One Night Incident

One Night Incident
Bab 76 Merindukannya


__ADS_3

Siang harinya....


Arine terbangun karena dikejutkan dering ponsel yang diletakkan di atas meja.. Perlahan gadis itu mengangkat tubuhnya, dan ketika melihat suaminya Elmar masih tertidur, gadis itu tersenyum malu, Melihat ponselnya yang terus berdering, perlahan gadis itu mengangkatnya, dan melihat Bramantya tengah melakukan panggilan kepadanya. Melihat nama itu, Arine teringat tentang Brian yang sudah ditinggalkannya sejak kemarin sore dengan laki-laki itu.


"Bram... what happened..?? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Brian... Bram..." tanpa menyapa terlebih dahulu, Arine langsung memberondong lawan bicara dengan pertanyaan,


"Mommy.... where are you mom... Brian miss you..." tetapi betapa terkejutnya perempuan itu, karena bukannya suara Bramantya yang didengarkan, melainkan suara Brian yang tampak mengkhawatirkannya,


"Mmmppphh... iya Brian sayang.,. Mommy sedang ada keperluan dengan daddy.., tunggulah sayang. Sebentar lagi, daddy dan mommy pasti akan menjemputmu. Apakah Brian masih berada di hotel dengan papa besar, ataukah berada di mansion oma sayang...?" Arine tersenyum malu ketika memberikan tanggapan pada putranya. Untung saja, mereka hanya bicara melalui ponsel, jika berhadapan perempuan itu bisa mati gaya.


"Siapa honey...?" tanpa Arine sadari, ternyata panggilan Brian membangunkan suaminya,


Elmar memeluknya dari belakang, dan ketika laki-laki itu mengambil ponsel dari tangannya, bahkan Arine tidak sadar.


"Hey Brian... ini daddy. Apakah Brian lupa dengan janji Brian pada daddy sayang...?" Arine mengerutkan kening mendengar perkataan suaminya untuk Brian,


Apalagi saat ini, ponselnya tidak menggunakan loud speaker sehingga dia tidak bisa mendengar, perkataan Brian dan Elmar. Tetapi merasa sudah ada yang mengajak bicara putranya, Arine merasa lega. Gadis itu segera turun dari atas ranjang, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Tinggallah Elmar yang senyum senyum, tampak berbicara dengan putranya.

__ADS_1


"Jangan sakiti mommy... daddy.. Brian rindu mommy..." terdengar suara Brian yang merengek pada daddy nya.


"Please Brian... bukankah dulu Brian pernah berjanji pada daddy, untuk kembali menyatukan mommy dengan daddy. Syukurlah, tadi malam daddy dan mommy sudah bersatu dalam ikatan pernikahan, jadi Brian jangan patah semangat. Saat ini, Brian memiliki daddy dan mommy yang lengkap..." Elmar akhirnya memberi tahu pernikahannya dengan Arine, pada putra semata wayangnya.


"Really daddy... apakah Brian tidak salah dengar. Jika begitu, congratulation daddy... Brian angkat topi untuk daddy. Tetapi dadd... jangan kuasai mommy hanya untuk daddy. Mommy lebih dulu menjadi milik Brian, dan sekarang daddy malah mendominasi mommy..." selain mengucapkan selamat, ada nada protes dalam ucapan Brian yang ditujukan untuk daddy nya.


"Ha... ha.. ha..., daddy tahu Brian. Coba sekarang Brian hitung, lama Brian bersama dengan mommy, atau daddy yang belum dipertemukan dengan your momm... Please.., untuk kali ini, beri waktu pada daddy jagoan.., daddy juga ingin menebus waktu waktu yang hilang dengan mommy..." Elmar malah tertawa terbahak, mendengar perkataan Brian.


Laki-laki ini merasa memiliki pesaing terdekat untuk mendekati istrinya Arine. Jika pesaing itu orang luar, dengan mudah karena dengan menggunakan kekuasaannya, Elmar bisa menyingkirkannya. Tetapi pesaing utama kali ini adalah putranya sendiri, yang selain tidak mau terpisah dengan mommy nya, juga ingin memberikan proteksi lebih kepadanya.


