One Night Incident

One Night Incident
Bab 58. Kejadian Gawat


__ADS_3

Empat orang termasuk Brian yang berada di dalam ruangan itu, akhirnya fokus menatap pria yang berseragam polisi, yang sejak tadi bertanya pada Arine dan Brian. Polisi itu terlihat kembali membalik balik berkas yang ada di depannya, kemudian...


"Mbak Arine... saya harap, anda sudah bisa menangkap maksud dipanggilnya ke ruangan ini bukan. Saya akan berbicara langsung, yaitu terkait dengan dua hal. Yang pertama, anda sudah menyiramkan satu gelas minuman bersoda ringan, jika tidak salah "Coke" pada seorang gadis terhormat. Hal ini termasuk pada penganiayaan dan juga penghinaan..." mendengar hal yang disampaikan oleh polisi itu, Arine baru ngeh. Melihat Brian menatapnya, Arine menggenggam tangan bocah kecil itu.


"Yang kedua... anda sudah merendahkan salah satu pengusaha muda di negara ini. Anda akan tahu, hukuman apa yang layak untuk anda, karena mengatakan Tuan muda Elmar adalah papanya dari anak ini, suami anda. Semua khalayak di negara ini tahu, jika Tuan muda Elmar belum menikah, dan menjadi calon tunangan Nona Stevia, gadis terhormat yang memberi anda tuntutan kali ini.." lanjut polisi itu.


Arine menghela nafas, tidak terlihat sama sekali kecemasan ataupun kekhawatiran di wajahnya. Perempuan muda itu berpikir, untuk tidak membuat putranya menjadi merasa khawatir juga. Arine melatih Brian, untuk tetap menghadapi masalah dengan kepala dingin.


"Apakah anda sudah relate dengan masalah ini mbak Arine...?" polisi itu kembali bertanya pada Arine, dan menatap mata perempuan itu. Arine menatap balik mata laki-laki berseragam itu.


"Hempphh... aku sudah menduganya sejak awal., Sebelum saya menjawab, apakah pihak kepolisian bisa meyakinkan saya, jika tidak berpihak hanya pada satu pihak saja. Anda juga mau mendengarkan pembelaan, dan juga ikut menemukan bukti-bukti yang memperkuat kasus ini.." dengan nada berani, Arine membalikkan pertanyaan pada polisi tersebut. Pria berdasi terlihat gusar, dan menatap Arine dengan tatapan tidak suka, tetapi perempuan muda itu mengabaikannya.


"Pasti mbak Arine... saya tidak akan membela siapapun. Saya akan janji, berada dalam porsi saya sebagai penyidik, dan akan memperhatikan setiap detail pembelaan." setelah mengambil nafas panjang, akhirnya polisi itu menjawab dengan tegas.,


"Baiklah pak polisi.. Saya akui, saya memang menyiram "Coke" ke wajah perempuan sosialita itu. Hal itu saya lakukan, karena perempuan itu menghinaku dan juga putri saya. Jadi kejadian ini murni pembelaan, dan untuk memberikan peringatan kepadanya. Perempuan itu yang pertama mengambil masalah, dengan merampas tempat duduk dalam restaurant yang sudah saya pilih. Saat itu, saya mengalah, tetapi dengan sadis dan arogannya perempuan itu malah melecehkan kami. Satu gelas Coke bagiku layak untuk memberinya hukuman..." Arine tersenyum, dan perempuan muda itu memberi jeda pembicaraan.


"Untuk memperkuat apa yang saya ucapkan, rekaman CCTV di restaurant tersebut bisa menjadi bukti. Hempphh.. kecuali sih, ada pihak yang sengaja mengambil rekaman itu..." lanjut Arine dengan sikap tenang.


"Anda seharusnya tahu bagaimana bersikap mbak Arine, tidak asal membuat tuduhan..." tidak diduga, pria berdasi itu bereaksi.

__ADS_1


"Kendalikan diri anda pak Siregar... Biarkan dulu mbak Arine menjelaskan. Oh ya mbak Arine... kenalkan ini adalah pengacara dari mbak Stevia yang mengajukan tuntutan pada mbak, namanya pak Siregar..." polisi menengahi suasana.


Arine hanya tersenyum dengan isyarat, namun perempuan muda itu tampak tidak berminat untuk mengenal Siregar. Laki-laki itu juga menatap ke arah Arine.


"Baik mbak Arine..., lanjutkan kembali untuk tuduhan yang kedua. Dimana mbak Arine, merendahkan dan membuat fitnah atas nama tuan muda Elmar." akhirnya polisi kembali mengalihkan pada fokus pembicaraan.


