
Tokyo Takanawa Hospital
Elmar masih dengan menggendong Brian, bergegas memasuki ruang transit untuk pengunjung di laboratorium medis yang ada di kota Tokyo tersebut. Pikiran laki laki itu masih panik, karena tidak biasanya ketika melakukan pemeriksaan ke laboratorium, mamanya akan sepanik ini. Bukan kali ini saja mamanya berpamitan ke laboratorium, tetapi untuk sadar kesehatan, hampir tiap bulan Nyonya Clara akan pergi ke laboratorium untuk check up rutin. Dan baru pemeriksaan kali ini, Bramantya yang tidak pernah mendampingi terlihat ikutan panik. Tidak lama berjalan, akhirnya Elmar melihat ruangan dainin'gu, tempat mama dan kakak kandung Elmar menunggunya.
"Bram..., what happened...?" melihat mamanya yang masih terduduk di sofa dalam keadaan bingung, Elmar segera melakukan konfimasi pada kakak kandungnya.
Perlahan Elmar menurunkan Brian, yang langsung disambut Bram dan didudukkan di sebelahnya.
"Entahlah Elmar.. aku sendiri juha shock, masih bingung apa yang harus aku lakukan..." tangan Bram mengambil dua lembar kertas ukuran HVS, kemudian memberikan pada adiknya,
Elmar melihat ke arah mamanya, kemudian anak muda itu mendekati perempuan paruh baya yang juga terlihat masih shock. Perlahan Elmar duduk di samping mamanya..
"Ada apa Mam..., sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa tidak ada yang mau menceritakan pada Elmar..." merasa bingung, Elmar beralih bertanya pada mama yang sudah melahirkannya.
"Mama juga bingung Elmar... kenapa hasil pemeriksaan kakak kandungmu, dan juga hasil pemeriksaan papamu memiliki kemiripan seperti itu.." nyonya Clara tampak melirik ke arah Brian, Tapi untungnya anak itu tidak memperhatikan ekspresinya.
Fokus Brian saat ini masih berada dalam gadget dalam genggamannya.
"Bacalah hasil pemeriksaan di tanganmu itu Elmar... Kakakmu atau papamu yang sebenarnya menjadi papa kandung dari anak itu.." dengan isyarat mata, Nyonya Clara melirik ke arah Brian yang tidak melihatnya.
Mendengar hal itu, dada Elmar menjadi bergemuruh. Laki laki itu dengan tangan bergetar, mengamati kertas yang ada di tangannya. Hasil pengujian test DNA, ternyata kromosom Brian dan Bramantya memiliki kemiripan sebesar 35.98 %. Telapak tangan Elmar tampak berkeringat, tetapi laki laki ingin tetap melanjutkan mempelajari hasil test DNA tersebut. Ketika membaca hasil pengujian satunya, dituliskan jika kemiripan kromosom antara Brian dengan William papanya 47,15%.
__ADS_1
"Oh my God... ada apa ini..." dada Elmar terasa bergemuruh.
Tatapan mata laki laki itu melihat ke arah Brian, kemudian beralih ke arah Bramantya kakak kandung dan juga mamanya. Tapi tiba tiba Bram berdiri, dan menarik tangan Elmar, mengajak laki laki itu keluar dari dalam ruangan tersebut. Tinggallah Brian sendiri dengan nyonya Clara. Mungkin karena ada rasa iba dengan Brian, perempuan paruh baya itu akhirnya mendekati dan duduk di samping Brian..
"Aku akan menjelaskan kepadamu Elmar, jangan salah sangka dulu..." wajah Bramantya tampak pucat.
"Apa yang akan kamu jelaskan Bram..., wajar bukan jika hasil pengujian DNA mu dan Brian memang ada. Bukankah kamu menikah dengan mommy anak itu. Hasil pengujian papa, meskipun lebih besar, hal itu juga bisa dimungkinkan. Karena kamu dan Brian, ada garis keturunan dari papa... Tidak perlu semua panik, dan kecewa..." sebenarnya yang merasa kecewa saat ini adalah diri Elmar sendiri.
Harapan untuk bertemu dengan perempuan yang pernah bermalam dan tidur dengannya, seakan hanya khayalan dan harapan semu baginya.
