One Night Incident

One Night Incident
Bab 78 Menemukan Jodoh


__ADS_3

Beberapa hari sesudahnya...


Tuan Abraham sudah membaik, dan di wajah laki-laki itu terpancar kebahagiaan karena sudah berkumpul kembali dengan putri serta cucunya. Meskipun tidak selalu berada di rumah, Arine setiap hari menyiapkan diri untuk bertemu dengan papanya. Tidak tahu karena sadar dan insyaf, atau karena takut dengan kekuasaan Elmar, mama tiri dan adik tiri Arine lebih patuh dari biasanya. Mereka tidak lagi mengejar pada Tuan Abraham, untuk pengalihan beberapa asset atas nama suaminya.


"Arine... bagaimana rencanamu ke depan nak... Apakah kamu dan Elmar tidak akan mengumumkan ke publik, jika kalian adalah satu keluarga.." dengan suara pelan, ketika Arine menemani papanya duduk di teras, Tuan Abraham bertanya padanya.


"Maksud papa..." merasa bingung dengan arah pembicaraan papanya, Arine bertanya pada laki-laki paruh baya itu.


Tuan Abraham tersenyum, kemudian laki-laki itu memandang ke arah Arine..


"Elmar merupakan pengusaha muda yang sangat populer di negara ini putriku.. Banyak selebritis, maupun para pengusaha yang ingin menjalin kedekatan dengan menantuku.. Jika kalian tidak mengumumkan pada masyarakat, jika kalian sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra, maka mereka tidak akan berhenti untuk berharap pada suamimu..." tuan Abraham berkata pelan,


Arine paham dengan arah pembicaraan papanya. Gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Ya pa... Arine paham yang papa maksud. Namun... sepertinya semua bukan masalah untuk Arine pa, karena Arine memiliki Brian... Bersama dengan Brian, Arine sudah menjalani kehidupan sendiri di negara Jepang selama ini, sedangkan papanya anak itu berada di Jakarta,.  Mungkin akan jauh lebih baik, jika masyarakat berpikir jika kak Elmar adalah laki-laki bebas, sehingga keamanan Brian akan lebih terjaga.." ternyata Arine memiliki pemikiran lain.


Karena dengan menutup identitas diri sebagai putra seorang pengusaha, maupun selebritis maka putranya akan lebih mudah bergaul, dan banyak belajar dari lingkungan. Tidak harus menutup diri atau membatasi pergaulan, karena tidak tenang akan keamanannya.


"Papa paham denganmu Arine, apalagi sejak kecil kamu sendiri tidak pernah menyukai show on.., tidak seperti gadis gadis yang lain. Tetapi sebagai papa, aku akan merasa lebih bangga dan tenang, jika identitas putriku juga dikenal oleh orang lain, sehingga tidak akan ada orang yang meremehkannya. Bahkan... kamu juga tahu sendiri bukan, mama dan adikmu sendiri juga meragukan status hubungan kalian.." sepertinya papa Arine ingin pengakuan untuk putrinya.

__ADS_1


Mendengar ucapan papanya, Arine hanya bisa menghela nafas. Bagi dirinya, status tidak penting, karena yang penting adalah dia dan putranya bisa hidup bahagia, serta memiliki status untuk Brian. Masalah cinta ataupun pengakuan dari suaminya Elmar, menjadi nomor ke sekian untuknya.


"Bagaimana Arine... apakah kamu bisa mengambil makna dari pembicaraan kita ini.." Arine menjadi terkejut, ternyata apa yang diinginkan papanya adalah serius.


"Hmmmpph... baik pa, Arine paham. Nanti Arine akan memikirkannya, dan akan berbicara pada Elmar. Apakah pengumuman pernikahan kami adalah merupakan hal penting, dan tidak akan membahayakan reputasi perusahaan papanya Brian.." akhirnya setelah menghela nafas, Arime memberikan janji untuk mempertimbangkan usulan itu.


