One Night Incident

One Night Incident
Bab. 33 Penolakan Halus


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang sudah direservasi Abidzar, Arine menunggu dengan tenang. Pelayan restaurant menyajikan minuman dan makanan, uang sepertinya sudah dipesan oleh Abidzar. Tapi untuk menjaga performa, sebelum pengundang datang, Arine tidak menyentuh apapun yang ada di dalam ruangan itu. Arine mengisi waktu luangnya dengan memainkan game ringan Jelly Beast dari ponselnya. Tidak lama kemudian, tiba tiba ada laki laki masuk. Arine meletakkan ponsel yang sejak tadi dalam genggaman.


"Selamat siang.., apakah anda Miss Abony.." laki laki muda itu tersenyum dan menyapa gadis itu.


"Selamat siang juga, saya Arine Aalishaa Abony.." Arine mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan laki laki tersebut.


"Asisten Abidzar, silakan duduk.." sahut Abidzar sambil tersenyum,


"Terima kasih.."


Setelah keduanya bersalaman, dan saling mengenalkan namanya, Abidzar mengajak Arine untuk duduk.


"Kita minum dan menikmati beberapa meal dulu, barulah kita akan melakukan pembicaraan serius.."


Dua orang itu kemudian mengambil minuman yang sudah disiapkan untuk mereka, Arine memilih lime squash untuk minuman pembuka, kemudian menikmati appetizer karena lebih ringan tekstur dan menyenangkan. Tidak sampai lima menit, keduanya sudah menyelesaikan acara mencicipi makanan.


"Hempphh.... begini Miss Abony.. Sesuai dengan perbincangan kita terakhir kali, tidak ada perubahan dalam rencana perusahaan. Kami tetap minta kesediaan dari Miss Abony, untuk menjadi fix time di Javanica Group. Berapapun salary yang Miss Abony kehendaki, perusahaan akan mempertimbangkannya.. Apakah Miss Abony sudah mempertimbangkan alasan tersebut..?" Abidzar mulai membuka pembicaraan serius.


Arine tersenyum kemudian menatap ke arah Abidzar, dan..


"Tuan Abidzar.. lalu jika saya bersedia untuk bergabung sebagai karyawan tetap di Javanica, apakah saya harus kembali ke Jakarta..?" bukannya masalah salary yang dikonfirmasi gadis itu, melainkan posisi keberadaannya jika benar benar bergabung,

__ADS_1


"Ya pastilah Miss.. untuk karyawan tetap, semua harus berada di ring satu tuan Elmar. Apalagi Tuan Elmar, CEO perusahaan yang membutuhkan bantuan dari Miss Abony, dan meminta saya selaku asisten pribadi, untuk secara khusus memberikan penawaran ini pada Miss..." Abidzar memperjelas tipe pekerjaan apa yang ditawarkan pada Arine..


"Mmmmppphh.... bagaimana ya saya harus menyampaikan pada Tuan Abidzar ya..." terlihat Arine sedikit binging, merasa khawatir jika masalah pribadinya akan terbawa. Tetapi melihat jika laki laki di depannya tampak serius menunggu jawaban, akhirnya..


"Tuan... bukannya saya munafik, saya juga butuh uang yang banyak. Karena sesuai status saya sebagai seorang single parent.. Tetapi ada suatu hal, yang membuat saya untuk tidak akan menetap kembali di Jakarta, apalagi untuk lima tahun ini.. Untuk alasannya, mohon dimaafkan tuan Abidzar, cukuplah hal itu menjadi ranah privacy saya." seperti alasan yang selalu dikedepankan setiap mereka melakukan chat, ternyata saat ini Arine tetap keukeuh dengan alasannya itu.


Tampak kekecewaan dalam pandangan Abidzar, tapi dirinya juga hanya orang bayaran dari perusahaan. Meskipun kecewa mendapatkan partner kerja yang kapabel, tapi secara kemanusiaan dirinya juga harus menghormati privacy gadis yang ada di depannya.


"Baiklah Miss Abony... saya tidak mengira ternyata anda memang seorang pekerja yang keukeuh. Padahal tuan Elmar mengatakan, jika permasalahan tempat tinggal yang akan menjadi kendala, perusahaan akan menyiapkan apartemen untuk anda tempati selama tinggal di Jakarta. Bahkan tunjangan pendidikan dan kesehatan untuk putra anda, juga akan di cover oleh perusahaan. Tapi... yah.., gimana lagi, ternyata anda tetap memilih sebagai part time perusahaan. Saya akan tetap menghormati keputusan anda Miss.." setelah diam sesaat, akhirnya Abidzar membuat pernyataan.