"Hentikan omong kosongmu Elmar... Aku dan mommy Brian hanya teman baik, dan kami tidak pernah melakukan hubungan intim. Kami saling menghormati Elmar, jadi abaikan pikiran kotormu dari hal itu.. Bahkan, aku pernah melamar Arine... meskipun tidak secara serius, tapi kamu tahu apa jawaban gadis itu Elmar.. Arine menolakku.." sambil bergetar Bramantya menjelaskan,
"Dan sekarang... kecurigaanku sebenarnya pada papa... Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mama sekarang Elmar, jika laki laki yang sudah mendampinginya ternyata ada permainan dengan gadis lain..." lanjut Bramantya.
"Kejar adikmu Bram... jangan sampai Elmar bertindak gila. Bagaimanapun kejadian yang sebenarnya, Brian tidak memiliki kesalahan Bram.. Anak itu suci, dan mama sudah terlanjur jatuh cinta dengan anak itu.." dari dalam ruangan, mama Bram berteriak meminta dirinya untuk mengejar Elmar.
"Tenanglah mam... Bram percaya dengan Elmar. Anak itu tidak akan bertindak impulsive, dan mama juga lihat bukan. Tidak ada ketakutan pada diri Brian, ketika Elmar membawanya pergi.. Kita tunggu saja beberapa saat disini mam... pasti Elmar akan kembali.." Bramantya yang sangat mengenal sifat adiknya, berusaha menenangkan mamanya.
Terlihat nyonya Clara mengambil nafas dalam, dan akhirnya beberapa saat kemudian perempuan paruh baya itu sudah kembali terlihat tenang.
**********
__ADS_1
Di ruang konsultasi...
Dengan menggunakan pengaruhnya, akhirnya Elmar berhasil bertemu dengan dokter yang bertanggung jawab atas pengujian DNA. Brian hanya beberapa kali mencuri pandangan ke arah laki laki itu, karena juga bingung ketika laki laki itu membawanya kesini.
"Baiklah tuan Elmar... sebenarnya tidak harus melalui darah tuan dan anak ini. Dari sehelai rambutpun, kita bisa melakukan pengujian. Tapi jika tuan Elmar menghendaki menggunakan darah, kami akan mempersiapkan.." dokter Kochigawa tersenyum.
"Brian... bantu Uncle kali ini ya sayang.. Uncle akan membantu Brian untuk menemukan siapa sebenarnya papa kandung Brian... Karena papa besar dan papa kecil, mereka bukan papa kandung Brian..." Elmar mencoba memberikan pengertian pada anak kecil itu.
Brian menatap ke mata laki laki dewasa itu, dan tidak tahu mengapa, anak itu tiba tiba menganggukkan kepalanya.
"Uncle.. jika Brian sudah tahu siapa papa kandung Brian, berarti kita akan berkumpul ya Uncle. Jadi, Brian akan sama dengan teman teman Brian di sekolah. Mereka diantar dan dijemput setiap berangkat dan pulang dari sekolah.." dengan polosnya, Brian menanggapi kata kata Elmar.
"Benar Brian... papa kandung tidak akan pernah membiarkan putranya dalam kesendirian. Papa kandung akan selalu menemani dan menjadi orang nomor satu untuk putra putra mereka.." Elmar berbicara dengan mantap.
"Jika begitu, Brian mau Uncle.. Apa yang harus Brian lakukan.." dengan antusias, Brian menyetujui apa yang ditanyakan oleh Elmar.
Dokter dan Elmar akhirnya mencoba menjelaskan apa yang dilakukan oleh anak kecil itu. Termasuk ketika ada alat injeksi yang masuk ke tubuh, untuk mengambil sampel darahnya. Akhirnya..
"Tidak apa Uncle, dokter, lakukan saja. Brian juga sering dibawa mommy ke dokter untuk diberikan injeksi. Jadi... brian tidak takut dengan jarum suntik..." dengan jelas, Brian menyatakan kesanggupan.
Akhirnya dengan dibantu oleh tenaga kesehatan yang membantunya, Elmar dan Brian dimasukkan dalam sebuah ruangan. Elmar tampak membantu menguatkan anak kecil itu, dengan menggenggam telapak tangan Brian, ketika dokter sudah mulai melakukan injeksi.
__ADS_1
***************