
Kantor Catatan Sipil...
"Nona Arine Aalishaa Abony... semua persyaratan pernikahan dengan Tuan Elmar sudah terpenuhi. Sebelum staf di kantor catatan sipil ini, membuatkan pengesahan legalitas pernikahan kalian berdua dalam buku nikah, saya ingin bertanya tentang keseriusan ini." seorang bapak bapak berkaca mata dengan serius bertanya pada Arine.
Saat ini, Elmar sudah membawa Arine ke kantor catatan sipil, dimana kantor itu masih terlihat beberapa orang, meskipun seharusnya sudah tutup. Ternyata dengan uang dan kekuasaan, diibaratkan waktu saja bisa dihentikan. Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari laki-laki di depannya itu, Arine melihat ke arah Elmar. Laki-laki muda itu tersenyum dan menganggukkan kepala, memberikan dukungan pada gadis di sampingnya.
"Saya ulang sekali lagi Nona Arine Aalishaa Abony, putra dari Tuan Abraham. Dimana karena sesuatu dan lain hal, Tuan Abraham sudah memberikan surat kuasa, atas pernikahan ini. Hal tersebut disebabkan, karena Tuan Abraham saat ini sedang terbaring di rumah sakit.." perkataan dari petugas catatan sipil itu, membuat Arine terkejut.
Tetapi juga sekaligus mengingatkan, jika pada awalnya dirinya sudah berbohong pada papanya mengenai pernikahannya dengan Elmar. Jika saat ini, dirinya menunda dan akan bicara jujur pada papanya, maka akan sangat beresiko. Karena papanya mengidap penyakit jantung. Beberapa saat Arine terdiam, kemudian gadis itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah petugas catatan sipil tersebut.
"Baik pak... saya setuju untuk menikah dengan kak Elmar.." akhirnya dengan tegas, Arine memberikan tanggapan atas perkataan petugas catatan sipil.
Wajah Elmar menjadi bersinar, dan tampak kebahagiaan menyeruak di wajahnya. Laki-laki muda itu seperti mendapatkan sebuah hadiah besar, ketika mendengar ucapan Arine yang menyetujui pernikahan itu. Dengan raut bahagia, Elmar menggenggam tangan Arine dan mereka berdua segera menatap petugas catatan sipil di depannya.
"Jika begitu, saya tidak memiliki kewenangan untuk mengesahkan pernikahan anda berdua secara agama, karena kami hanya akan melegalkan pernikahan dengan pencatatan pada buku nikah. Tapi jika kalian belum siap, kami menyediakan fasilitas, dan orang yang akan menikahkan anda berdua.." petugas catatan sipil memberikan informasi pada calon pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Karena semua sudah dipersiapkan oleh Abidzar, Arine diam tidak menjawab. Dengan pasti dan percaya diri, Elmar menggandeng tangan Arine serta mengajak gadis itu berdiri. Tanpa berpikir panjang, Arine mengikuti ajakan Elmar, dan keduanya berjalan masuk ke bagian dalam kantor catatan sipil. Terlihat di sebuah ruangan, Abidzar tersenyum dan dengan sikap hormat menyambut kedua orang itu, kemudian membawa mereka ke dalam ruangan kecil.
**********
Beberapa Saat kemudian..
Seusai melakukan pernikahan, dan mendapatkan akta cerai dari kantor catatan sipil, Elmar tidak mau membuang buang waktu. Bukannya mengarahkan mobil ke mansion mereka di komplek Pantai Indah Kapuk, namun malah mobil terus menuju ke arah Bogor. Bahkan Elmar melarang Abidzar untuk mengikuti mereka, dan tidak ada pilihan lagi bagi asisten pribadi itu untuk menuruti perintah dari tuan mudanya..
"Mmpppphh... kak Elmar, kita akan ke arah mana. Sepertinya mobil yang kakak kendarai, malah keluar dari kota Jakarta..?" merasa bingung dengan arah mobil dibawa Elmar, Arine bertanya pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Tapi kak... bagaimana dengan Brian... Anak itu pasti akan mencari Arine, apalagi tadi Brian bersama dengan Bramantya.." merasa khawatir dengan putranya, Arine bertanya pada laki-laki itu.
