One Night Incident

One Night Incident
Bab 54. Malam Naas


__ADS_3

Beberapa Saat kemudian..


Mungkin karena terlalu lelah, tuan Abraham tertidur kembali. Melihat suaminya tidur, nyonya Santa menarik tangan Arine dan membawa ke ruang sebelah. Kebetulan kamar untuk perawatan tuan Abraham, memiliki dua kamar tidur, dan satu kamar tamu. Tidak mau memancing keributan, Arine mengikuti apa yang diinginkan oleh perempuan paruh baya itu.


"Arine... katakan apa maumu. Kamu sudah menghilang bertahun tahun, dan ketika papamu tergeletak di rumah sakit, tiba tiba kamu datang kembali. Apakah kamu menginginkan harta warisan dari papamu...?" dengan penuh amarah, nyonya Santa bertanya pada Arine.


Gadis itu tidak berkomentar, Arine malah bersedekap  dan melihat ke arah perempuan paruh baya itu sambil tersenyum. Arine merasa geli melihat tingkah mama tirinya yang seperti cacing kepanasan.


"Apakah kamu tuli... aku mengajakmu bicara..?" melihat kediaman gadis itu, malah memancing amarah dari perempuan itu.


"Hempphh... sungguh aneh dan ironis, Bagaimana bisa papa memilih perempuan yang salah untuk menjadi istrinya... Nyonya Santa... hal yang wajar bukan, jika Arine sebagai putra papa, pulang dan membezoek papa. Ingat nyonya.... harta papa juga hartaku selaku putri kandung papa. Bahkan aku bisa mengatakan, jika tidak ada sedikitpun untuk Claudia.." Arine tersenyum mencibir.


Melihat ketenangan gadis itu, nyonya Santa seperti terbakar. Perempuan paruh baya itu mendekat dan akan mengarahkan tangan ke arah Arine, tetapi dengan cepat Arine menangkapnya...


"Nyonya Santa... Arine yang dulu berbeda dengan Arine yang sekarang. Tidak akan Arine biarkan, siapapun menindasku maupun Brian. Ingat itu nyonya Santa, dan perlahan akan aku pastikan jika papa akan menyingkirkan kalian berdua dari kehidupan papa..." merasa jengkel dengan sikap arogan dari istri papanya, Arine bersuara dengan ada tidak enak.


"Kita akan lihat perempuan ******... apakah kamu memiliki keberanian untuk melakukannya.. Usia papamu tidak akan lama lagi Arine... dan ketika kamu sadar semua harta sudah beralih nama menjadi milikku dan Claudia... Dan kamu memang tidak pernah ada artinya dalam kehidupan papamu..." perempuan istri papanya itu sudah tidak bisa menguasai dirinya


"Baik nyonya... kita akan menunggunya. Hidup mati seseorang merupakah rahasia dan kehendak Tuhan, bukan kamu yang akan membuat pengaturan.. Permisi.." malas berdebat dengan orang yang tidak memiliki hati, Arine berlalu dari tempat itu,


Melihat Brian yang menatapnya dengan khawatir..., Arine menghampiri anak itu dan meraih tangannya agar anak itu mendekat.


"Brian ... kita biarkan opa istirahat dulu, kita kembali ke hotel saja. Nanti mommy akan sampaikan pada perawat jaga, agar melakukan pengawasan intensif pada opa.." merasa malas melihat Claudia dan mamanya, Arine memutuskan untuk keluar dari kamar perawatan.

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.., pulang ke rumah papamu saja kamu tidak berani, bisa bisanya mengatakan jika akan mengambil harta papamu... Sadar dirilah kamu perempuan ******..." tidak diduga, melihat Arine mengajak putranya untuk kembali ke hotel, menjadi kesempatan untuk merendahkan putri tirinya,


"Mommy... kenapa perempuan tua itu Brian lihat, selalu menghina dan merendahkan moomy sejak tadi.." Brian berkomentar melihat kejulidan perempuan tua itu.


Arine tersenyum dan mengusap kepala putranya...


