
Sapporo
Menjelang malam, akhirnya Brian dan Arine sudah sampai kembali ke tempat tinggal mereka. Mereka masuk rumah dengan tidak banyak bicara, karena sesungguhnya Brian belum cukup melepas rindu untuk bertemu dengan daddy nya. Namun anak itu tidak sampai hati untuk menahan kehendak mommy nya..
"Brian... hari sudah petang.. Cukup cuci kaki tangan, basuh wajah dan ganti baju saja. Tidak perlu untuk mandi petang, karena suhu udara sangat dingin.. Mommy akan membuatkan mie ramen untukmu.." berpikir jika putranya lapar, Arine langsung menuju ke dapur,
"Baik mom..." tidak banyak bicara, Brian segera melakukan apa yang diperintahkan oleh mommy nya.
Arine segera mengambil mie kering, kemudian membuka kulkas untuk menyiapkan perlengkapan masak lainnya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Arine, untuk mengolah mie ramen. Begitu Brian sudah siap di meja makan, Arine sudah membawa dua mangkuk berisi mie ramen ke atas meja makan. Selain itu, dua gelas teh olong juga dibawa oleh perempuan itu.
"Mommy cepat sekali memasaknya, baru saja Brian duduk, ternyata mie ramennya sudah matang.." wajah Brian tampak bersinar.
"Iya... pelan pelan makannya tidak perlu keburu. Segera nikmati selagi panas.." Arine meletakkan sumpit dan sendok di samping mangkok Brian..
Tanpa banyak bicara, Brian segera menikmati mie ramen buatan mommy nya.. Arine tersenyum melihat sikap putranya, dan secara perlahan Arine juga segera menikmati mie ramen di mangkuknya. Dua orang itu dalam diam, menghabiskan mie ramen tanpa membutuhkan waktu lama..
"Mommy... bolehkan Brian bertanya sesuatu mom.." tiba tiba ketika Arine akan menyingkirkan mangkok ke dapur, Brian mengajukan pertanyaan.
"Boleh sayang, tapi tunggu sebentar ya. Mommy akan meletakkan mangkuk kotor di tempat cucian piring terlebih dahulu.." Arine segera mengangkat mangkuk dan membawanya ke dapur.
Brian tampak sabar menunggu sampai mommy nya selesai. Tidak lama kemudian, Arine sudah kembali duduk di depan Brian, dan siap mendengarkan pertanyaan dari putranya..
"Mommy sudah siap mendengar pertanyaan Brian.." sambil tersenyum, Arine berbicara pada putranya.
__ADS_1
"Mmmpphhh.., begini momm... Bagaimana dengan daddy Elmar... apakah mommy tertarik pada laki laki itu. Jika mommy juga menyukai daddy Elmar, Brian juga sangat senang menjadikan daddy Elmar menjadi papa sebenarnya, atau papa kandung." Arine terkejut dengan pertanyaan tiba tiba dari putranya.
Tapi ketika Arine melihat ke mata anak itu, ada kesungguhan dalam kata katanya.. Menghadapi hal itu, Arine mengambil nafas, dia harus hati hati menghadapi putranya yang sudah mulai kritis mengajukan pertanyaan.
"Brian... seiring bertambahnya usiamu, mommy harap akal Brian juga semakin bertambah sayang. Akan ada saat ketika apa yang kita pikirkan, tidak akan sama dengan kenyataan yang kita hadapi. Jika memang hal itu terjadi, hanya kata sabar yang dapat menjelaskannya.." sambil memandang wajah mommy nya, Brian tampak mendengarkan.
"Mommy dan tuan Elmar sangat berbeda jauh nak... mommy tidak akan cukup baik untuk menjadi pendamping dari laki laki yang kamu panggil sebagai Daddy. Tetapi mommy tidak akan bisa mengatakan, hal apa yang membuat mommy tidak layak untuk tuan Elmar.." lanjut Arine lirih.
Tiba tiba Brian turun dari kursinya, dan bocah itu memeluk tubuh mommy nya dengan erat.
"Tidak akan ada yang merendahkan mommy, siapapun itu. Brian akan berdiri untuk membela mommy.. jadi mommy jangan berkecil hati. Siapapun orangnya yang akan menikah dengan mommy nantinya, mommy selalu layak untuk mereka.." dengan penuh perasaan, Brian berbicara untuk mommy nya.
