
Suasana haru terjadi di dalam ruang VIP restaurant tempat Bramantya melamar Keiko. Gadis itu masih menangis haru, yang tidak pernah mengira jika undangan dari mama laki-laki yang tengah memeluknya itu, akan berakhir bahagia. Beberapa waiters yang siaga memberikan pelayanan pada mereka, tanpa sengaja ikut meneteskan air mata haru, dan berpikir jika hal itu terjadi pada diri mereka.
"Keiko.. hapus air matamu sayang... Aku tidak mengira, ternyata kamu langsung menerimaku begitu saja.." dengan nada serak karena tidak percaya, Bramantya bertanya pelan pada Keiko.
"Jangan bertanya lagi Bram.. Harusnya kamu sudah tahu, ataupun merasa bukan. Selama kita bergaul, bermitra menjadi rekan dalam satu project yang sama, bagaimana aku mencoba untuk mengalihkan perhatian kepadaku. Namun selama ini, hanya sakit dan pedih yang aku dapatkan, karena tatapanmu tidak pernah mengarah untukku. Aku berpikir, jika duniamu hanya dipenuhi oleh Arine, meskipun tahu jika Arine sudah memiliki seorang putra.." dengan suara pelan, Keiko memberikan tanggapan.
Mendengar perkataan gadis itu, Bramantya tersentak. Laki-laki itu sama sekali tidak mengira, jika perlakuannya pada Arine dan Brian di Sapporo, ternyata menyita perhatian banyak orang. Memang selama ini, hati dan dunianya hanya ditujukan untuk Arine, tetapi mengetahui jika gadis itu ternyata sudah diincar, dan juga memiliki putra dengan adik kandungnya sendiri, mau tidak mau dirinya harus mengalah.
"Lupakan semuanya Keiko... saat ini aku hanyalah milikmu sayang..." dengan senyum lembut, Bramantya meminta gadis itu untuk melupakan kejadian itu.
Keiko ikut tersenyum, dan menatap mata laki-laki itu, kemudian menganggukkan kepala perlahan. Bramantya merasa gemas melihat reaksi Keiko, dan laki-laki itu merengkuh bahu Keiko kemudian memeluknya erat. Beberapa saat mereka berpelukan, tiba-tiba tanpa permisi laki-laki itu melepaskan pelukan, kemudian memberikan ciuman lembut pada bibir Keiko.
"Mmmmppph... pppftt... Bra.. mm.." Keiko tidak bisa banyak berkutik, karena dengan cepat ketika gadis itu kaget, dan ingin mencoba untuk konfirmasi, dengan cepat lidah Bramantya sudah menyeruak masuk ke dalam mulut Keiko.
Sesaat gadis itu seperti kehilangan kesadaran, bibirnya hanya diam merasakan lidah laki-laki itu mengabsen mulutnya. Tanpa terasa, setelah beberapa saat, dengan cepat Keiko bisa menyesuaikan diri, serta mengimbangi gerakan Bramantya di bibirnya...
"Kamu gadis yang cerdas sayang..., dengan cepat bisa mengimbangiku.." karena melihat Keiko merasa sesak, karena hampir kehabisan nafas, perlahan Bramantya melepaskannya. Laki-laki itu mengakhiri ciuman di bibir Keiko, dengan memberikan kecupan di kening gadis itu.
"Bramm... apakah aku terkesan murahan.. Dengan mudah, hanya dengan kata kamu melamarku, aku menjadi seperti ini.." setelah menyadari apa yang barusan mereka lakukan, Keiko bertanya pada Bramantya. Tampak gadis itu seperti merasa malu, dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
__ADS_1
"Jangan terlalu over thinking sayang... jika kamu menyetujuinya, dalam waktu yang tidak lama, kamu sudah akan menjadi milikku selamanya. Sesampainya di mansion, aku akan menyampaikan pada mama, jika aku sudah melamarmu. Dan kamu menyetujuinya..." Bramantya sambil tersenyum menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Gadis itu seperti tidak percaya mendengar kata-kata Bramantya barusan. Tapi laki-laki itu meyakinkannya dengan menggenggam tangannya..