Arine mengangkat kedua telapak tangan di depan dada, sebagai permohonan maaf pada laki laki di depannya. Kedua orang itu kemudian melanjutkan diskusi tentang berbagai permasalahan perusahaan, sampai tanpa sadar sudah ada dua jam, keduanya berbincang sambil menikmati makan siang.


**********


Elmar tersenyum melihat Brian yang sedang menikmati makanan dan minuman yang dipesannya. Dan anak kecil itu tiba tiba mengangkat wajahnya ke atas, mungkin merasa ada yang melihatnya ketika menikmati makanan.


"Brian mau makan apa lagi, biar Uncle pesankan,." laki laki muda itu bertanya sambil tangannya membersihkan mulut anak itu yang tampak belepotan.


"Cukup Uncle.. tapi kenapa Uncle sendiri tidak makan, sejak tadi Brian lihat Uncle hanya minum terus.." Brian malam membalikkan pertanyan.


Laki laki muda itu tersenyum, kemudian tangannya mengambil garpu. Beberapa saat Elmar memasukkan makanan yang sudah ditusuk dengan garpu ke dalam mulutnya..

__ADS_1


"Uncle juga sudah makan kan... Kebetulan tadi Uncle masih kenyang Brian, dan senang melihatmu makan seperti tadi..." Elmar mengusap kepala anak itu,


Dalam hati, Elmar bertanya pada dirinya sendiri. Tidak tahu kenapa, dalam hati anak muda itu merasa dekat dengan kehadiran Brian. Bahkan melakukan hal kotor, seperti membersihkan bekas makanan di sekitar mulut anak itu, juga dilakukan dengan senang hati. Seperti ada kebahagiaan yang belum pernah dirasakannya, ketika Elmar berada di dekat Brian.


"Brian... anak ini terlalu misterius.., dan aku merasa kurang yakin juga jika Brian adalah putra kakakku Bramantya.. Emmpphh... tapi kenapa wajah Brian sangat mirip dengan gen keluarga William, bahkan lebih dominan dengan wajahku.." sambil terus menatap wajah Brian, Elmar berpikir sendiri.


Laki laki itu merasa malas untuk mengembalikan Brian pada mommy nya. Elmar ingin terus bersama dengan Brian, dan enggan untuk melepaskan anak itu. Tapi...


"Hentikan pikiran gilamu Elmar.. Jangan sampai hanya karena keegoisanmu, hubungan persaudaraanmu dengan Bram akan hancur. Dan bagaimana kamu akan bisa menatap wajah mommy anak itu, jika kamu jadi bertemu dengannya.." sisi hati Elmar tampak berbicara.


"Uncle... coba buka mulut Uncle.. Daging ikan ini sangat lembut, dan sangat tasty sekali.." tiba tiba Brian mengangkat sumpit dengan potongan ikan agak besar di ujungnya.


Tanpa berpikir apapun, Elmar membuka mulutnya, dan Brian memasukkan potongan ikan itu ke mulutnya. Namun begitu ikan itu masuk ke rongga mulut, Elmar merasakan memang rasa ikan itu sangat lezat. Sambil mengunyah, Elmar mengangkat ibu jari kanan dan menunjukkan pada anak itu.,


"Benarkan Uncle..., jika Uncle mau lagi, Brian bisa menyuapi Uncle..." dengan lucunya Brian menawarkan diri untuk menyuapi laki laki dewasa itu.


Tidak diduga, ternyata Elmar menganggukkan kepala, dan Brian segera menyuapi tuan muda dari Javanica Group itu. Tanpa kedua orang itu sadari, dari pintu masuk ruangan, Abidzar menatap keakraban keduanya dengan hati tersentak. Pemandangan yang ada di depannya, persis dengan pemandangan seorang anak dan papanya.


"Bidzar... kamu sudah kembali.. Duduk dan ceritakan bagaimana hasil dari interview tadi.." melihat Abidzar sudah berdiri di depan mereka, Elmar meminta anak muda itu untuk masuk ke dalam,


Abidzar tersenyum, kemudian melangkahkan kaki mendekati mereka. Laki laki itu duduk di samping Brian, dan mengusap kepala anak kecil itu.

__ADS_1


************


__ADS_2