One Night Incident

One Night Incident
Bab 80 Kejutan Pagi


__ADS_3

Soekarno Hatta International Airport.....


Bramantya merasa bingung, karena tanpa ada penjelasan, mamanya memaksa dirinya untuk pergi ke airport bersama dengan mamanya. Beberapa kali, laki-laki itu bertanya untuk tujuan apa, atau siapa yang akan mereka jemput. Tetapi perempuan paruh baya itu hanya tersenyum penuh misteri, dan meminta putranya untuk sabar menunggu. Terlihat jika Nyonya Clara seperti bermain teka teki dengan putra sulungnya, Akhirnya, dengan malas, Bramantya sabar mengikuti mamanya. Dan saat ini, mereka sudah berada di Executive Lounge airport.


"Kamu masih minum kopi lagi Bram..., bukankah tadi di mansion kamu juga sudah minum black coffee.." melihat putranya datang membawa cangkir berisi kopi panas, nyonya Clara memberikan teguran,


"Santai ma..., Bram konsumsinya tanpa menggunakan gula. Kopi bagus untuk membangunkan mood pagi..., apalagi mood Bram sedang tidak bagus, merasa dipermainkan mama.." dengan bahasa sarkasme dan muka datar, Bramantya dengan santai memberikan tanggapan,


Laki-laki itu kemudian duduk di depan mamanya, dan nyonya Clara hanya tersenyum mendengar perkataan itu.


"Sabarlah Bram... masak tidak akan sampai satu jam menunggu, kamu sudah tidak sabar. Mana pernah sih, mama mempermainkanmu, juga Elmar. Semua kan indah pada akhirnya, trust mama..." perempuan itu tersenyum, kemudian berdiri dan mendatangi stall tempat penempatan snack ringan di dalam lounge tersebut.


Bramantya terdiam, sudah hafal dengan kebiasaan dari anggota keluarganya. Selalu berusaha misterius dan terkesan menyembunyikan sesuatu jika mereka memiliki keinginan. Tangan kanan Bramantya mengambil sendok kecil, kemudian dengan perlahan mengaduk kopi di dalam cangkir. Perlahan dengan menggunakan sendok, laki-laki itu mengambil beberapa untuk dicicipinya.


"Lumayan aroma kuat Arabica bisa membangunkan semangatku. Malas rasanya, seharusnya masih nyaman berada di tempat tidur, tetapi harus berada di airport seperti ini.. Mana tidak tahu, siapa yang akan dijemput oleh mama lagi..." sambil terus menyesap kopi, Bramantya berbicara pada dirinya sendiri.


Terlihat nyonya Clara sedang berbincang dengan seseorang yang ditemuinya di dalam lounge. Rupanya perempuan paruh baya itu, bertemu dengan teman sosialitanya. Ketika masih mengaduk kopi, tiba-tiba pandangan Bramantya tertuju pada beberapa orang yang memasuki lounge, dari akses lapangan terbang. Mata laki-laki itu melihat dengan tajam, ketika dilihatnya seseorang yang tidak asing lagi baginya.

__ADS_1


"Hah... siapa itu, apakah memang ada kemiripan sedemikian persisnya dengan mitra kerjaku di Sapporo..." laki-laki itu menghentikan gerakan mengaduk kopi sebentar.


Melihat seorang gadis bermata sipit, dengan kulit putih yang mengenakan jaket bulu di tubuhnya, membuat Bramantya menjadi tercengang. Antara mengenali seseorang, dan antara meragukannya. Karena merasa jika tidak yakin, jika gadis itu adalah mitra kerjanya di Sapporo.


"Tapi tidak mungkin jika itu orang lain... aku akan mencoba berdiri menyambutnya. Jika dia mengenaliku, berarti gadis itu memang temanku.. Tapi untuk apa saat ini dia berada di Indonesia..., tidak biasanya dia berlibur sendirian seperti itu..." banyak pertanyaan berkembang dalam pikiran Bramantya.


"Aku akan samperin saja, siapa tahu memang dia adalah Keiko..." setelah meyakinkan jika memang gadis yang baru masuk ke dalam lounge itu adalah Dokter Keiko Kana, Bramantya berdiri dan berjalan mendekati gadis itu,


Namun untuk menjaga agar dirinya tidak salah orang, Bramantya tidak menyapa duluan. Laki-laki itu hanya berdiri mendekat, dan seperti menghadang kedatangan gadis itu.


