Kak Elmar juga makanlah dulu..., tidak baik jika kita mengabaikan dan mengacuhkan tamu seperti ini. Padahal mereka datang untuk memberikan ucapan selamat buat kita bukan.." Arine mencoba pelan-pelan memberi tahu suaminya.
"Iya.. iya.. honey. Tetapi para tamu itu datang, bukan hanya untuk mendoakan kita honey, mereka juga datang karena ingin menunjukkan wajah pada papa, juga padaku. Banyak orang bermimpi, untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kita.." dengan percaya dirinya, Elmar menyahuti kata-kata Arine.
__ADS_1
"Apapun itu motivasi mereka kak..., kita harus memperlakukan orang dengan baik bukan.. Kak Elmar tenang saja, jangan terlalu banyak berpikir, dan under estimate pada tamu yang datang.." akhirnya bosan berdebat, Arine meminta suaminya untuk bersikap wajar.
Dari arah belakang, terlihat Brian mendorong kursi roda, dengan opa Abraham sedang duduk di atasnya. Anak kecil itu, sangat tahu bagaimana memperlakukan opa nya, dan membawa laki-laki paruh baya itu berkeliling ruangan untuk menyapa secara langsung para tamu yang hadir.
"Mommy... daddy..., Brian datang bersama opa.." Brian memberikan sapaan pada Arine dan Elmar.
Brian mendorong opa Abraham, mendekatkannya pada mommy dan daddy nya. Melihat kedatangan papa mertuanya, Elmar yang sejak tadi bermalas malasan, segera berdiri dan membantu papa mertuanya untuk duduk bergabung dengan meja mereka. Arine tersenyum haru melihat perhatian suaminya itu. Brian kemudian duduk di samping mommy nya..
"Papa pasti merasa sangat lelah ya pa..., karena papa seharusnya masih recovery.." dengan tulus, Elmar bertanya dengan tatapan khawatir pada papa mertuanya.
"Tidak seperti yang kamu pikirkan nak Elmar... Seorang papa, dimanapun pasti akan segera sembuh, dengan kebahagiaan dalam pernikahan putrinya. Apalagi papa yang tidak bisa menyaksikan pernikahan kalian berdua, masih mendapatkan kesempatan pada acara ceremony seperti ini, kebahagiaan papa tidak bisa untuk papa sampaikan.." dengan mata berlinang, tuan Abraham seperti menyampaikan isi hatinya.
Mendengar jawaban itu, Elmar kaget. Laki-laki muda yang sejak tadi berkeluh kesah, dan tidak senang dengan acara perhelatan akbar itu merasa malu dengan perkataan papa mertuanya. Arine hanya tersenyum lembut, ketika Elmar melihat ke arahnya.
"Brian juga senang daddy.., mommy... Adat kebudayaan negara Indonesia sangat unik, dan pasti memiliki nilai jual yang tinggi. Meskipun Brian terlahir di Sapporo, bukan di Indonesia, tetapi Brian merasa seperti menjadi warga negara asli dari negara ini.." Brian ikut menyahut.
"Iya pa... terima kasih papa masih bisa mengucapkan syukur atas perhelatan ini. Kita nikmati acaranya pa, kita juga melihat semua tamu yang datang juga menikmati suasana pesta..." Elmar akhirnya memberikan tanggapan atas kata-kata dari keluarganya.
__ADS_1
Di meja lain, tuan William dan nyonya Clara tersenyum melihat bagaimana putra kedua mereka, yang semula tidak menyetujui untuk diadakan pesta, bergabung dengan putra pertama mereka, saat ini sudah bisa menikmatinya. Pasangan suami istri itu, merasa puas karena merasa sudah bisa menghantarkan tugas mereka selaku orang tua, dimana kedua putranya sudah menikah semua.
****************