One Night Incident

One Night Incident
Bab 56. Somasi


__ADS_3

Villa mewah di Sentul, Bogor....


Stevia yang terlibat keributan dengan Arine dan Brian di restaurant fast food tadi malam, tampak sedang mengadu pada papanya. Saat ini mereka sedang melakukan makan pagi bersama di pinggir kolam renang,dan sepertinya Stevie memanfaatkan kesempatan itu...


"Ada apa Stevia,.. papa amati sejak tadi bibirmu cemberut, seperti ada mendung yang menutupinya.." sambil menusukkan potongan sosis ke mulutnya, laki laki tua itu bertanya pada putrinya.


"Stevie sedang kesal pa... Masak tadi malam ada seorang ibu ibu muda dan putranya mencari gara gara sama Stevia.. Dan ketika Stevia memberi teguran, malah wajah dan pakaian Stevi disiram menggunakan Coke. Siapa yang tidak marah coba...?" gadis itu mencoba mengadukan keributan tadi malam.


"Kurang ajar sekali... siapa perempuan itu. Tidak tahu aturan, berani beraninya bersikap buruk pada putriku.." laki laki tua itu ikut terpancing emosinya..


"Sabar pa... kita dengarkan dulu sampai putri kita selesai bercerita. Jika papa sampai terpancing marah, awas lho kesehatan jantung papa..." nyonya Elsa, mamanya Stevia ikut menenangkan suaminya.


Perempuan paruh baya itu berjalan lebih mendekat pada suaminya, dan mengambilkan air minum untuk laki laki itu.


"Ya itulah pa... Dan yang bikin Stevie tambah gedek... bocah kurang ajar itu masak menyebut nyebut nama Kak Elmar, dan mengatakan jika kak Elmar adalah daddy nya. Semula Stevie abaikan, karena Stevi pikir itu Elmar yang lain. Tetapi dengan pedenya, bocah itu menyebut owner dari Javanica Group. Bukankah itu pelecehan dan merendahkan kak Elmar pa..." Stevie melanjutkan ceritanya.


"Hempphh... sudah terlalu jauh perempuan dan bocah itu. Kita akan usut semua itu Stevie, dan akan menjadi poin bagus untuk kita, karena kita membantu keluarga William mengatasi orang orang yang merendahkan keluarganya..." tiba tiba laki laki tua itu tersenyum.


"Benar pa... pasti Elmar akan bangga pada Stevie, karena tanpa diminta, Stevie sudah menjaga nama dan kehormatannya.." nyonya Elsa ikut menyahut.


Stevie tersenyum senang, karena papa dan mamanya selalu mendukung, serta mempercayainya. Gadis itu tumbuh menjadi gadis yang manja, karena perlakuan kedua orang tua yang selalu memanjakannya. Setelah pembicaraan itu, papa Stevie terlihat sibuk karena membuat pengaturan. Laki laki itu tampak tidak rela, mendengar jika putrinya mengalami kejadian buruk..


**********


Peninsulla Hotel..

__ADS_1


Setelah sarapan pagi di restaurant, Arine berniat akan membawa Brian untuk kembali datang ke rumah sakit Harapan. Gadis itu dengan senyum senang, karena melihat putranya sangat mudah beradaptasi dengan tempat yang baru. Tidak ada wajah lelah dan sedih terlihat di wajah Brian, tetapi anak itu tampak selalu menunjukkan sikap riangnya..


"Mommy... apakah kita kembali ke kamar terlebih dahulu..., ataukah masih ada yang harus kita urus di luar..?" ketika Arine menggandeng tangan Brian keluar dari dalam restaurant, anak kecil itu bertanya.


"Kita ke kamar dulu untuk bersiap sayang... kan kita masih harus kembali ke rumah sakit. Opa membutuhkan kita sayang..., jadi kita tidak boleh membuang buang waktu.." gadis itu memberi perhatian pada putranya.


"Okay mommy... Brian akan selalu mengikuti apa yang mommy arahkan. Mommy Brian adalah yang terbaik.." bocah kecil itu tersenyum bangga, sambil mengacungkan ibu jari ke arah mommy nya.


