One Night Incident

One Night Incident
Bab 23. Pendekatan


__ADS_3

Kesibukan Arine semakin hari semakin bertambah, namun gadis itu menikmati perannya sebagai seorang mama. Brian tumbuh dari bayi menjadi anak yang cerdas, dan tidak pernah kekurangan kasih sayang dari mama dan juga dua papanya. Bahkan ketika Arine sedang disibukkan dengan aktivitasnya sebagai data analyst, tidak jarang Bramantya dan Raffi membawanya pergi. Karena yakin dengan kedua laki-laki itu, dengan senang hati gadis itu mengijinkannya.


"Siang Miss... bagaimana dengan penawaran dari boss kita, apakah anda sudah bisa mempertimbangkannya. Tahun tahun lalu, anda beralasan karena sedang hamil tua, kemudian bayi yang belum bisa dibawa kemana mana. Saya yakin, untuk saat ini, bayi anda sudah bisa dibawa atau ditinggal bukan.." asisten pribadiĀ  perusahaan yang menyewa jasanya, kembali meminta kesediaan gadis itu.


"Bukankah saya selalu beralasan bukan karena usia anak saya Tuan..., tapi saya yang belum mau kembali ke Jakarta. Ada masalah pribadi yang tidak bisa untuk saya ceritakan Tuan, dan tidak akan bisa menjadi konsumsi publik. Jadi.. jika memang perusahaan ingin bertemu dengan saya secara offline, saya menawarkan diri untuk bertemu di Tokyo, jika Sapporo masih terlalu jauh.." kembali Arine berkelit.


"Momm... mommy... help Brian mom..." tiba tiba putra semata wayangnya ,memanggil dirinya.


Arine meninggalkan chat yang masih menyala, kemudian menghampiri putranya yang sejak tadi bermain sendiri di dalam kamar. Terlihat Brian sedang berusaha memasang tali pada mainan mobil mobilan. Dengan cepat Arine menghampiri anak kecil itu..


"Apakah Brian kesulitan untuk memasang tali sayang... Mommy ijin akan membantumu ya nak.." dengan cekatan, Arine menarik benang kenur, kemudian mengikatkan di depan mobil mainan itu. Brian tampak fokus memperhatikan apa yang dilakukan mommy nya, dan setelah selesai..


"Brian akan mencobanya mommy... Sekarang, mommy kembali bekerja saja, biar bisa dapat uang banyak, dan membelikan Brian mainan.." dengan lucunya, Brian yang masih tertatih jalannya, berusaha menarik mainan itu..


Arine tersenyum melihat kelucuan putranya, kemudian perlahan perempuan itu kembali berjalan ke depan laptopnya. Perempuan itu tersenyum, karena melihat Abidzar masih berada dalam mode chatting, terlihat dari tulisan ping.., yang masih dilakukan kurang dari satu menit yang lalu.


"Sorry tuan Brian... putraku membutuhkan bantuanku... Sampai dimana tadi pembicaraan kita.." Arine kembali melakukan percakapan dengan asisten pribadi Boss dari Javanica Group.

__ADS_1


"Ya itu tadi tentang penawaranmu. Aku akan menyampaikan segera pada boss, semoga saja Boss mau datang ke negara Jepang untuk menemuimu. Dan aku dengar, jika keluarga Boss akan melakukan liburan tahun baru yang sudah tertunda bertahun tahun. Semoga nanti ada sesi anda bisa bertemu dengan boss kita.." Abidzar menunjukkan respon positif.


"Baik Tuan Abidzar.. saya akan segera menyelesaikan tugas yang baru saja tuan kirimkan. Mungkin, jika anak saya tidak rewel, tidak sampai semalam saya akan menyelesaikannya.." Arine membuat janji.


"Ingat Arine.. semakin cepat pekerjaanmu, semakin cepat pula cuan akan mengalir ke rekeningmu.." Abidzar mengajak bercanda.


"Ha.. ha.. ha.., anda tahu saja kebutuhanku akan uang banyak tuan.." dengan emoticon tertawa, Arine mengakhiri percakapan.


Tidak tahu mengapa, hanya dengan perusahaan Javanica Group, Arine bisa merasakan kedekatan emosional. Padahal banyak perusahaan yang juga menggunakan jasanya, namun hubungan komunikasi mereka tidak akrab seperti itu. Komunikasi dengan orang-orang dari Javanica selalu cair, dan sangat helpfull.