Tuan Abraham tampak mengambil nafas lega, karena dalam pemikirannya, tugas utama seorang papa adalah menikahkan putrinya. Karena saat ini, putrinya sudah menikah, dan juga sudah memiliki seorang putra, maka membuatnya diakui di depan masyarakat banyak, akan melegakan hatinya. Sebuah mimpi dan harapan yang tidak terlalu muluk untuk seorang papa...


*************


Mansion...


"Okay Aiko... kerjamu selalu sangat cekatan dan sangat excellent. Aku pastikan, aku tidak akan lama-lama berada di Indonesia, secepatnya aku akan kembali ke Sapporo, sekaligus untuk panen hasil penelitian kita..." tampak Bramantya mengakhiri rapat, karena laki-laki muda itu tahu jika ada yang mendekat dan berdiri di belakangnya.


"Siap Bram... selamat berlibur di tanah air...." Aiko melambaikan tangan, dan memberikan senyuman manis untuk laki-laki itu.


Setelah berpamitan, perlahan Bramantya menutup layar gadget di tangannya. Kemudian laki-laki itu menoleh ke belakang, dan tersenyum kecut ketika melihat mamanya ada di belakang punggungnya...


"Ada apa mama...??? Bram ini sedang bekerja, masak mama malah mengintip dari belakang..." dengan sabar, Bramantya bertanya pada mamanya, sambil membalikkan kursi yang didudukinya menghadap ke arah perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


Nyonya Clara tersenyum malu, kemudian menarik kursi dan duduk di depan putra sulungnya.


"Tidak apa-apa Bram.. Oh ya..., by the way siapa gadis yang tampak muncul barusan di gadget mu tadi. Gadis tadi tampak periang, dan ceria, serta sabar dalam meladenimu. Berbanding terbalik dengan dokter Keiko Kana, yang beberapa hari lalu kamu kenalkan pada mama...' perempuan itu tampak kepo, dan sinar mata ingin tahu tampak jelas terlihat di matanya.


"Tadi itu Aiko mama... Aiko teman satu tim pada project yang saat ini Bram kerjakan di Sapporo. Aiko itu memang gadis cekatan, dan selalu menjadi asisten dalam setiap project  Bram. Tetapi... kenapa mama tiba-tiba bertanya tentang gadis itu, tidak ada yang janggal bukan..." merasa jika pertanyaan mamanya terlalu menjurus, bramantya sadar jika ada yang aneh.


Laki-laki itu menatap ke wajah mamanya dengan cermat, dan tampak nyonya Clara mengulum senyum sambil mengangguk anggukkan kepala.


"Mama... tolong mama jangan memiliki ide gegabah, dan mengacaukan hubungan pertemanan Bram dengan Aiko. Kami ini pure berteman mama.., dan tidak pernah ada niatan untuk menjalin kedekatan lebih dari sekedar teman.." laki-laki itu tampak berjaga-jaga,


Menyadari sikap mamanya, dan hampir setiap hari perempuan itu mendesaknya untuk segera menikah, Bramantya layak untuk mencurigai mamanya.


"Jangan salahkan mama Bram.. Semua karena dirimu sendiri, sehingga mama selalu menaruh harapan pada setiap wanita yang dekat denganmu. Karena mama yakin, pasti akan ada secuil peluang, agar putraku segera mendapatkan pendamping di sampingnya.." tiba-tiba tatapan perempuan itu menjadi melow, dan terlihat ada air mata yang mulai menggenang.


"Kenapa mama menjadi seperti ini... Semua karena Bram belum ingin menikah mama..., yakinlah jika suatu saat nanti, Bram pasti akan membawa pulang menantu untuk mama.." Bramantya seketika memeluk mamanya dengan erat, dan mengucap janji pada perempuan paruh baya itu.


"Mama juga tidak akan berhenti berusaha untuk menemukan jodoh untukmu Bram.. Jangan halangi mama..." nyonya Clara tidak mau kalah.


Untuk melegakan hati dan perasaan mamanya, Bramantya hanya bisa menganggukkan kepala, meskipun senyuman kecut muncul di bibirnya.

__ADS_1


************


__ADS_2