Our Journey

Our Journey
Perseteruan yang Terjadi


__ADS_3

Menyaksikan seseorang yang kini telah menguasai hatinya sedang tidur berpelukan dengan seorang pria. Membuat emosi Arzan meluap tak terkendali.


Jauh dalam lubuk hatinya ia merasa kecewa dengan keadaan ini. Namun ia tidak ingin berpikiran buruk sebelum mendengar penjelasan dari Cya. Bisa saja ini adalah jebakan dari Vino yang sangat menginginkan untuk berpisah.


Setelah sampai di dekat kedua orang yang tengah terlelap itu, Arzan langsung menarik Vino dengan kasar dan menghempaskan nya ke lantai. Mom Cas hanya mampu terdiam menyaksikan, karena dirinya masih benar-benar syok dengan apa yang baru ia lihat.


Vino yang merasa tubuhnya terhempas ke lantai, terpaksa harus membuka kedua matanya yang masih tertutup. Ia terkejut melihat keberadaan Arzan dan ibunya.


Sedangkan Cya yang mendengar keributan disekitarnya, merasa terusik dari tidurnya. Ia mengerjakan mata dan terkejut menyaksikan keberadaan Arzan dan Mom Cas. Terlebih saat melihat Vino yang telah berada di lantai diiringi tatapan tajam dari Arzan.


"Az.." Ujar Cya ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun perkataannya terpotong kala Arzan menarik Vino keluar.


Tanpa banyak basa-basi Arzan menarik kerah Vino dan membawanya keluar dari rumah untuk diberi pelajaran. Meninggalkan Mom Cas dan Cya yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


Mom Cas mendekati Cya yang masih saja menatap ke arah pintu. Ia duduk di samping Cya mengelus pelan lengan Cya untuk menenangkannya.


"Mom apa yang sebenarnya terjadi?" