One Night Incident

One Night Incident
Bab 38. Mengenalkan Diri


__ADS_3

Tokyo Bay Shiomi Prince Hotel


Tuan William yang masih berada di dalam Pant House, akhirnya menemui Arine dan Raffi. Mereka berbincang tentang banyak hal, dan laki laki paruh baya itu sama  sekali tidak paham jika di keluarganya ada kemelut. Tapi sebagai orang tua, laki laki itu masih menerima Arine dan Raffi seperti tamu pada umumnya. Abidzar ikut menemani laki laki paruh baya itu, membiarkan Arine menunggu putranya.


"Miss Arine... putra anda Brian memang sangat luar biasa. Baru saja kemarin sore, Bram mengenalkan pada kami, ternyata anak itu sudah sukses membuat kami jatuh hati. Jika tidak melanggar privacy anda, sebenarnya apakah Brian itu putra Bram... putraku Miss..?? Karena dari wajah mereka, terlihat sangat mirip.." Abidzar merasa kaget dengan keterus terangan tuan William,


Namun Abidzar juga tidak bisa berbuat banyak, karena pertanyaan sudah terlanjur untuk dilontarkan. Laki laki itu hanya diam, tetapi di luar dugaan, Arine sedikitpun tidak tersinggung. Arine malah tersenyum menanggapi pertanyaan dari tuan William, dan Raffi malah menatap ke wajah Arine dengan berbagai pertanyaan juga..


"He.. he.. he.., tuan William jangan terlalu banyak berasumsi. Banyak orang yang mengira, jika Bram adalah papa dari putra saya Brian, karena kemiripan wajah antara keduanya. Namun Tuan.., mohon jangan ikut salah sangka. Saya dan Bram itu pure berteman Tuan.., tidak pernah sedikitpun ada niatan bagi saya untuk menikah dengan putra Tuan.. Bram sudah sangat banyak berkorban untuk saya dan Brian.. dan juga sering bertindak sebagai papanya Brian.. Namun saya akan sangat mengijinkan, jika Bram mendapatkan gadis yang jauh jauh di atas saya.." dengan sopan, akhirnya Arine memberikan tanggapan.


Mendengar penjelasan Arine, harapan yang berkembang di hati laki laki paruh baya itu, tiba tiba luruh. Namun berbeda jauh dengan Tuan William, Raffi merasa bahagia dengan jawaban yang diberikan oleh gadis itu. Masih ada harapan bagi dirinya untuk mengejar cinta dari mantan pacarnya itu.


"Hempphh... baiklah Miss Arine..., saya akan menghargai semua keputusanmu. Tapi.., jika suatu saat Bram mengatakan padaku, jika anak itu mau melamar atau menikahimu, maka aku akan langsung mengijinkannya." sambil tersenyum, laki laki paruh baya itu memberikan tanggapan.


Ke empat orang di  ruang tamu Pant House itu beberapa saat terdiam. Arine mulai membuka ponsel di tangan, menunggu kabar dari Bram tentang putranya. Tiba tiba dari pintu masuk, terlihat Bramantya dan Nyonya Clara masuk ke dalam ruangan. Arine mengangkat wajah, dan bersinar ketika melihat kedatangan Bramantya..


"Bram... akhirnya kamu datang juga. Dimana Brian sekarang Bram..., aku akan membawanya ke hotel tempat aku menginap.." Arine segera bertanya tentang Brian.


Nyonya Clara sejenak menatap ke arah Arine, seperti ada pandangan kurang suka. Sesaat kemudian, perempuan paruh baya itu melihat pada suaminya. Tetapi ekspresi yang ditunjukkan suaminya biasa saja, dan seperti tidak ada yang disembunyikan di wajah laki laki itu.

__ADS_1


"Maaf Arine... tadi aku menemani mama ke laboratorium, karena aku peduli dengan kesehatan Brian, anak itu aku titip pada adikku sementara waktu. Saat ini, Brian sedang bersama dengan Elmar.. Tunggulah beberapa saat lagi, pasti tidak akan lama lagi Brian sudah akan kembali.." apapun hasil pengujian DNA, Bramantya terlihat tidak mempermasalahkannya.


Laki laki itu masih bereaksi wajar wajar saja, pada Arine. Tetapi tidak dengan nyonya Clara, karena rasa curiga berlebihan pada suaminya yang menjalin affair dengan Arine, perempuan itu terlihat agak kurang menyukai kedatangan Arine.


"Nyonya... saya mohon ijin untuk menunggu putra saya Brian di tempat ini, apakah nyonya mengijinkan.." tiba tiba merasa tidak enak dengan sikap mama Bram, Arine meminta ijin pada perempuan itu.


"Hempphh... itu urusanmu. Tetapi Pant house ini adalah private place untuk keluargaku, jadi aku agak keberatan jika anda menunggu di dalam ruangan ini.." semua yang ada di dalam ruangan terkejut mendengar respon dari perempuan  itu.


"Mama,,," tuan William berteriak, karena merasa tidak mengenal istrinya. Namun ekspresi nyonya Clara terlihat landai..


"Arine... sepertinya kehadiran kita di ruangan ini, agak membuat seseorang tidak berkenan. Aku akan mengajakmu untuk menunggu Brian, dan membawanya pergi dari Pant House ini. Mari ke bawah, aku akan menemanimu.." Raffi merasa marah dengan respon negatif dari Nyonya Clara.


Laki laki itu segera menarik tangan Arine untuk membawanya pergi. Bram merasa tidak nyaman dengan situasi itu, dan laki laki itu...


"Bram... apa yang diucapkan Raffi ada benarnya. Maaf Bram... mungkin kamu dan keluargamu akan menyelesaikan permasalahan yang mungkin terjadi. Sebagai orang luar, tidak etis jika aku tetap berada di ruangan ini. Bukan keinginanku sebenarnya, tapi tadi tuan Abidzar yang membawaku kesini.. Aku akan menunggu di lounge..." Arine tetap tersenyum.


Setelah mengucapkan kata pamit, gadis itu segera mengikuti Raffi yang menggandeng tangannya menuju ke arah pintu lift, Bramantya hanya bisa menghela nafas, dan ketika memperhatikan reaksi papanya, terlihat jika sepertinya papanya juga tidak mengenal Arine.


***********

__ADS_1


Beberapa saat menunggu di lounge, akhirnya Arine melihat putranya Brian sedang menggandeng tangan seorang laki laki muda memasuki lobby. Gadis itu segera berlari menghampiri putranya...


"Brian..." sambil memeluk Brian, Arine mengabaikan keberadaan Elmar di samping putranya.


Wajah Elmar tampak berbinar, ketika melihat sendiri wajah dan penampilan dari gadis yang saat ini sedang memeluk putranya. Namun seketika laki laki itu terdiam, seperti kehilangan kata kata untuk merespon gadis itu...


"Mommy... bagaimana mommy sudah berada disini. Kata papa besar, nanti malam papa besar baru akan membawa Brian ke hotel tempat mommy menginap.." dengan polosnya, Brian bertanya pada mommy nya.


"Iya Brian sayang... itu karena mommy sudah sangat kangen pada putra mommy yang ganteng ini.. Kebetulan juga, papa kecil menemani mommy ke tempat ini.." Arine menunjukkan keberadaan Raffi yang berdiri di belakangnya.


Melihat keberadaan laki laki itu bersama dengan Arine, tatapan Elmar mendadak tidak suka. Tapi laki laki itu berusaha menahan ketidak sukaannya itu.


"Terima kasih papa kecil, sudah membawa mommy pada Brian.. Oh ya momm... kenalkan Uncle Elmar momm..., tapi tadi Brian sudah berjanji untuk memanggil Uncle Elmar dengan sebutan daddy... Jadi sekarang, Brian punya papa besar, papa kecil, dan juga punya daddy.." dengan ekpresi bahagia, Brian tiba tiba mengenalkan mommy nya dengan papa kandungnya.


Arine mengangkat wajahnya ke atas, dan gadis itu beradu pandang dengan Elmar.. Tidak tahu apa sebabnya, jantung Arine tiba tiba berdegup kencang, ketika keduanya beradu pandang... Tapi...


"Brian... kamu tidak boleh random seperti ini nak... Setiap ada laki laki dewasa yang dekat denganmu, kamu menganggap mereka sebagai papamu.. Rubah panggilan itu sayang..." merasa tidak enak dengan Elmar, Arine berusaha menasehati putranya..


"Tidak masalah Miss... aku menyukai panggilan itu diberikan Brian untukku... Kenalkan namaku Elmar.." tiba tiba Elmar mengulurkan tangan, dan dengan terpaksa akhirnya Arine menjabat tangan laki laki itu.

__ADS_1


Sambil malu malu, akhirnya Arine menerima jabatan tangan itu, dan dengan ucapan lirih menyebutkan namanya.


**********


__ADS_2