Our Journey

Our Journey
Titik Terang


__ADS_3

Wanita berhijab itu pun berkata dengan lantang dan marahnya.


"HIDUP ITU SEKALI BUKAN UNTUK DISIAKAN!!!, MASALAH ITU DATANG SELALU BERSAMA SOLUSI, BUKAN UNTUK DI PUTUS ASAI!!!."


Casy yang mendengarnya, hanya mampu menunduk dan menangis.


"hiks hiks hiks."


Cukup lama Casy dalam posisi itu, hingga membuat wanita berhijab itu mendekat dan memeluk tubuhnya.


"Tenangin diri kamu dulu." Ucapnya dengan mengelus punggung Casy.


Casy yang merasa lebih tenang, melepaskan pelukannya. "Makasih kak, kalau boleh tau anda siapa ya?."


Wanita berhijab itu tersenyum, "Saya Naya, nama kamu siapa?."


"Saya Cassandra kak. Ehm apa kakak yang mau saya tabrak tadi?." Tanya Casy nampak merasa bersalah.


"Iya tapi untung tidak terjadi apa-apa. Saya memaklumi kondisi kamu."


Masih dengan tersenyum, Naya berucap.


"Sekali lagi maaf kak." Dengan menunduk, Casy nampak masih merasa bersalah. Apalagi terciduk hendak mengakhiri hidupnya, Casy sangat malu pada wanita berhijab di depannya ini.


"Kenapa kakak bisa ada di sini?." Tanyanya heran.


"Saya ngikutin kamu tadi. Maaf kalau saya lancang, tapi saya sangat khawatir sama kamu. Saya pikir kamu mabuk sehingga hampir nabrak saya. Nyatanya lebih parah dari itu." Jelasnya agak menyindir tindakan Casy barusan untuk mengakhiri hidup.


Casy hanya mengangguk, menanggapi Naya.


"sebenarnya apa yang membuat kamu berbuat senekat itu?." Tanyanya penasaran.


"Hidup ini terlalu kejam buat saya kak. Saya gak layak hidup di bumi ini." Ucapnya sendu dan miris mengingat segala permasalahannya.


"Apa kamu mau cerita sama saya?. In Syaa Allah kalau saya bisa, saya akan bantu." Tawar Naya dengan menatap Casy dan tersenyum.


Casy nampak ragu. Dia pun mengangkat wajahnya yang menunduk. Menatap lekat mata wanita yang sedang menatapnya.


Seolah terhipnotis dengan tatapan Naya, Casy pun mengangguk. "Iya kak."


Tampaknya Casy masih shock dengan kejadian barusan, hingga masih sulit mengeluarkan kata-kata yang panjang.


"Baiklah, ayo ikut saya ke mobil."


Mereka berjalan ke mobil. Naya memberikan minum untuk Casy, dia tau Casy pasti masih shock.


💐💐💐


Sampailah mereka di rumah Naya.


"Duduk dulu Cas." Titahnya

__ADS_1


"Iya kak."


Naya meletakkan belanjaannya di dalam lemari dan kulkas. Karena memang tadi Naya keluar untuk membeli kebutuhan itu. Eh saat perjalanan pulang malah menemukan Casy yang hampir menabraknya.


Dengan menuntun anaknya yang baru berusia 3 tahun itu, Naya menghampiri Casy di ruang tamu. Sebelumnya Naya mengambil anaknya dari babysitter yang mengasuh anaknya itu.


"Mbok, tolong buatin minum ya 2, ada tamu." Pintanya pada mbok Sumi, sebelum melangkah ke ruang tamu.


mbok Sumi pun menyediakan minuman dan cemilan, lalu berlalu kembali ke dapur.


"Di minum dulu Cas, pasti kamu haus. Gak usah canggung juga, anggap aja kakak adalah kakak kamu."


Casy tersenyum, rasanya ada setitik kebahagiaan dekat dengan seorang Kak Naya. Rasanya sejuk melihat wajah teduhnya. "Iya, terimakasih kak."


"Iya. Kamu mau menginap di sini?. Kebetulan suami dan adik ipar kakak berada di luar negeri. Jadi kakak sendirian, cuma sama mbok Sumi dan Vitria yang membantu mengasuh anak kakak." Tawarnya pada Casy.


"Apa gak akan ngerepotin kak?."


Tanya Casy takut-takut.


"Enggak dong. Justru kakak seneng kalau kamu bisa temenin kakak. Mereka sibuk dengan kerjaan mereka." Ujarnya sambil melirik mbok Sumi yang sedang merapikan rumah.


