One Night Incident

One Night Incident
Bab 55. Memberi Nasehat


__ADS_3

Arine yang sudah dalam kondisi lelah, dan sudah berurusan dengan mama serta adik tirinya, merasa terpancing dengan perkataan provokatif dari gadis itu. Tiba tiba saja Arine sudah berdiri, satu tangan memegang gelas berisi Coke, dan tanpa bicara menyiramkan Coke ke wajah perempuan yang marah kepada putranya.


"Aaawww..... dasar perempuan ******... Astrid... panggil security untuk menangkap perempuan itu... Kamu benar benar kurang ajar." perempuan muda itu berteriak marah, dan memanggil temannya. Kedua tangan perempuan muda itu terlihat sibuk, untuk mengeringkan pakaian bagian depannya yang basah karena guyuran Coke.


"Hi .. hi.. hi... lucu mommy..." Brian terlihat senang melihat perempuan muda yang tampak wajah dan pakaiannya basah.


"Selamat malam... ada apa ini..?" tiba tiba dua petugas keamanan datang,


"Tangkap perempuan ****** dan bocah nakal itu. Mereka sudah bertindak kasar, urakan.. seperti anak anak pinggir jalan yang tidak punya tempat tinggal..." perempuan muda itu tambah kelewatan. Mulutnya mengoceh tanpa bisa dikontrol.


Arine yang sudah terprovokasi sejak dari rumah sakit, dan ditambah dengan tingkah menyebalkan dari perempuan itu, tiba tiba berdiri, dan menghadap ke arah security yang bertanya tentangnya...


"Pak Security... kalian dengar bukan, betapa pedasnya mulut perempuan ini. Aku bisa saja mengajukan somasi kepadanya, dengan tuduhan penghinaan dan pencemaran nama baik. Aku yakin, rekaman CCTV di restaurant ini, dan juga saksi orang orang yang berkunjung, akan menjelaskan, siapa yang lebih dulu memancing keributan pada kami..." belum sampai security mengajukan pertanyaan, Arine sudah berbicara duluan.


"Aku tidak akan pernah marah pak... jika saja perempuan itu hanya menghinaku, Tetapi... siapapun yang sudah berani untuk menindas putraku, aku mommy nya tidak akan tinggal diam. Mau urusan pengadilan, di ranah hukum hanya karena kasus malam ini, akan aku hadapi..." lanjut Arine dengan lantang.


"Sombong sekali bicaramu perempuan ******... Apakah kamu tidak pernah mengenal namaku... ingat namaku adalah Stevia, lulusan dari Harvard University... Papaku pemilik beberapa perusahaan di kota Jakarta ini.. Kamu mengancamku untuk berurusan dengan hukum... ha.., ha.. ha.., kamu akan cari mati perempuan ******... Hukum di Indonesia bisa untuk kita beli dan kita kuasai..." dengan sombongnya, perempuan yang ternyata bernama Stevia itu tertawa.


Para pengunjung lain yang ada di dalam restaurant menatap miris dengan kata kata perempuan itu.. Mereka hanya geleng geleng kepala melihatnya...

__ADS_1


"Okay... aku tidak akan takut. Catat.. namaku adalah Arine Aalishaa Abony, dengan tempat tinggal terakhir di Sapporo, Hokkaido Jepang. Saat ini aku dan putraku menginap di Peninsulla Hotel. Gunakan itu, jika kamu akan mengajukan tuntutan hukum padaku... aku akan meladenimu gadis sombong..." sambil tersenyum, Arine dengan bangga membuka identitasnya.


"Mommy... rasa lapar Brian kembali hilang momm... kita pesan room service di hotel saja. Nanti Brian akan adukan kejadian malam ini pada daddy... Dan daddy pernah bilang, jika daddy juga punya perusahaan besar di Jakarta." Brian mengajak mommy nya untuk meninggalkan restaurant,


Petugas security tidak mampu berbicara, karena tidak mengetahui dengan jelas bagaimana kejadian sebenarnya.


"Ha.. ha... ha... bocah kecil sombong.. Perusahaan krucil saja kamu banggakan..." mendengar ucapan Brian, perempuan bernama Stevia dan temannya Astrid tertawa terbahak.


"Bacalah news auntie... lihat apakah Javanica Group itu perusahaan krucil..?? Daddy ku pemilik perusahaan itu, namanya adalah Elmar William..." Brian segera menggandeng tangan Arine, dan keduanya segera melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.