"Brian... kita harus kuat sayang, jangan biarkan ada kekuatan dengan energi negatif mengganggu dan menyakiti kita. Biarkan saja seperti pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Mari putra mommy... kita pulang sekarang..." Arine segera menggandeng tangan Brian, dan mengajaknya keluar dari dalam ruangan.


Melihat putri Abraham pergi meninggalkan mereka dengan mengacuhkannya, nyonya Santa bertambah marah. Tapi Arine dan Brian sudah menjauh pergi dari tempat itu.


************


Dalam perjalanan...


"Mas... kami tidak jadi turun di Peninsula ya, turunkan kami di outlet Mc. Do**nald  depan itu. Ternyata kami lapar, belum sempat makan sejak sore.." Arine memberi aba pada sopir yang mengantar mereka.


"Siap Miss... atau bisa juga jika menghendaki drive thru..., jadi Miss tidak perlu mencari lagi taksi untuk menuju ke hotel." ternyata driver memberikan reaksi yang bagus.


"Tidak perlulah mas... mungkin putra saya ingin bermain sebentar di Play Ground outlet tersebut. Turunkan kami di depan pintu saja.."


Tidak lama kemudian, driver menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk restaurant fast food tersebut. Arine segera mengajak Brian untuk turun,


"Kita turun dulu sayang, kita akan makan malam.." ajak Arine lirih pada putranya

__ADS_1


"Asyik... sejak tadi sebenarnya Brian sudah lapar momm... tapi melihat mereka tadi, rasa lapar Brian langsung musnah..." Arine tersenyum mendengar perkataan Brian.


"Sudahlah... kita makan dulu sampai kenyang, baru kita kembali ke hotel.." kedua orang mommy dan anak itu kemudian keluar dari dalam mobil.


Keduanya langsung masuk ke restaurant, setelah pelayan membukakan pintu untuk mereka.


"Mommy... pesankan menu untuk Brian ya. Brian mau main prosotan dulu.." melihat ada Play ground di tempat tersebut, Brian segera berlari meninggalak mommy nya.


Arine tersenyum dan geleng geleng kepala melihat punggung Brian. Gadis itu segera berdiri antri, untuk memesan makanan dan minuman mereka. Tidak sampai sepuluh menit, Arine sudah kembali membawa nampan berisi makanan dan minuman. Gadis itu melihat masih ada tempat duduk kosong di dekat food court, dan Arine bergegas mendatangi tempat tersebut.


"Eits... ini tempat duduk sudah aku pilih sejak tadi.. Cari tempat duduk yang lain..." Arine kaget, baru saja gadis itu akan meletakkan nampan, ada seorang perempuan muda dengan judes menyerobotnya.


"Tapi non..., apakah bukan yang sudah membawa pesanan, yang lebih didahulukan untuk memilih tempat duduk.." terbiasa disiplin dan taat azas ketika di negara Jepang, Arine mencoba membela diri,


"Aturan dari planet mana itu... sudah pindah, cari tempat duduk lainnya sana.. Di kasih tahu, malah nyolot saja..." bukannya menjawab dengan baik, perempuan muda itu malah semakin berbicara dengan nada ketus,


Arine mengambil nafas, mencoba menahan diri. Gadis itu kemudian berpindah tempat duduk yang tidak jauh dari tempat itu. Baru saja Arine duduk, Brian sudah kembali menghampiri mommy nya.


"Mommy... siapa tadi yang sudah menindas mommy... Apakah mommy memberi Brian ijin untuk membalas kekasaran mereka pada mommy..?" tiba tiba Brian bersuara dengan nada keras, karena dari tempat bermainnya tadi, anak itu melihat jika mommy nya sudah ditindas oleh orang lain.


"Sudah... sudah.., kita makan saja, kemudian terus kembali ke hotel ya sayang..." Arine mencoba meredakan emosi putranya. Tapi..


"Anak tidak tahu diuntung, tidak punya sopan santun... Begitukah ibumu mengajari kamu..." perempuan muda yang tadi merampas tempat duduk Arine, tiba tiba sudah berdiri dan marah marah di samping meja yang diduduki Arine dan Brian.

__ADS_1


***********


__ADS_2