"Bram... is that you.. man...??? Untunglah kamu menjemputku di lounge Bram.., jika tidak aku pasti akan sangat kebingungan. Karena baru pertama kali aku berkunjung ke negara ini..." belum sampai Bramantya tersenyum, ternyata gadis itu benar Dokter Keiko Kana, dan gadis itu berteriak menyapanya.


Saat ini Dokter Keiko Kana, seperti seorang mahasiswa yang sedang berlibur. Dengan tubuh mungil, kulit putih bersih, dan mata sipit, gadis itu tidak layak untuk dinyatakan sebagai seorang gadis yang memiliki profesi sebagai seorang dokter. Tanpa sadar, Bramantya terus menatap gadis di depannya itu dengan pandangan heran dan kagum..


"Hey Bram... kenapa malah melihatku seperti ini broo.... Seperti aneh melihatku, kayak baru turun dari planet Mars saja..." Bramantya tergagap ketika mendapat tepukan di lengan atasnya. Laki-laki itu baru kembali fokus, dan yakin jika gadis itu adalah Dokter Keiko Kana yang dikenalnya.


"Mmmppphh... sorry Dokter.., aku terpana melihatmu. Kali ini penampilanmu jauh berbeda dari biasanya, dan kamu sangat cantik dan mungil.." tanpa sadar, keluar pujian dari bibir Bramantya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Haaahh... janganlah gombal seperti inilah. Aku jadi tidak enak body..." pipi Dokter Keiko memerah mendengar pujian itu.


"Lupakanlah dokter... ayuk  minum dulu dan bergabung di mejaku. Sambil kamu menanti jemputan..." Bramantya segera menggandeng tangan gadis itu, tetapi ekspresi gadis itu malah merasa heran.


Tetapi tidak ada penolakan dari dokter Keiko, karena gadis itu terus mengikuti kemana Bramantya membawanya. Sampai akhirnya laki-laki itu membawanya duduk..


"Bram... bisakah kamu menghilangkan sebutan Dokter ketika memanggilku. Please... kita sedang tidak sedang dalam tugas dinas Bram..." ketika Bramantya akan berdiri untuk mengambilkannya minum, Dokter Keiko Kana mengajak laki-laki itu bicara.


"Dan juga, kenapa pertanyaanmu barusan seperti kamu tidak tahu alasanku datang ke negara ini Bram...? Bukankah kedatanganku ke negara ini atas undanganmu, yang disampaikan oleh Auntie Clara... Auntie juga mengatakan jika kamulah yang akan menjemput kedatanganku di negara ini..." kalimat terakhir yang diucapkan Keiko sangat mengejutkan Bramantya.


Laki-laki itu baru tersadar, jika sejak berangkat dari rumah tadi, ternyata dirinya sudah dikerjai oleh mamanya. Namun dengan sukses, perempuan paruh baya itu berhasil mengelabui putranya. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Bramantya menghela nafas, dan tidak mungkin akan mempermalukan mamanya. Akhirnya...


"Iya Keiko..., please forgive me...!! Aku melupakannya, karena aku terpukau dengan kecantikanmu hari ini... Tunggulah sebentar, aku akan mengambilkanmu minuman dulu.." untuk menjaga martabat mamanya, Bramantya pura-pura menjawab jika dirinya lupa.


Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Keiko, dengan dalih untuk mengambilkan gadis itu wellcome drink. Ada perasaan jengkel laki-laki itu pada mamanya, karena dengan skenario dari perempuan paruh baya itu, Keiko akhirnya datang ke Indonesia.


"Kemana lagi mama... tadi aku melihatnya sedang berbincang dengan teman sosialitanya. Tetapi kenapa sekarang sudah tidak ada.. Jangan.., jangan.." sesaat muncul pikiran buruk tentang mamanya.

__ADS_1


Namun karena meninggalkan Keiko sendiri, Bramantya menunda untuk melampiaskan kejengkelan pada mamanya. Laki-laki itu kemudian mengambilkan teh panas untuk Keiko, dan memisahkan gulanya sendiri. Setelah itu, Bramantya bergegas kembali ke tempatnya duduk.


************


__ADS_2