***********


Tanpa membuat janji sebelumnya, tiba-tiba Raffi yang datang dari Tokyo, langsung menuju ke rumah Arine di Sapporo. Biasanya laki-laki itu akan menuju ke hotel, baru kemudian pagi harinya akan main ke rumahnya. Tapi kali ini, hal lain dilakukan oleh Raffi. Sedangkan Bramantya sudah satu minggu pamit ke luar negeri, sehingga hanya Raffi dan Arine saja yang saat ini berbincang di teras..


"Arine.. mungkin kamu kaget dengan kedatanganku kali ini ke rumahmu.. Aku seperti mencuri start, ketika Bramantya tidak ada di rumah ini. Jika aku boleh tahu Rine.., sebenarnya bagaimana perasaanmu dengan laki-laki itu.." Arine kaget dengan pertanyaan yang diucap Raffi. Dengan tidak percaya, jika pertanyaan itu keluar dari bibir laki-laki itu, Arine melihat ke arahnya.


"Bukahkan berkali kali aku sudah pernah mengatakan kepadamu Raff... Antara aku dan Bram, pure kami itu sudah menjadi sahabat, dan bahkan Bram menganggapku sebagai adik perempuannya. Tidak salah bukan, jika aku menerimanya, karena aku merasa terlindungi ketika berada di tempat yang asing.." Arine berusaha menjelaskan.

__ADS_1


Raffi terdiam, laki-laki itu seperti ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi terlihat jika Raffi mempersiapkan dengan baik..


"Aku senang mendengarnya Rine.. Dan ke depan, aku ingin membuat suatu hubungan yang beda dengan kedekatan kita. Aku ingin mengubahnya Arine.. aku ingin mengulang kisah masa muda kita, dimana kita berdua bersama dalam ikatan pasangan kekasih.." gadis itu kembali terkejut dengan ucapan Raffi,.


Berbagai rasa mempengaruhi ketegaran gadis itu. Hal yang ditakutkannya selama ini, adalah ada laki-laki yang menyampaikan ketertarikan kepadanya, padahal dalam hati, gadis itu sudah memutuskan akan hidup sendiri, hanya berdua dengan Brian. Terlihat Arine mengambil nafas dalam..


"Raffi,,, jangan salah paham akan kedekatan kita saat ini Raff... Aku menganggapmu, sama dengan aku menganggap Bram.. Jika kamu akan memaksaku, maka bisa jadi hubungan kita akan menjadi hambar, karena terus terang aku tidak tertarik untuk menjalin kedekatan dengan laki-laki. Jujur Raf.. terkadang aku ingin menemukan Brian dengan papanya, meskipun itu mustahil. Bukan untukku, atau untuk harga diri dan martabatku. Tetapi semua akan aku lakukan, hanya untuk memberikan status lengkap pada Brian.." dengan hati-hati, Arine berusaha tidak membuat laki-laki di dekatnya itu terluka.


"Tapi.. sampai kapankah itu Arine.. kamu akan bisa membuka hatimu. Apakah kamu akan membiarkan hidupmu tanpa pendamping sampai akhir hayatmu.. Ayolah Rine.. buka hatimu. Masih ada aku, yang akan selalu menjadikanmu ratu di dalam hatiku, seperti janji yang pernah aku ucap padamu tujuh tahun yang lalu.." Raffi masih terus berusaha.


Tiba-tiba gadis itu berdiri, dan menatap Raffi dengan pandangan tajam. Laki-laki itu terkejut, dan mengikuti gadis itu dan berdiri di depannya..


"Saat ini sudah malam Raff... kembalilah ke hotel.. Karena kamu sudah mengutarakan maksudmu, berarti kamu punya niat mendekatiku karena maksudmu itu. Untuk itu, aku tidak bisa lagi memperlakukanmu sedekat dulu lagi.. Pulanglah, sudah malam.." kata kata Arine terdengar tegas, tetapi Raffi tidak merasa sakit hati. Jikapun gadis itu akan marah atau menamparnya malam ini, Raffi akan menerimanya dengan terbuka.


"Baiklah Arine... aku anggap jawaban malam ini bukan keputusanmu. Aku masih akan menunggumu untuk membuka hati untukku.. Permisi, selamat malam.." dengan tersendat, akhirnya Raffi menghargai kata kata yang diucap oleh gadis itu.


Arine hanya diam tidak menjawab salam yang disampaikan Raffi. Gadis itu hanya menatap punggung Raffi yang berjalan meninggalkannya, dan menuju ke mobil yang diparkir di halaman tempat tinggalnya.

__ADS_1


***********


__ADS_2