Arine tersenyum dan memeluk putranya yang sudah semakin besar.
"Tenangkan hatimu sayang... ayuk kita kembali ke ruang tengah. Brian mau bermain dulu, atau mau langsung istirahat.." beberapa saat kemudian, Arine melepaskan pelukan putranya, dan mengajak Brian kembali ke ruang tengah.
Blossom Hotel
Elmar terkejut ketika menuju ke kamar yang sudah ditempati oleh Arine dan Brian. Ternyata tanpa sepengetahuannya, putra dan gadis yang dikehendakinya sudah pergi meninggalkan hotel sejak siang hari. Menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya, ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sehingga Elmar harus ketinggalan dua orang yang disayanginya.
"Apakah kalian tahu, kemana tujuan Miss Arine tadi pagi..?" ingin menemukan keberadaan gadis itu, Elmar bertanya pada petugas jaga di receptionis.
"Untuk tujuan kemana, di luar pengetahuan kami Tuan. Hanya saja, Miss Arine menggunakan fasilitas service dari hotel, untuk mengantarkan ke bandara International Tokyo." petugas jaga menjelaskan.
__ADS_1
"Hempphh... baiklah." Elmar segera bergegas keluar dari dalam hotel menuju ke lobby,
Di depan lobby\, laki laki itu melakukan panggilan pada Abidzar\, dan juga Bramantya. Menggunakan fasilitas panggilan telpon melalui aplikasi whatts***apps\, Elmar melakukan panggilan bertiga. Tidak lama kemudian\, mereka sudah tersambung dan berada dalam satu panggilan.
"Abidzar.. persiapkan private jet secepatnya, kita akan menuju ke Sapporo di pulau Hokaido saat ini juga. Dan kamu Bram... segera bersiap, kamu yang akan menjadi tour guide untuk berkunjung ke kota itu..." tanpa menjelaskan apa yang menjadi masalahnya, Elmar langsung membagi tugas pada dua orang itu.
"Apa apaan ini Elmar, kamu tidak bisa seenaknya mengatur hidupku tahu... Baru saja, dua hari aku ketemu dengan mama dan papa, sekarang kamu malah mengajakku untuk balik ke Sapporo. Sebenarnya apa yang kamu cari Elmar.." Bram terlihat marah dengan sikap semaunya dari Elmar.
"Jangan bantah aku Bram... aku tunggu sekarang di bandara. Aku tidak mau menerima bantahan, dan kamu Abidzar, segera atur private jet untuk kita menuju ke Sapporo sekarang juga.." tidak mau menerima masukan, Elmar memaksa kedua orang itu.
Begitu selesai bicara, Elmar segera mengakhiri panggilan telpon secara sepihak. Dalam pikirannya saat ini, bagaimana dia bisa bersama kembali dengan Arine dan Brian. Bahkan laki laki itu lupa, jika dirinya tidak ada hak pada dua orang yang dicarinya.
"Antarkan aku ke bandara sekarang juga.." begitu turun dari lobby, Elmar memerintah driver untuk mengantarkan ke bandara.
"Baik tuan Elmar..." tanpa banyak bicara, driver segera menjalankan mobil, ketika Elmar sudah masuk ke dalam mobil.
Di kursi tengah, Elmar merasa gelisah karena terlupa tidak meminta nomor ponsel dari Arine, sehingga tidak bisa memantau keberadaan gadis itu. Laki laki itu lupa, jika Bram atau Abidzar memiliki nomor ponsel Arine, dan tinggal menghubungi mereka, maka akan didapatkan nomor ponsel dari gadis itu.
"Tuan Elmar akan pergi kemana Tuan, kok mendadak minta diantar ke bandara.." driver memberanikan diri bertanya pada laki laki itu.
"Mau ke Sapporo... aku harus mengejar masa depanku.." sambil lalu Elmar menjawab pertanyaan itu.
"Hempphh... sangat romantis sekali. Pasti akan sangat bahagia, perempuan yang nantinya akan menjadi pendamping tuan Elmar." dari depan, driver berkomentar tentang sikap laki laki itu.
__ADS_1
Elmar mengabaikan pujian yang diberikan padanya, karena fokusnya hanya pada Arine dan Brian.
*********