One Night Incident

One Night Incident
Bab 51 Teringat Memori Masa Lalu


__ADS_3

Pant House...


Tuan William dan Nyonya Clara yang sedang menikmati sarapan pagi kaget mendapatkan panggilan dari Bramantya, putra pertama mereka. Pasangan suami istri itu segera menghentikan aktivitasnya, dan menerima panggilan dari Bramantya..


"Papa... mama... apakah Arine dan Brian datang ke Pant House," meskipun pertanyaan itu tidak masuk akal, namun Bram bertanya pada kedua orang tuanya.


"Bram... apakah kamu tidak bisa memilah, pertanyaan mana yang akan kamu tanyakan pada papa,, Tidak ada kaitannya bukan, jika Arine dan Brian datang pada kami. Ceritakan, apa sebenarnya yang terjadi, apakah ada keributan di antara kalian..." sebagai orang tua, untungnya tuan William lebih bijak.


"Arine dan Brian pergi pa... Bram dan Elmar sedang berputar ke Sapporo untuk mencari keberadaan mereka, tetapi kami belum mendapatkan informasi apapun.." jawaban Bram sangat mengejutkan laki laki paruh baya itu. Padahal tuan William dan istri mencoba memberikan kepercayaan pada putra putra mereka untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Tapi...


"Ceritakan dengan detail Bram.., apa yang terjadi sebenarnya. Jangan ada yang kalian tutupi.." dengan suara tegas, tuan William meminta penjelasan.


Bramanta menceritakan apa yang telah terjadi antara Arine dan Elmar.., sampai akhirnya mereka tidak menemukan keberadaan Arine dan Brian di tempat tinggal mereka.


"Dasar bodoh kalian semua... aku tidak akan membiarkan cucuku tanpa kabar, kalian harus segera menemukan keberadaan cucuku. Jangan sampai aku tidak akan mengakui kalian berdua sebagai putraku, jika jejak keberadaan Brian tidak segera kalian temukan..." tuan William terpancing kemarahan, ketika mengetahui cucunya Brian tidak ada kabarnya.


"Iya pa... ini kami juga sedang berusaha..." Bram akhirnya mengakhiri panggilan.


Tuan William terduduk lemas di kursinya, wajahnya merah padam menunjukkan kemarahan. Nyonya Clara berpindah tempat duduk dan menghampiri suaminya, dengan tatapan khawatir...


"Ada apa pa... apa yang terjadi pada Bram dan Elmar. Kenapa papa terlihat marah.." tidak begitu jelas mendengar perkataan suami dan putranya, nyonya Clara mencari tahu.


"Anak anak tidak bisa diharapkan, mereka telah membiarkan cucuku pergi. Brian dan Arine telah pergi meninggalkan mereka berdua, dan mereka sama sekali tidak tahu keberadaan mereka lagi.." dengan ekspresi marah, tuan William menceritakan apa yang terjadi pada istrinya.

__ADS_1


"Apa pa..., papa tidak berbohong pada mama bukan... " Nyonya Clara tampak kaget.


Tuan William tidak menanggapi kata kata istrinya, laki laki itu malah berdiri dan meninggalkan perempuan itu sendiri.


"Papa... kenapa papa meninggalkan mama sendiri..." nyonya Clara baru tersadar, jika perkataan suaminya barusan bukan main main.


Perempuan itu ikut berdiri dan mengejar suaminya. Terlihat Tuan William sedang menelpon seseorang, berusaha mencari keberadaan cucunya dengan caranya sendiri. Laki laki paruh baya itu tampak serius, karena membiarkan putranya untuk mengatasi sendiri masalahnya, tetapi malah berakhir akan kehilangan kabar tentang cucunya.


Melihat eskpresi yang ditunjukkan di wajah suaminya, Nyonya Clara hanya terduduk ikut meratap karena kepergian cucunya Brian.. Bayangan wajah Brian tampak tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya, tetapi tidak lama bayangan itu menghilang..


*********


Soekarno Hatta International Airport...


Sambil mendorong trolly bag, Arine mendudukkan Brian di atas trolly, dan mereka terus berjalan. Tubuh dan pikiran perempuan itu terasa lelah, karena tanpa persiapan apapun, Arine harus melakukan perjalanan marathon kembali ke Jakarta. Pemberi tahuan dari Bi Minah, jika papanya masuk rumah sakit, dan selalu memanggil namanya, membuat gadis itu menghilangkan rasa kesal yang dipendamnya selama ini.