Arine mengabaikan sikap putranya, gadis itu dengan fokus membawa putranya untuk masuk ke dalam pintu lift, yang sudah terbuka. Beberapa saat mereka dalam diam, dan ketika lantai yang mereka tuju sudah sampai, keduanya segera bergegas keluar dan menuju ke kamar yang mereka tempati.


"Kring... kring.." dari luar pintu, terdengar ada suara telpon berdering.


"Apakah mommy mendengarnya, seperti ada suara telephone berdering mom.." Brian memberi tahu mommy nya..


"Hempphh... paling dari banquet mau menawarkan service, atau dari room service. Abaikan saja.." dengan santai, Arine membuka pintu setelah melakukan scanning acces room.


"Brian... nanti bantu mommy ya.., menggendong back pack di punggung Brian.." setelah mengukur jika putranya tidak akan merasa berat, jika harus menggendong back pack, gadis itu memberi perintah pada Brian.


"Siap momm.." sahut Brian, sambil menyiapkan beberapa hot wheels untuk dibawanya ke rumah sakit.


"Kring... kring..." tiba tiba pesawat telpon kamar kembali berbunyi.


Arine mengambil nafas, tapi gadis itu segera menghampiri dimana pesawat telphone itu berada. Perlahan Arine mengangkat gagang telphone, kemudian menerima di telinganya.


"Kamar 307... apakah ada perlu.." Arine langsung menyebut nomor kamar yang ditempatinya..

__ADS_1


"Dengan Miss Arine Aalishaa Abony ya... mohon untuk menginformasikan agar Miss segera turun ke lobby. Ada dua orang yang akan bertemu dengan Miss, dan kami harap Miss bisa menyelesaikan dengan baik.." terdengar petugas receptionis memberi tahu maksud mereka menghubunginya.


"Hempphh... okay. Kebetulan aku juga sedang bersiap untuk turun ke bawah... Tunggu sebentar, tidak akan sampai sepuluh menit.." tanpa bertanya lebih lanjut siapa tamunya, Arine menyanggupi untuk bertemu dengan tamu yang mencarinya.


Gadis itu kemudian melanjutkan untuk berbenah, dan beberapa saat kemudian..., semua sudah tertata dan mereka siap untuk berangkat.


"Brian... are your ready...?" Arine mengkonfirmasi putranya.


"Siap momm..." Brian sudah siap dengan back pack di punggungnya.


Arine tersenyum, kemudian gadis itu menyelempangkan tas di pundaknya. Gadis itu segera meraih tangan putranya, dan mengajak anak itu keluar. Setelah pintu tertutup..., Arine segera membawa Brian menuju ke lift.


*********


Beberapa Saat Kemudian...


Arine membaca surat yang diberikan petugas dari kepolisian yang duduk di depannya. Seulas senyuman keluar dari bibir gadis itu, ketika mengetahui isi yang tertulis di dalamnya. Sebuah panggilan kepolisian atas kasus penganiayaan dan pelecehan di muka umum, menjeratnya kali ini..


"Apakah anda tidak ada pertanyaan pada kami..." orang dari kepolisian itu bertanya pada Arine..


"Sepertinya tidak perlu pak... hanya aneh saja hal ini terjadi di negaraku. Ada orang yang menghinaku, merendahkan putraku, kemudian aku menyiramnya dengan Coke.. Ternyata bisa berubah menjadi akulah pihak yang menganiaya... " sambil tersenyum smirk, Arine memberikan tanggapan.


"Nanti keterangan bisa disampaikan di kepolisian Miss.. Kami hanya menjalankan tugas saja, untuk mengantarkan surat panggilan ini..." pihak kepolisian mencoba menghindar.


"Hemphh... anda sendiri yang bertanya pada saya, apakah ada pertanyaan. Eits... ketika saya bergumam, kalian malah menghindar dari tanggung jawab.. Okay pak, jangan khawatir.. saya akan selalu gentle dengan semua permasalahan yang menghadang saya. Masih jam sebelas siang bukan... okay.  Saya akan sampai di kepolisian dengan tepat waktu.. Tapi sekarang saya mau ke rumah sakit, ada urusan papa saya disana, permisi..."

__ADS_1


Arine segera berdiri dan menggandeng putranya untuk berjalan menuju ke pintu keluar. Dua petugas polisi itu saling berpandangan, dan salah satu dari mereka hanya mengedikkan dua pundak mereka ke atas..


***********


__ADS_2