Mungkin karena tidak melalui masa pacaran, Arine masih merasa ragu dan sungkan ketika berada di dekat dengan Elmar yang sudah menjadi suaminya. Apalagi mereka seperti terpaksa melakukan pernikahan itu, dan semua terjadi secara mendadak. Bahkan Arine tidak mampu berpikir dengan jernih, meskipun dalam hati Arine juga merasa lega. Saat ini, putranya Brian memiliki status legal yang sah, jika memiliki seorang daddy.
"Tidak perlu berpikir terlalu serius dengan Brian honey... Saat ini, Brian bersama dengan opa, oma, dan juga papa besarnya. Sejak kapan, honey meragukan kak Bramantya. Bukankah, sebelum kita dipertemukan oleh takdir, Brian sudah terbiasa bersama dengan Uncle nya.." Laki-laki itu tampak berbicara serius, dan ada kecemburuan dalam nada bicara laki-laki itu.
__ADS_1
Bagaimanapun sebagai seorang daddy, Elmar tidak mengetahui kelahiran putranya, proses tumbuh kembang Brian. Tetapi malah kakak kandungnya, yang mendapatkan kesempatan itu. Apalagi beberapa kali, Bramantya juga menyatakan jika tertarik dengan Arine, dan meskipun status gadis itu, kakak kandungnya tidak ragu untuk menikahi gadis itu.
"Baiklah kak... Arine akan mencoba untuk percaya dengan keberadaan Brian. Masalahnya, anak itu tidak pernah terpisah jauh dariku kak.. Jadi tidak salah bukan, jika Arine mengkhawatirkannya..." akhirnya Arine berusaha menghapus pikiran buruk tentang putranya.
Gadis itu mengalihkan tatapan matanya keluar kaca jendela, karena merasa kikuk dengan keberadaan suaminya. Status baru itu, belum siap dianggap biasa oleh Arine. Tiba-tiba tanpa Arine sadari, kursi yang didudukinya merendah. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba tubuh Elmar sudah menindihnya. Tanpa ragu, ternyata laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu, menekan tuas perendah tempat duduk, dan saat ini bibir laki-laki itu sudah memenuhi bibir Arine...
"Mmmmppphh.... kak..." gadis itu tidak sempat bersuara, karena tanpa sadar Arine juga menikmati semua perlakuan suaminya,.
Bahkan, tangan Elmar sudah merambat kemana-mana, dan tubuh Arine merasakan gelenyar gelenyar aneh, seperti merasakan kenikmatan yang sudah bertahun-tahun pernah dirasakannya. Bibir Arine tanpa sadar mengeluarkan lenguhan, ketika tangan Elmar sudah masuk ke dalam baju atasannya. Pasangan suami istri itu seperti terlena, dan tidak sadar dimana posisi mereka berada saat ini. Elmar seorang laki-laki muda, yang sudah pernah merasakan kenikmatan surga dunia, dan sudah sangat lama menahan, seperti mendapatkan air minum untuk menghilangkan dahaganya,
"Tok... tok... tok..." tiba-tiba Elmar menghentikan gerakannya, dan tampak kemarahan terlihat di wajah laki-laki itu, Laki-laki itu segera kembali ke tempat duduk, dan mengatur pernafasannya.
Sebaliknya yang terjadi dengan Arine, gadis itu dengan wajah merah segera mendorong dada Elmar untuk menjauh darinya. Dengan tergesa, Arine membetulkan kancing bajunya, dan kembali menegakkan sandaran kursinya. Dengan kasar, Elmar membuka kaca depan, dan terlihat dua polisi yang mengendarai sepeda motor terlihat dari kaca tersebut. Dua polisi itu agak terkejut melihat laki-laki yang berada di hadapannya.
************
__ADS_1