"Iya kak."


"Oh iya, ini anak kakak namanya siapa kak?". Tanyanya dengan gemas mencubit pipi gembul anak Naya.


"Hallo kakak, nama aku Kiren. Salam kenal kakak." Ucap Kiren dengan suara khas anak kecilnya sambil melambaikan tangannya duduk di pangkuan mamanya.


Casy pun tertawa gemas dengan Kiren yang lucu dengan keramahannya. Naya pun juga ikut tertawa.


Kamar yang di sediakan Naya untuk dirinya. Casy menolak untuk menginap, takut merepotkan Naya. Namun Naya sendiri memaksa dan merasa tak direpotkan sama sekali. Dan akhirnya Casy pun menginap.


tok tok tok


Terdengar pintu kamar Casy di ketuk.


Nampaklah mbok Sumi di depan pintu dengan tersenyum.


"Ada apa ya mbok?." Tanyanya.


"Di suruh makan malam sama Nyonya non."


"oh iya mbok. Saya nanti turun."


Jawabnya dengan tersenyum.


Dilihatnya meja makan yang penuh dengan makanan lezat, membuat perut Casy meronta untuk diisi.


Naya yang melihat Casy turun dari tangga pun tersenyum.


"makan dulu, nanti tidurnya." Seolah tau kalau Casy hobi tidur.

__ADS_1


"iya kak, Makasih kak."


Ucapnya dengan tersenyum.


"iya sama-sama, makan yang banyak jangan sungkan-sungkan." Ucapnya pada Casy.


Mengelap bibirnya dengan tisu, Casy telah menyelesaikan makan malamnya, begitu pun juga dengan Naya yang selesai dari tadi.


"Cas, boleh kakak mau ngomong sama kamu?." Tanyanya meminta persetujuan.


"Boleh kak, aku seneng kalau ngobrol sama kakak."


"Emm Kiren ke mana kak, aku gak liat dari tadi?."


"Kiren udah tidur, lagi seneng-seneng nya tidur sekarang. Mungkin karena tau papanya gak di rumah, jadi gak mau ngerepotin mama nya." Candanya.


Casy tertawa kecil menanggapi.


Naya pun memutuskan mengobrol dengan Casy di ruang kerja suaminya.


"Apa kamu mau cerita semua tentang masalah kamu?." Tanya Naya dengan tatapan teduh.


Casy seolah merasa nyaman dalam suasana bersama Naya, entah hatinya begitu yakin untuk menceritakan semua masalahnya kepada Naya. Padahal selama ini ia tak pernah mau siapa pun mengetahui masalahnya.


Brandon pun dulu hanya tau sebagian besar saja, tak sampai keseluruhan.


Melihat Casy yang diam terpaku, Naya berfikir Casy ragu untuk menceritakannya.


"Kakak ini Psikolog, kakak tau kamu sedang bermasalah dengan keluarga kamu. Kakak hanya ingin membantu kamu, jadi kamu gak usah ragu untuk cerita ke kakak." Terangnya dengan tenang.


Rentetan permasalah dalam hidup Casy terngiang-ngiang dalam benaknya. Matanya berkaca-kaca.


Naya yang menangkap raut sedih dari pancaran wajah Casy, berinisiatif mendekat dan memeluknya. Casy menangis pilu dipelukan Naya. Naya menenangkannya.


Setelah drama tangis-tangisan.


Casy mulai menceritakan segala permasalahan dalam keluarganya keseluruhan. Dengan berderai air mata dia menceritakan kisah pilunya.


"Apa sudah kisah dan permasalahanya?."


tanya Naya memastikan.


Casy mengangguk ragu. Masih menampakkan beban yang masih dipendamnya.


"Kamu lupa kakak psikolog? lebih dari itu, kakak sangat peka tentang perasaan. Jadi kakak tau masih ada yang belum kamu ceritakan. Kamu boleh gak cerita, tapi kakak gak akan bisa bantu kamu sampai tuntas jadinya. Gimana ehm?." Tanya Naya mencoba menggali informasi lebih dalam.


Naya adalah lulusan S2 Psikologi, sebelum menikah dia bekerja sebagai konselor. Namun setelah menikah, suaminya melarangnya untuk bekerja.


Suaminya hanya ingin Naya mengurus rumah tangga, mengurus dirinya dan anak mereka.


"Iya kak masih ada."

__ADS_1


Akhirnya Casy menceritakan tentang kisahnya bersama Brandon. Kisah yang lebih pedih dari kisah-kisah yang lainnya.


NEXT.......


__ADS_2