
Keesokan harinya...
Mata Arine terasa berat, tetapi gadis itu merasakan kehangatan yang belum pernah dirasakannya. Tiba tiba gadis itu merasa, ada sesuatu yang lembut dan kenyal mencoba merangsek ke bibirnya, dan tanpa sadar gadis itu membuka bibir dengan masih memejamkan mata. Uap hangat menyerbu masuk, dan beberapa saat kedua bibir itu saling berpagutan, tanpa disadari oleh Arine. Tapi...
"Mmmpphh... Bri.. an.." ketika gadis itu hampir kehabisan nafas, dengan cepat Elmar melepaskan ciuman itu. Kata pertama yang terucap dari bibir Arine adalah memanggil nama putranya..
Tidak ada jawaban terdengar, dan tangan kanan Arine memeluk erat pinggang di depannya. Gadis itu tidak sadar, jika Brian sudah keluar dari dalam kamar ketika mengetahui daddy dan mommy nya berbagi ranjang yang sama. Sepertinya anak itu sudah menjalankan rencana, bagaimana akan kembali menyatukan dua orang itu. Tetapi lama kelamaan, sepertinya Arine mulai tersadar, karena uap hangat dan degup kencang suara jantung terdengar di telinganya. Perlahan Arine membuka mata dengan lebar, dan...
"Kak Elmar... bagaimana kita bisa melakukan ini...?" Arine terkejut, dan mendorong dada Elmar menjauh darinya.
Gadis itu segera beranjak duduk dan memeluk kedua lutut ke atas... Elmar pura pura masih tertidur, kemudian perlahan membuka matanya dan menatap mata cemas gadis itu...
"Arine.. kamu sudah bangun duluan.. Maaf ya, aku sampai tertidur di ranjang ini, rasanya hangat dan sangat memabukkan.." mengabaikan kecemasan Arine, Elmar bersikap seperti tidak terjadi apa apa dengan Arine.
"Pppffthh.. iya kak. Aku akan mencari Brian dulu kak..." Arine berniat untuk beranjak bangun dari atas ranjang.
Tapi dengan cepat, tangan Elmar menahan pergelangan tangannya. Kedua orang itu kembali saling bertatapan, kemudian..
"Bolehkan sejenak saja memberi kesempatan padaku Arine.. Aku belum memiliki istri, dan juga tidak ada pacar, Aku merindukan suasana seperti ini..." tiba tiba Elmar mengangkat tangan Arine, kemudian meletakkan di pipinya sendiri.
Arine merasa gemetar dan merasakan seperti mengalami dejavu, teringat kembali malam memabukkan dengan laki laki yang akhirnya menjadi papa Brian. Beberapa saat, kedua orang itu saling merasakan degup jantung mereka, dan seperti saling mengobati kerinduan mereka.
"Mmmppphh.... lepaskan tangan Arine kak.. Kita tidak boleh seperti ini, ada batasan yang tidak boleh kita langgar.." tapi Arine sudah mulai sadar bagaimana posisi mereka.
Gadis itu kemudian melepaskan diri dari pegangan tangan Elmar, kemudian perlahan turun dari atas ranjang. Namun... Elmar tidak mudah melepaskan kesempatan itu. Laki laki itu mengikuti gadis itu turun, kemudian memeluk tubuh Arine dari belakang.
__ADS_1
"Biarkan sesaat saja Arine.. aku ingin memeluk tubuhmu seperti ini.." Elmar menyandarkan kepalanya di punggung gadis itu, dan menghirup aroma samar parfum yang sama, yang pernah digunakan Arine pada saat tidur dengannya beberapa tahun yang lalu.
Arine pun juga merasakan hal yang sama, kerinduannya akan sesuatu sepertinya juga terobati saat ini. Sehingga gadis itu membiarkan apa yang dilakukan Elmar padanya, dan malah ikut menikmati pelukan itu. Namun.. lagi lagi Arine tersadar, jika perilaku malam dan pagi ini seperti perilaku wanita nakal. Dirinya yang bisa bertahan menjaga kehormatannya selama ini, dengan mudah merasa hilang ketika berada dalam pelukan laki laki bernama Elmar.
"Lepaskan kak, Arine tidak mau melakukannya lagi.." dengan sekuat tenaga, Arine mencoba melepaskan diri dari pelukan laki laki itu,
Elmar hanya tersenyum samar, menatap punggung Arine yang berjalan meninggalkannya.
"Kamu harus jadi milikku Arine.., kapanpun itu.." ucap lirih Elmar sambil menenangkan dirinya, karena sesuatu dalam dirinya ikut bangun dan merasa tegang, ketika bersentuhan dengan kulit gadis yang dirindukannya itu.
***********
Ketika Arine sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dan gantian Elmar yang menggunakan kamar mandi, tiba tiba pintu kamar diketuk dari luar. Mengingat putranya Brian, dengan cepat Arine menuju ke arah pintu untuk membukakannya.