"Baik daddy... tetapi untuk membuktikan jika daddy tidak berbohong pada Brian, bawa mommy pada Brian secepatnya. Brian akan bertanya pada mommy, apakah benar mommy dan daddy sudah menikah. Dan apakah mommy menyetujui, tanpa ada pressure dari daddy...'" dengan kata-kata tegas, terdengar Brian membuat peringatan.


Sambil senyum senyum sendiri, Elmar meletakkan ponsel di atas meja kecil yang ada di samping ranjang. Laki-laki itu kemudian menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


***************


Sapporo....

__ADS_1


Dokter Keiko Kana tampak melamun di belakang meja kerjanya. Dokter perempuan ini sedang beristirahat, setelah menjalani aktivitas padat pada pagi harinya. Tiba-tiba saja dokter perempuan itu tampak merindukan seseorang, yang sudah lebih dari dua minggu meninggalkan kota Sapporo tanpa pamit kepadanya.


"Hempphh... apakah rasaku ini wajar, dan bisa dibenarkan. Aku tidak memiliki keterikatan dalam bentuk apapun dengan laki-laki itu, tetapi aku merindukannya Tuhan..." tampak perempuan muda itu bergumam sendiri,


Baru kali ini, dokter perempuan ini merasakan kesepian. Bersedia untuk ditempatkan di kota kecil ini, merupakan kesanggupannya, agar bisa memberikan pertolongan pada warga masyarakat dengan lebih dekat. Tetapi ternyata, baru kali ini tiba-tiba saja dirinya merasa sepi. Bahkan, dokter itu harus meyakinkan dirinya, hal apa yang membuatnya merasa kesepian seperti ini.


"Apakah kepergian Bram yang tiba-tiba, yang membuatku menjadi gelisah dan galau seperti ini. Tapi siapa Bram bagiku selama ini. Laki-laki itu meskipun sangat baik, namun dia juga baik untuk semua orang. Bahkan, hubungan Bram dengan Miss Abonny aku juga merasa bingung untuk mendeskripsikannya. Belum lagi Aiko.., gadis itu selalu berada dalam laboratorium dengan Bram, dan mereka selalu mengerjakan project-project berdua... Hempphh... terlalu banyak sainganku untuk mendekati laki-laki itu.." dokter itu masih berbicara pada dirinya sendiri.


Perlahan perempuan itu menyelonjorkan kedua kakinya ke bawah meja, dan tangannya meraih ponsel yang ada di depannya. Setelah ponsel itu ada di tangannya, perlahan jari jari dokter Keiko Kana menggulir layar ponsel ke atas, dan ke bawah. Beberapa foto yang diambil secara hidden, memperlihatkan wajah tegas Bramantya, dan juga beberapa foto kebersamaan dirinya dengan laki-laki itu, tersimpan dengan rapi pada ghallery fotonya. Tiba-tiba saja gadis itu tersenyum kecut,...


"Kita dekat selama ini, tapi dekat dan berjarak. Ataukah sebenarnya Bram itu bukan laki-laki normal. Tetapi ketika tanpa sengaja aku melihat tatapannya untuk miss Abonny, betapa tatapan itu bisa menenggelamkan perempuan lainnya. Tapi Miss Abonny seperti tidak mempedulikannya, berarti mereka dalam hubungan yang normal." berbagai sudut pandang pemikiran muncul di otak gadis itu.


Setelah melihat beberapa gambar foto, tiba-tiba tanpa sengaja gadis itu masuk ke tempat penyimpanan nomor contact teman-temannya. Jari jari dokter Keiko Kana kembali menggulir layar ke atas, dan ke bawah. Terkadang muncul senyuman di bibir marah dokter itu, kemudian melanjutkan lagi menggulir nomor lainnya. Dan ketika, nomor contact Bramantya muncul, gadis itu tersenyum melihat nama yang dituliskannya untuk laki-laki itu. Nomor ponsel Bramantya tertulis dengan nama yang selalu aku rindukan,


"Lucu sekali, jika aku berpikir tentang diriku.." karena berhenti di nomor contact Bramantya beberapa saat, tanpa tersadar jari dokter itu menekan nomor tersebut.


Sesaat terdengar panggilan masuk ke nomor Bramantya, dan dokter Keiko Kana belum menyadarinya. Hingga sampai...

__ADS_1


************


__ADS_2