One Night Incident

One Night Incident
Bab 62. Provokatif


__ADS_3

Ruang ICCU...


Setelah mendapatkan perawatan intensif beberapa saat, akhirnya kondisi Tuan Abraham sudah kembali membaik. Peralatan darurat yang terpasang di sekujur tubuh, sudah mulai sedikit demi sedikit dilepaskan. Namun ketika tenaga kesehatan menawarkan untuk kembali ke kamar, tuan Abraham menolak. Laki-laki paruh baya itu menjawab, untuk menunggu putrinya Arine serta cucunya Brian datang kembali. Selain itu, Tuan Abraham masih merasa khawatir jika istri dan putri tirinya Claudia masih berada dalam kamar perawatan.


"Papa.... kenapa bisa menjadi seperti ini pa...?" tiba-tiba terdengar suara Arine.


Perempuan muda itu langsung menghambur ke pelukan tuan Abraham, dan laki-laki paruh baya itu menerima pelukan putrinya. Tetapi melihat laki-laki muda yang sangat familiar dikenal di negara ini, membuat alis laki-laki itu terkejut. Apalagi laki-laki muda itu berdiri sambil menggendong cucunya Brian, dan senyuman terbit dari bibir laki-laki muda itu.


"Lepaskan pelukanmu pada papa Arine.. Papa malah menjadi tidak bisa bernafas.." setelah bisa menguasai dirinya, tuan Abraham meminta Arine untuk melepaskan pelukan.


Arine melakukan apa yang diperintahkan oleh papanya, dan terlihat air mata mengalir di pipi perempuan muda itu. Tidak diduga, tiba tiba sebuah tissue terulur di depan Arine. Dan ketika Arine melihat, ternyata Elmar yang memberikan tissue itu kepadanya. Tanpa banyak bicara, Arine segera mengambil tissue itu kemudian menyeka air matanyanya. Beberapa saat kemudian...


"Tuan muda Elmar, bukankah ini anda...?? Apa hubungan tuan muda dengan putriku Arine, dan kenapa cucuku Brian bisa akrab denganmu.. Bahkan Brian tampak pulas berada dalam gendonganmu..." tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya, tuan Abraham mengajak Elmar berbicara.


Kerongkongan Arine tampak tercekat, dan perempuan itu bingung bagaimana harus menjelaskan posisi Elmar pada papanya. Mengingat kondisi yang saat ini dialami oleh papanya, akan sangat beresiko jika sampai membuat jawaban yang mengejutkannya.


"Benar pak Abraham... ijin memperkenalkan diri. Nama saya Elmar, dan ijinkan saya memanggil pak Abraham dengan panggilan papa..." Elmar mengawali pernyataannya. Arine tidak bisa menyela pembicaraan itu, dan dia hanya mengaitkan jari jari tangannya untuk mengurangi kecemasan dan kegelisahannya.

__ADS_1


"Brian adalah putra Arine dan saya.. pa.. Dan mohon dimaafkan jika saya baru bisa menemui papa, untuk meminta doa restu. Kami sudah menikah di negara Jepang pa... dan selama ini Arine serta Brian tinggal di negara ini juga.." Arine terkejut dengan kata-kata Elmar. Namun ketika perempuan muda itu bermaksud untuk meluruskan, tangan Elmar tiba tiba menggenggam erat tangannya. Laki-laki itu seakan memintanya untuk diam saja.


"Ya Tuhan... betapa tercelanya aku sebagai papanya Arine nak Elmar... Karena keegoisanku di masa lalu, Arine sampai pergi dari rumah meninggalkanku tanpa pamit. Dan ternyata... seorang cucu  sudah dihadiahkan untukku..." terlihat tangisan bahagia menghampiri tuan Abraham.


Laki-laki paruh baya itu seperti tidak bisa menahan perasaannya. Arine menjadi lebih cemas lagi, dan perempuan muda itu menjadi semakin merasa bersalah. Arine mengira, tuan muda Elmar sengaja berbohong untuk menjaga kestabilan kondisi papanya, sehingga diapun diam tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.


"Papa tidak perlu lagi berbicara seperti itu. Hanya doa restu dari papa, yang saat ini Elmar butuhkan pa.. Agar pernikahanku dan Arine bisa menjadi keluarga yang bahagia, dengan kehadiran Brian di tengah tengah kami.." dengan manisnya, Elmar terus mengajak tuan Abraham berbicara.