"Trust me sayang... kita nikmati dulu makanannya. Kemudian kita pulang, untuk menyampaikan rencanaku pada mama dan papa. Di negara ini juga, kita akan melakukan pernikahan Keiko... menurutlah denganku kali ini.." Bramantya mengucap permintaan pada keiko.
Kembali air mata menggenang di pelupuk mata Keiko, masih merasa tidak percaya, dalam waktu singkat hal besar akan berubah dalam hidupnya. Dengan penuh kelembutan, Bramantya kembali mengusap air mata haru itu, dan mengajak gadis itu untuk segera menikmati makanan yang sudah tersaji di depan mereka.
***********
Mansion...
"Apakah kamu sudah yakin dengan rencanamu Bram... tidak ingin terus berpetualang, sampai lupa untuk melanjutkan keturunan.." bukannya langsung mengiyakan, Tuan William malah tampak menguji niat baik dari putra pertamanya.
Mendengar pertanyaan itu, Nyonya Clara melirik sewot ke arah suaminya, karena merasa tidak menyukai pertanyaan itu.
"Papa bertanya pada Bram.. ma, janganlah melihatku seperti harimau akan menerkam mangsanya.." rupanya tuan William tahu reaksi istrinya, karena langsung menetralisir suasana hati perempuan itu.
"Bram yakin dan siap pa... Jika papa dan mama tidak keberatan, hari ini juga Bram dan Keiko siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Bukankah begitu Keiko..?" tidak mau memancing keributan papa dan mamanya, Bramantya segera memberikan tanggapan.
__ADS_1
Keiko yang disebut namanya, hanya mengangguk malu. Gadis itu menundukkan wajah ke bawah, kurang percaya diri untuk menatap semua yang duduk dalam ruangan itu.
"Hempphh... seperti anak kecil Bram... Contohlah aku dan Arine istriku..., tanpa ba bi bu.., kembali ke rumah sudah mendapatkan surat pengesahan pernikahan!" Elmar ikut berbicara, mengolok olok kakak kandungnya.
"Hush.. jaga bicaramu Elmar. Kamu tidak bisa membandingkan kelakuan jelekmu dalam mendapatkan Arine dengan kakakmu Bramantya. Kakakmu masih mengedepankan etika, dan tata krama, sedangkan kamu hanya menuruti naf**sumu sendiri.." mendengar putra keduanya membully putra pertamanya, Nyonya Clara ikut berbicara,
"Ha.. ha.. ha.., masih dibela mama lahi, betul betul seperti anak kecil.." Elmar malah tertawa terbahak, mendengar pembelaan mamanya untuk Bramantya.
Arine melepaskan tangan Keiko, dan perempuan muda itu bergeser ke arah suaminya. Tanpa bicara, gadis itu memberi cubitan besar pada suaminya, untuk tidak banyak berbicara menggoda Bramantya.
"Waduh... istriku ikut-ikutan.. Jika sudah ada peringatan dari istri tercinta, mommy Brian.. aku akan diam, tidak akan mengolokmu lagi Bram..." semua yang berada dalam ruangan itu gantian tertawa, melihat bagaimana Elmar tunduk pada Arine.
Keiko ikut tersenyum, dan tidak mengira jika adik Bramantya begitu bucin pada Arine. Tiba-tiba saja Keiko teringat betapa dulu, dirinya melihat Bramantya juga seperti bucin pada gadis itu. Tetapi, dengan cepat Keiko membuang pikiran buruknya itu.
"Baiklah... kamu tidak bisa berubah pikiran Bram.., Keiko.. Dua hari lagi, pernikahanmu dan Keiko akan diselenggarakan, dan acara peresmian pernikahan Elmar serta Arine akan aku umumkan juga. Brian akan menjadi pengiring pengantin, dan pernikahan ini akan menjadi pernikahan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia.." tuan William mengakhiri diskusi malam ini.
Tidak ada yang berani membantah, begitu laki-laki paruh baya itu sudah berbicara. Semua terdiam, dan menganggukkan kepala tanda setuju.
*************
__ADS_1