One Night Incident

One Night Incident
Bab 60. Intimidasi


__ADS_3

Kantor polisi...


Arine sudah merasa bosan menjawab cecaran pertanyaan dari pihak polisi, dan juga pengacara dari perempuan bernama Stevia. Beberapa kali gadis itu sampai harus berbicara dengan keras untuk meyakinkan mereka, tetapi sepertinya situasi itu memang sudah diatur. Terlebih karena alotnya pembicaraan, menjelang siang seorang perempuan muda yang bernama Stevia datang ke ruang interograsi mereka.


"Mommy... ada yang datang..." melihat perempuan muda itu dengan gaya sombongnya, Brian berbisik memberi tahu Arine.


"Tenanglah sayang*\, everything is okay*.. Mommy dan Brian tidak bersalah\, trust mommy..." Arine berbisik membesarkan hati putranya.


Berada berjam-jam di dalam ruangan itu, sudah membuat bocah kecil itu tidak nyaman. Dan Arine memberikan gadget pada bocah kecil itu, untuk mengurangi kebosanan putranya.


"Pak Polisi... tuntut dan hukum seberat beratnya perempuan ini pak Polisi. Dengan dibantu anak kurang ajar ini, mereka sudah berani menyiramkan Coke ke muka saya.." Stevia menunjuk ke arah Arine. Wajah gadis muda itu terlihat mencibir, merasa berada dalam kemenangan.


"Jaga mulutmu nona... atau aku akan hancurkan mulutmu yang sudah berkata tidak baik tentang putraku. Apalagi mumpung saat ini aku sedang kelaparan, dan ingin memakan daging manusia sombong sepertimu.." mendengar sebutan buruk untuk putranya, Arine terpancing emosi.


Tatapan Arine tampak menindas Stevia, dan gadis itu merasa seperti ada tekanan berat ketika matanya beradu pandang dengan tatapan Arine. Bahkan Stevia sampai mundur ke belakang, dan memegang tangan perempuan paruh baya yang datang bersamanya.


"Kendalikan dirimu mbak Arine.. Hanya kata-kata sopan yang bisa diucapkan di dalam ruangan ini.." terdengar suara polisi memberi peringatan pada Arine.


"What you say...?? Ha.. ha.. ha.., hal yang aneh pak polisi. Perlakukan kami dengan adil. Jika perempuan sombong ini, dibebaskan untuk menghina putraku. Dan ketika aku menyuarakan kebenaran, pihak polisi memberi teguran kepadaku. Hukum apaan ini..., tebang pilih seperti ini. Aku tidak akan tinggal diam.., jika kalian berani mempermainkan hukum, aku tidak akan segan membawa masalah ini ke dunia internasional.." dengan berani, Arine memberi tanggapan pada perkataan polisi itu.

__ADS_1


"Tuntutan pada anda bisa bertambah nona Arine. Kamu sudah mengancam pihak kepolisian.." pengacara Stevia ikut  bicara.


Mendengar dan melihat sendiri pembawaan tenang Arine, yang dengan muda mementahkan tuduhan mereka, sebenarnya membuat pengacara itu sedikit gentar. Namun begitu pihak yang membayarnya datang yaitu Stevia dan mamanya, percaya diri pengacara itu kembali muncul.


"Kenapa tuan berani mengancam mommy Brian... Jika sampai daddy Elmar tahu, maka daddy pasti akan memberi kalian semua hukuman. Dan saat ini, daddy Elmar sedang dalam perjalanan kemari.." mendengar hampir semua yang ada di dalam ruangan ini memojokkan mommy nya, Brian ikut berbicara.


Arine terhenyak dengan kata-kata yang diucapkan oleh putranya, dan memang dengan mengaku jika laki-laki muda bernama Elmar itu adalah daddy nya, secara tidak langsung Brian sudah membuat fitnah. tapi bagaimanapun, Arine harus menyelamatkan putranya.


"Ha... ha,.. ha.., teruslah dengan kebohonganmu anak kecil. Kalian berdua cukup beruntung, karena tuan muda Elmar sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Tapi aku yakin, tuan muda pasti sudah bergegas kembali, karena tim kami sudah melaporkan adanya fitnah terhadapnya.." mama Stevia ikut menambahkan.