"Brian... dari mana saja kamu. Masa meninggalkan mommy tanpa pamit.." Arine memberi teguran pada putranya..
"Tidak etis mommy... Tadi Brian berencana akan mengajak Daddy untuk menemani Brian berenang, tapi melihat mommy dan daddy terlihat sangat pulas, Brian sungkan untuk membangunkan. Akhirnya Brian putuskan untuk berenang sendiri, dan sekalian tadi Brian mandi di kamar mandi yang ada di samping kolam renang..." Arine tersenyum mendengarkan cerita Brian.
Gadis itu kemudian membawa Brian masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu kamar. Tiba tiba dari arah pintu kamar mandi, terlihat Elmar juga sudah menyelesaikan mandi paginya..
"Selamat pagi daddy... ternyata daddy juga sudah mandi. Brian jadi ingin makan pagi, dengan ditemani daddy dan juga mommy.." Brian memberikan sapaan pada Elmar.
Arine ikut menatap ke arah kamar mandi. Terlihat Elmar bertelanjang dada, dan dada six pack laki laki tersuguh di depannya. Tidak tahu sebabnya, tiba tiba jantung gadis itu berdegup keras, dan merasa tidak kuat melihat dada telanjang itu. Akhirnya Arine mengalihkan pandangan, dan pura pura berjalan menuju ke atas ranjang, untuk merapikan selimut.
"Selamat pagi juga Brian sayang... kamu sudah mandi juga ya. Jika begitu, tunggu daddy sebentar, kita akan pergi sarapan pagi bersama.." Elmar kemudian berjalan ke arah sisi ranjang, karena laki laki itu meninggalkan pakaiannya di sana.
__ADS_1
Tiba tiba Elmar mengangkat pakaian atasnya, kemudian menciumnya beberapa kali. Arine menjadi tidak enak hati, kemudian..
"Kak Elmar.. apakah pakaian atasnya masih bisa untuk digunakan. Jika tidak, di kamar ini tidak ada pakaian laki laki, tapi aku membawa beberapa T shirt unisex. jika kak Elmar mau, kakak bisa mencobanya.." Arine menawarkan kaos yang dibawanya.
"Oh begitu... masih lebih baik Arine. Mungkin karena keringat, pakaian atasku sudah agak apek. Aku akan sangat bersenang hati, jika kamu mau meminjamkan kaosmu untuk aku pakai..." Elmar langsung menyetujui.
Arine kemudian kembali turun dari atas ranjang, kemudian berjalan menuju ke trolly bag yang ada di dalam lemari pakaian. Elmar dan Brian saling mengedipkan mata, kemudian tersenyum bersama.
"Ini kak... cobalah dulu, sepertinya T shirt ini memiliki ukuran all size, jadi kak Elmar pasti cukup.." Elmar kemudian mendatangi Arine yang masih berada di depan almari.
Melihat situasi itu, Brian tiba tiba menuju ke arah pintu keluar..
"Mommy... daddy.., Brian tunggu di restaurant ya. Kalian berdua selesaikan urusan kalian dulu.." tanpa minta persetujuan pada mommy nya, Brian sudah berlari keluar dari dalam keluar, dan Arine tidak sempat menahan anak itu.
Elmar hanya tersenyum, dan posisinya sekarang berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengan Arine. Di depan gadis itu, Elmar kemudian mengenakan kaos tersebut, dan sikut laki laki itu tanpa sadar menyenggol dada Arine.. Gadis itu merasa berdesir, dan berusaha untuk memundurkan tubuhnya ke belakang, tetapi rupanya laki laki itu malah merangsek ke depan semakin mendekatinya.
"Arine ... menikahlah denganku.." tiba tiba Elmar sudah kembali memeluk tubuh mungil Arine, dan membisikkan kata kata yang diimpikan setiap perempuan.
Sejenak Arine merasa terbuai dan terhanyut, dan ketika bibir laki laki itu kembali memagut bibirnya, Arine tidak bisa menolak. Kembali pasangan itu melakukan ciuman di bibir dengan posisi tubuh berhimpitan. Tetapi untungnya gadis itu segera kembali tersadar..
"Menyingkirlah kak Elmar... kita tidak boleh melakukan hal ini.." dengan terengah engah, Arine mencoba melepaskan diri dari laki laki itu. Namun Elmar bukan laki laki yang mudah untuk ditundukkan.., pelukan erat laki laki itu tampak mendominasi, dan membenamkan wajah gadis itu di dadanya. Sesaat Arine merasa aman dan nyaman, sehingga gadis itu kembali terbuai dengan perlakuan intim dari laki laki itu..
"Menikahlah denganku Arine.." kembali ucapan Elmar mengejutkan gadis itu.
***************
__ADS_1