"Untuk sementara waktu, kita akan transit di hotel dulu Brian.. Barulah sore hari kita akan ke rumah sakit Harapan, opamu ada di rumah sakit itu..." sambil berjalan, Arine menjawab pertanyaan sambil lali.


"Opa... opa Brian sakit momm... Apakah Opa William.." Arine kaget mendengar perkataan putranya.


Secara langsung, Arine memang belum berkesempatan berjumpa dan berbincang dengan Tuan William dan Nyonya Clara, jadi wajar jika gadis itu tidak memahami maksud perkataan putranya.


"Siapa opa William Brian... jangan sembarangan menyebut orang lain menjadi opamu.." Arine bereaksi keras mendengar pertanyaan putranya..

__ADS_1


"Opa William itu memang opanya Brian momm... Opa William itu papa dari papa besar, dan juga daddy.., dan Brian sudah berjanji memanggil dengan sebutan opa dan juga oma Clara.." tidak ada yang ditutupi, Brian menjelaskan pada mommy nya.


"Hempphh... okaylah.." merasa malas memberikan penjelasan pada putranya, akhirnya Arine kembali terdiam.


Di depan pintu kedatangan, Arine melihat ada tulisan Miss Arine, selamat datang. Gadis itu segera mengarahkan trolly mendatangi orang itu. Arine memang sudah mempersiapkan semuanya sejak akan masuk ke dalam pesawat. Untuk menghindari kebingungan menuju tujuan, Arine sudah memesan fasilitas jemput dari bandara untuk menuju ke hotel tempat transitnya sementara. Karena hubungan hambarnya dengan mama dan adik tirinya, Arine belum mau kembali ke rumah ketika papanya tidak ada. Gadis itu tidak mau menciptakan kesan yang tidak baik untuk putranya.


"Miss Arine ya... saya Burhan Miss, yang ditugaskan untuk menjemput Miss Arine.." sesudah mereka berhasil keluar, laki laki bernama Burhan mendatangi Arine dan Brian,


"Benar mas Burhan... antar saya ke Peninsula sekarang ya.. Kami ingin segera istirahat.. " tidak mau banyak membuang waktu, Arine segera meminta driver untuk mengantarkan ke hotel.


"Baik miss... ikuti saya. Kebetulan saya sudah membawa mobil di terminal kedatangan.." laki laki bernama Burhan segera mengambil trolly dari tangan Arine, kemudian membawanya.


Arine segera menggandeng tangan Brian, khawatir jika putranya terlepas, Mereka segera mengikuti langkah kaki laki laki itu, dan setelah melihat laki laki itu membuka mobil, Arine segera membawa putranya masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian...


"Kita langsung ke tujuan ya Miss.. tidak ada tempat yang ingin disinggahi terlebih dulu.." sebelum menginjak pedal gas, Burhan kembali bertanya pada Arine.


"Iya mas... kami sudah terlalu lelah, ingin segera merasakan empuknya bed.." Arine segera menjawab pertanyaan yang diulang oleh driver.


"Siaap.." Burhan segera menginjak pedal gas, dan perlahan mobil meninggalkan terminal kedatangan.


Di sepanjang perjalanan, Arine terdiam. Niatnya untuk memejamkan mata tidak dilakukan, karena setelah melihat kota yang ditinggalkan lebih dari empat tahun yang lalu, tidak banyak perubahan yang terjadi. Sedangkan Brian, mungkin karena sudah terlalu capai, bocah itu langsung tertidur di pangkuan mommy nya. Begitu mobil yang membawa mereka itu melewati sebuah hotel mewah, hati Arine tersentak..


"Brian... kesalahan mommy di hotel itu, membuatmu terlahir di dunia ini.." Arine berbicara sendiri dalam hatinya.

__ADS_1


Dadanya tiba tiba merasa sesak melihat bangunan tinggi hotel menjulang di depannya itu. Ingin rasanya gadis itu mengulang kembali waktu, dan mencegah terjadinya kecelakaan. Tapi ketika gadis itu menundukkan wajah ke bawah, dan melihat Brian yang tertidur pulas, hatinya perlahan terhibur. Arine menurunkan wajah, dan memberikan ciuman di pipi putranya.


********


__ADS_2