Senyum kebahagiaan tampak terlihat di wajah laki-laki paruh baya itu. Kebahagiaan ketika tahu, jika putrinya sudah memiliki suami yang membanggakan, dan juga sudah dikaruniai seorang putra yang sangat ganteng. Keadaan berbeda dirasakan oleh Arine, karena ada rasa bersalah sudah membohongi papanya. Tapi karena melihat keadaan papanya, saat ini Arine berpikir belum bisa berbicara sebenarnya pada laki-laki paruh baya itu.


***********


Merasa kesal dengan kejadian di kantor polisi, Nyonya Edward, mamanya Stevie mengajak nyonya William, mamanya Elmar untuk bertemu. Perempuan sosialita itu ingin menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, dan akan mengadukan tentang Elmar. Nyonya William yang belum beristirahat dengan baik, dengan wajah lelah menerima teman sosialitanya itu di restaurant.


"Ada apa lagi Jeng..., apa yang akan kamu bicarakan denganku. Berkali kali aku sudah sampaikan bukan, jika saat ini aku masih capai, masih jet lag.." dengan ekspresi kurang nyaman, nyonya William mengajak mamanya Stevia bicara.


"Iya Jeng.., aku paham. Tapi kabar yang aku sampaikan ini, pasti akan mengejutkanmu. Karena baru kali ini, ada seorang bocah dan seorang perempuan berani mengaku, dan merendahkan martabat kita.." dengan menggebu, nyonya Edward memberikan tanggapan.

__ADS_1


Nyonya William mengambil nafas panjang, untuk mengurangi kejengkelannya. Kemudian...


"Tidak usah berbelit jeng.., segera katakan. Kamu seharusnya juga tahu bukan, bagaimana keadaanku saat ini. Jika tidak mengingat siapa yang mengundangku kali ini, aku masih memilih untuk tidur saja di dalam kamar..." dengan sedikit judes, mama Elmar meminta lawan bicaranya untuk tidak berbelit,


"Baik.., baik Jeng.. Tadi aku dan Stevia baru saja pulang dari kantor polisi. Semua ini aku lakukan, karena untuk menjaga martabat keluarga kita Jeng.. Jangan sampai, martabat kita dengan seenaknya direndahkan oleh orang yang tidak jelas..." akhirnya nyonya Edward menceritakan kejadian di kantor polisi tadi.


Kata-kata dengan nada hiperbola disampaikan oleh perempuan sosialita itu, dan nyonya William tidak menyela, atau memotong pembicaraan. Beberapa kali, karena permbicaraan tidak kunjung terputus, nyonya William mengambil nafas, untuk mengurangi ketidak nyamanannya. Setelah beberapa saat, akhirnya...


"Jeng.. kenapa jeng terlihat santai. Tidak ada  reaksi apapun, padahal yang aku sampaikan menyangkut harga diri dan martabat keluarga Jeng lho.." melihat tidak ada reaksi yang diperlihatkan oleh lawan bicaranya, nyonya Edward memancing pembicaraan.


"Hempphh.... Jeng, untuk saat ini, saya tidak banyak mencampuri urusan anak anak saya Jeng. Mereka sudah besar, dan kita malah akan makan hati jika terlalu ribet mencampuri mereka. Lagian, jika memang putra saya difitnah atau direndahkan, biarlah itu menjadi urusan anak saya sendiri, urusan Elmar. Tidak bijak rasanya, jika saya terlalu masuk dan ikut campur.." karena mengetahui jika Arine dan Brian yang sudah melakukan hal itu, nyonya William tidak banyak berbicara. Senyuman terlihat ketika perempuan itu berbicara, dan bahkan sedikitpun tidak muncul kekesalan dalam nada bicaranya.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Nyonya William, nyonya Edward menjadi kesal. Padahal perempuan itu tadi sudah berharap, jika akan mendapatkan dukungan dari lawan bicaranya.


"Ya sudahlah Jeng..., memang tidak sepantasnya saya tidak turut campur. Namun ingat lho Jeng, dulu kita pernah berbicara jika kita akan menjodohkan putra putri kita. Makanya saya bereaksi seperti ini, ketika tahu jika Elmar menjadi fokus fitnah orang.." akhirnya nyonya Edward menghentikan topik pembicaraan, meskipun masih terus memancing nyonya William.


"Itu kan hanya pembicaraan sepintas lalu saja kan, dan kita juga sudah mempertemukan mereka. Tetapi Jeng juga melihat sendiri bukan, bagaimana reaksi putraku Elmar saat itu..." nyonya William berusaha meluruskan.

__ADS_1


***********


__ADS_2