Arine kembali mengambil nafas panjang, kemudian...


"Pak polisi... bukannya saya akan membela diri. Jika tuduhan jika saya merendahkan atau membuat fitnah pada Tuan Elmar, apakah dibolehkan jika yang membuat tuntutan pihak lain. Seharusnya tuan muda Elmar sendiri bukan.... Jadi saya menolak untuk memberikan penjelasan untuk tuduhan yang kedua, dan saya berharap semua fokus pada tuduhan yang pertama..." polisi dan semua yang ada dalam ruangan itu kaget mendengar perkataan terakhir dari Arine,


***************


Terlihat nyonya Sarah membawa berkas dan tampak membukakan di samping Tuan Abraham. Claudia ikut tersenyum melihatnya, sambil menikmati camilan di sofa yang ada dalam ruangan tersebut,


"Ayolah mas... kapan lagi kamu akan membahagiakanku dan Claudia. Kamu tidak mau bukan, jika putrimu Arine akan melakukan kami dengan tidak baik..." terdengar suara perempuan paruh baya itu mencoba melunakkan hati Tuan Abraham.


"Sarah.., aku masih hidup, dan belum mati. Bisa bisanya kamu memiliki hati untuk bertanya hal ini padaku..." dengan nafas tersengal, tuan Abraham terpancing kemarahannya.


Wajah laki-laki paruh baya itu terlihat merah, dan matanya tajam menatap ke wajah istrinya yang duduk di depannya. Sudah sejak tadi, tuan Abraham merindukan cucunya Brian, namun Arine minta ijin untuk mengajaknya karena ada suatu urusan.

__ADS_1


"Jangan salah paham padaku pa... Aku dan Claudia juga tahu, saat ini papa masih hidup. Kami berdua juga tidak pernah berhenti berdoa, untuk kesembuhan papa.. Tapi tidak salah kan pa.., sebagai istri yang sudah mendampingi papa selama ini, papa juga memiliki balasan untuk kami..." Nyonya Sarah tidak berhenti.


Perempuan paruh baya itu terus memaksa suaminya melakukan sesuatu, sesuai apa yang diinginkannya.


"Tidak ada yang salah Sarah... yang salah karena aku sudah terbuai dengan bujuk rayumu. Aku sampai tergoda dengan mulut manismu, sampai aku melupakan putriku sendiri Arine.." tuan Abraham masih terpancing kemarahannya.


Nafas laki-laki paruh baya itu semakin tersengal sengal, dan nyonya Sarah dengan tatapan kebencian hanya menatap, tetapi tidak memberikan bantuan apapun. Untungnya sesaat tuan Abraham masih sadar, laki-laki paruh baya itu menekan tombol panggilan darurat pada suster jaga. Beberapa saat kemudian..., pintu kamar didorong dari luar. Claudia dan mamanya kaget dengan respon cepat dan segera dari tenaga kesehatan itu. Perlahan dan hati-hati, nyonya Sarah segera menyembunyikan berkas di tangannya.


"Sabar sebentar Tuan Abraham... kami akan memasangkan lagi alat bantu pernafasan ini..." dengan segera, dua tenaga kesehatan itu memasangkan alat bantu pernafasan, yang sudah sejak tadi malam tidak digunakan lagi.


Kedua tenaga kesehatan itu tampak serius memberikan pelayanan, dan nyonya Sarah hanya dia memandang tanpa melakukan apapun. Claudia yang tidak mau disalahkan, pura-pura berdiri kemudian mendekati mamanya. Tetapi...


"Nyonya... nona... mohon untuk keluar dari dalam ruangan ini segera. Kami akan membawa Tuan Abraham ke ruang ICCU secepatnya..." salah satu suster perawat memberi permintaan pada dua perempuan itu.


"Tapi saya keluarga terdekatnya suster, saya istri, dan ini putrinya.." dengan nada tidak suka, nyonya Sarah menolak permintaan itu.


"Terserah anda jika masih mau berada dalam ruangan ini. Tapi kami berdua, tetap harus membawa Tuan Abraham ke dalam ruang ICCU. Kami melakukan, atas arahan dan petunjuk dari Nona Arine, putri kandung dari Tuan ini..." ternyata Arine tanpa sepengetahuan mama tirinya, sudah membuat pengaturan,


Belum sampai, nyonya Sarah memberikan tanggapan, bed tempat tuan Abraham sudah didorong dua tenaga kesehatan itu, meninggalkan kamar perawatan tersebut.

__ADS_1


***********


__ADS_2