
Senayan City Mall...
Nyonya Santa terlihat sedang duduk di Shu Guo Yin Xiang · Nice soup, dan tampak fokus pada ponsel di tangannya. Sesekali perempuan paruh baya itu menyeruput minuman, dan juga mengambil beberapa snack untuk dimakannya. Tiba tiba wajah perempuan itu tersenyum ketika mengangkat wajahnya ke atas. Terlihat ada seorang laki laki seusia dengannya datang menghampiri perempuan itu..
"Santa... apakah kamu sudah lama menungguku sayang..." Nyonya Santa berdiri menyambut laki laki itu. Perempuan dan laki laki itu tampak saling berpelukan sebentar, kemudian cipika cipiki, kemudian keduanya duduk.
"Aku sudah memesankan teh hijau untukmu Prast... minumlah terlebih dahulu. Aku pikir kamu pasti sangat capai, menempuh perjalanan dari kota Bandung, langsung menuju ke tempat ini.." nyonya Santa mengambil gelas berisi teh hijau, kemudian memberikan pada laki laki yang dipanggilnya dengan panggilan Prast.
"Mmmppphh... terima kasih Santa, kamu selalu perhatian padaku.." laki laki itu langsung mengambil gelas tersebut, kemudian menyeruput minuman beberapa kali.
Setelah beberapa saat, dan Prast sudah mulai menyesuaikan diri, nyonya Santa mengajak laki laki itu untuk segera menikmati makanan yang sudah dipesannya sejak tadi. Tidak ada penolakan dari laki laki itu, dan keduanya segera menikmati makanan beberapa waktu lamanya. Tidak sampai dua puluh menit, akhirnya kedua orang itu menyelesaikan makan siang mereka.
"Santa... tidak mungkin bukan, kamu memanggilku untuk datang ke Jakarta hanya untuk makan siang seperti ini.. Pasti ada sesuatu yang penting, yang akan kamu lakukan..." tiba tiba Prast bertanya tentang maksud perempuan yang duduk di depannya itu, mengundangnya datang,
Santa mengangkat wajahnya ke atas, dan Prast segera menggenggam kedua tangan perempuan di depannya itu. Keduanya saling berpandangan...
"Melihatmu seperti ini Santa, tatapan matamu yang liar.. aku ingin membawamu ke atas ranjang.." Prast sudah mulai menunjukkan sikap liarnya.
"Abaikan dulu niat kotormu itu Prast..., aku membutuhkan bantuanmu untuk berurusan dengan Abraham. Aku sudah mengorbankan keluargaku yang dulu, hanya untuk mendekati Abraham, karena tergiur oleh asset yang dimiliki oleh laki laki itu... Tapi Prast, sudah lima tahun aku hidup bersamanya, sedikitpun asset belum ada yang dibalik nama atas namaku sendiri. Hanya mobil saja, sudah atas nama Claudia putriku..." ternyata maksud mengundang Prast itu, hanya untuk berkeluh kesah tentang masalahnya.
Laki laki bernama Prast itu terdiam, seperti sedang mengukur tingkat kesulitan yang akan dihadapinya.. Tetapi tatapan matanya terus menghujam perempuan yang duduk di depannya, seakan ingin menelan perempuan itu bulat bulat.
"Lalu... apa yang kamu ingin aku lakukan pada Abraham, membunuhnya atau hanya sekedar melumpuhkannya saat ini.." dengan menarik satu bibir ke atas, laki laki itu akhirnya memberikan komentar.
__ADS_1
"Benar yang kamu katakan Prast.., tapi lakukan secara smooth. Apalagi semua asset dan kekayaan, masih atas nama laki laki itu. Dan Abraham itu memiliki putri kandung, jika laki laki itu meninggal saat ini, secara otomatis putri kandungnya akan memiliki sebagian besar kekayaan darinya. Aku tidak inginkan itu..." dengan wajah kejam, Nyonya Santa menanggapi.
Prast kembali tersenyum sadis,..
"Kamu benar benar perempuan yang sangat menarik untuk mendampingiku Santa... Tegas, dan kejam secara perlahan... Aku akan memikirkan cara untuk mengatasi hal ini, tapi puaskan aku dulu untuk siang ini sayang... Aku merindukan tubuh dan aromanya..." dengan senyum melecehkan, Prast berbisik pada Nyonya Santa..
"Prast.., kamu semakin nakal padaku.. Ayolah, aku sudah booking kamar hotel untuk kita.." seakan mengimbangi keinginan laki laki itu, Santa kemudian berdiri dan menarik tubuh Prast untuk mendekat kepadanya.
Tidak lama kemudian, pasangan laki laki dan perempuan itu berjalan sambil berpelukan.
************
Blossom Hotel...
"Sudah pukul dua p.m, apakah Brian masih bermain di sofa...?" muncul pertanyaan di benak gadis itu.
Perlahan Arine turun dari atas ranjang untuk mencari putranya, kemudian berjalan menuju ruang tamu yang ada dinding penyekat, meskipun tidak ada pintu. Tetapi begitu sampai di depan sofa, Arine terkejut dan bahkan sampai memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Brian..." keluar ucapan lirih ketika melihat posisi tidur putranya.
Putra laki lakinya tampak tidur dalam dekapan seorang laki laki muda dan tampan, dan diingat oleh Arine bernama Elmar. Keduanya tampak saling melengkapi, dan saling menghangatkan, seperti memperlihatkan hubungan antara seorang papa dengan putranya..
"Kenapa bisa seperti ini, aku tidak mungkin akan membiarkan putraku, tetapi aku juga tidak tega untuk memisahkan mereka.." Arine merasa berada dalam sebuah simalakama, tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Tiba tiba mata laki laki itu terbuka, dan tidak terduga kedua pasang mata itu bertatapan. Arine merasa kaget, namun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya itu. Mata laki laki bernama Elmar itu seperti memiliki magnet, yang menarik untuk beradu pandang dengannya. Senyuman lembut muncul dari bibir laki laki itu...
"Maaf... tadi malam saya datang, karena saya sudah janji pada Brian untuk datang..." Elmar dengan lirih mengucap kata maaf.
Arine tidak mampu berkata kata, gadis itu hanya menganggukkan kepala secara perlahan. Melihat posisi laki laki itu yang tampak lelah,
"Tuan Elmar... mungkin Brian dipindahkan dulu ke atas ranjang. Saya kasihan dan tidak tega melihat posisi tidur tuan... Brian betul betul sangat merepotkan.." melihat kedua kaki panjang Elmar yang menggantung, muncul rasa iba pada laki laki itu.
"Terima kasih atas perhatiannya, apakah saya bisa membawa Elmar ke ranjang sekarang.." dengan sopan, Elmar meminta ijin.
Arine menganggukkan kepala, dan melihat laki laki itu terlihat susah untuk bangun dari posisi tidur karena menjaga agar Brian tidak terbangun, Arine ke depan dan memberikan pertolongan pada Elmar. Ketika tangan Arine menyentuh lengan atas Elmar, kulit laki laki itu mendadak seperti terkena stroom. Tapi Elmar sebisa mungkin menahan, dan merasa bahagia bisa merasakan kembali sentuhan itu, yang sudah sangat dirindukan bertahun tahun lamanya.
Tidak lama kemudian, laki laki dewasa itu berjalan membopong tubuh Brian menuju ke ranjang, dan tanpa sadar Arine masih memegangi lengan atas laki laki itu. Pada saat Elmar menurunkan tubuh Brian, tanpa sadar Arine ikut terduduk, dan aroma samar parfum maskulin laki laki itu memasuki rongga dadanya. Arine tersentak, karena tanpa sadar Elmar sudah berada di depannya dalam jarak yang sangat dekat..
"Mmmpphh... maaf tuan Elmar, sebaiknya kita tinggalkan Brian di sini. Kita pindah di meja tamu saja..." merasa sungkan, akhirnya Arine mengajak laki laki itu untuk berpindah tempat duduk.
"Baik Arine..." suara lembut Elmar memanggilnya, membuat dada gadis itu bergetar. Tidak pernah dirasakannya seperti itu, bahkan ketika dirinya sedang bersama Raffi, maupun Bramantya. Tapi Arine menahan apa yang dirasakannya itu, kemudian gadis itu berjalan mengikuti Elmar yang sudah berjalan lebih dulu..
"Tuan Elmar... apakah Tuan mau kopi, jika iya akan saya buatkan.." melihat laki laki itu masih terlihat mengantuk, dan akan tidak sopan jika dirinya mengusir laki laki itu pergi, Arine basa basi menawarkan minuman.
"Jika Arine tidak kerepotan, sepertinya kopi akan menjadikanku lebih bersemangat.." mendengar jawaban dari laki laki itu, Arine kemudian berjalan menuju ke arah meja untuk menyalahah water heater..
**************
__ADS_1