"Elmar calon suamiku adalah papamu... Ha.. ha.. ha.., lebih lengkap materiku untuk mengajukan tuntutan kepadamu..." Stevie semakin tertawa, namun Arine dan Brian sudah keluar dari dalam restaurant.


Di kamar hotel...


Arine menepuk nepuk pelan punggung Brian, karena setelah makan malam, bocah itu terlihat sudah mengantuk. Mereka akhirnya memesan sop buntut lewat room service, karena acara makan fast food mereka sudah buyar. Tetapi rupanya Brian tidak tidur tidur, mata bocah itu masih terlihat segar...


"Brian... apakah kamu belum mengantuk sayang..?" Arine bertanya pada putranya.


"Belum momm.... tadi siang sampai sore, Brian sudah tidur, demikian juga ketika di pesawat.. Jadi malam ini, Brian tidak begitu mengantuk." dengan polosnya, Brian menjawab pertanyaan mommy nya..

__ADS_1


"Baguslah sayang... Oh ya Brian... dengarkan kata kata mommy ya, dan semoga putra mommy ini akan mau mendengarkannya.." Arine tersenyum, dan berpikir jika malam ini, merupakan saat yang tepat untuk mengajak bicara pada putranya.


Brian membalikkan tubuhnya, dan menatap ke arah mommy nya yang sedang tersenyum.


"Katakan mommy... Brian ingin mendengarkan.." tidak diduga, Brian malah meminta mommy nya untuk menyampaikan,


"Begini sayang.... akhir akhir ini mommy merasa, jika Brian terlalu banyak melibatkan Uncle Elmar dalam urusan kita. Bolehlah sesekali sayang... tetapi tidak boleh keterusan seperti itu. Bukankah Uncle Elmar juga punya keluarga, dan mungkin suatu saat akan menikah..." dengan hati hati, Arine menasehati Brian.


"Kenapa tidak boleh mommy... bukankah Uncle Elmar adalah daddy Brian. Dan berkali kali daddy juga mengatakan pada Brian, jika daddy akan selalu melindungi Brian. Tidak salah bukan, jika Brian menggunakannya untuk mengancam balik seseorang yang menindas kita. Dan di masa depan, daddy dan mommy juga akan menikah, jadi menurut Brian... tidak akan ada masalah.." Arine terhenyak mendengar kata kata putranya.


Gadis itu sampai bingung, dengan cara apa lagi akan memberi pengertian pada putranya. Arine menganggap jika pesona Elmar sebagai daddy, sudah menyatu dalam hati Brian. Tapi entah bagaimanapun caranya, Arine bertekad harus memberi pengertian pada Brian...


"Tapi Brian... di dalam dunia orang dewasa, apa yang ada dalam pikiran kita, sering hanya menjadi kehaluan, dimana orang menyebutnya sebagai halusinasi. Tetapi akan menjadi kurang pas, jika itu diterapkan dalam dunia nyata.. Jadi, menurut mommy.. sayang, jangan terlalu sering menggunakan nama Uncle Elmar untuk mengatasi masalah kita, karena malah akan semakin meruncingkan masalah.." Arine terus menasehati putranya.


Namun... ternyata Brian tidak mendengarkan. Ketika mommy nya berbicara, bocah itu malah memejamkan mata, dan akhirnya tertidur pulas. Sesaat Arine baru menyadari, karena tidak ada respon yang keluar dari putranya. Ketika Arine menundukkan wajah ke bawah, gadis itu tersenyum melihat putranya tampak lelap tertidur...


"Ketika usiamu semakin bertambah, mommy yakin sayang.., kamu akan mengerti apa yang mommy ucapkan kepadamu.." dengan penuh kasih, Arine mengatur posisi tidur Brian.


Perlahan Arine menarik selimut, kemudian menyelimuti tubuh Brian, dan kecupan di kening bocah itu, sebagai ritual terakhir untuk pengantar tidur putranya. Setelah memastikan Brian tidak akan terbangun, Arine bergegas kembali turun dari atas ranjang, dan mencari tas laptopnya. Karena sudah beberapa hari, Arine menunda pekerjaan, akhirnya gadis itu berniat untuk menyelesaikan semua malam ini.

__ADS_1


************


__ADS_2