"Kita lihat saja nanti nenek tua... Siapakah yang akan mendapatkan masalah, saya, mommy, atau kalian semua yang sejak tadi telah menindas mommy.." merasa dipojokkan, Brian ikut berbicara.


Tetapi dengan sigap, Arine menangkap tangan perempuan itu, dan dengan senyuman sinis berani beradu pandang dengan mama Stevia. Semua yang berada dalam ruangan itu terkejut melihat keberanian Arine. Wajah Stevia menjadi merah padam, melihat tangan mamanya dipegang oleh Arine..


"Lepaskan tangan kotormu dari tangan mamaku, atau aku akan memerintah polisi untuk memenjarakanmu saat ini juga.." dengan berteriak, Stevia membuat ancaman,


Tanpa menunggu lama, Arine segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan perempuan paruh baya itu, kemudian mengibaskan tangan, seakan membersihkannya. Perempuan paruh baya itu semakin menatap ke arah Arine dan Brian dengan penuh kemarahan.


"Mbak Arine... jika anda dan putra anda tidak bisa mengendalikan sikap, dan menjaga kata kata, dengan terpaksa pihak polisi akan menahan mbak Arine untuk sementara. Sambil menunggu persidangan berlangsung..." tiba-tiba polisi yang sejak tadi menginterograsi berbicara dengan memihak pada pihak Stevia.

__ADS_1


"Tangkap kami pak, kami tidak akan takut... " dengan senyum melecehkan, Arine memberikan tanggapan.


"Ternyata anda memang tidak bisa untuk diajak bicara baik-baik mbak Arine. Kami sudah memberikan peringatan pada anda berkali kali, namun anda tetap mengabaikannya. Dengan terpaksa, kami akan tetap menahan anda.." dengan wajah merah padam, polisi tadi tersinggung dan memberikan ancaman pada Arine,


Stevia dan mamanya tersenyum puas dan sombong mendengar perkataan dari polisi itu. Dengan tatapan mengejek, kedua perempuan itu tampak tersenyum licik dan menghina,  Bukannya takut kemudian diam, tetapi Arine malah memindai satu persatu wajah wajah yang ada di dalam ruangan itu. Bahkan Brian terlihat, jarinya yang kecil tampak menari di atas keyboard qwerty pada layar gadget di tangannya.


"Kamu sudah memberi anda peringatan mbak Arine, tetapi anda tidak mau diajak kerja sama. Hal ini sudah jalan terakhir, dan kita akan bertemu lagi di persidangan. Anda dan putra anda bisa menikmati tinggal di kantor polisi mulai sekarang.." dengan sorot mata menghina, pengacara Stevia ikut berbicara.


"Kami tidak akan takut, paling tidak kami akan punya cerita untuk masa depan. Dimana kami berada dalam tahanan polisi Jakarta, ketika kami membicarakan tentang kebenaran. Dan memang uang menjadi sumber segalanya, yang merusak moral, dan keadilan.." bukannya takut. dan memohon untuk diberikan ampunan, Arine malah menantang balik.


"Hempphh... anda telah memilih sendiri jalan anda. Mohon maaf, kami akan memasang borgol tangan anda dari sekarang.." dengan kata maaf, polisi tadi mengancam akan memborgol tangan Arine.


Arine hanya menanggapinya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. Terlihat petugas polisi itu seperti merasa malu, tetapi tetap mengambil borgol yang sudah sejak tadi disiapkan di atas meja. Stevia tampak kegirangan, dan gadis itu segera mengeluarkan ponsel, serta bersiap untuk mengambil gambar Arine yang mengenakan borgol di tangan.


"Sekali lagi saya sudah memperingatkan..." sambil bergumam, petugas polisi itu segera mengangkat borgol di tangannya, dan akan memegang pergelangan tangan Arine. Tetapi...


"Siapa yang berani mencari masalah denganku, dan berani menindas istri serta putraku...?" tiba-tiba dari arah pintu masuk ruangan, terdengar suara tegas berwibawa. Suara itu terdengar dingin, dan beberapa merasa merinding mendengar suara itu.


**************

__ADS_1


__ADS_2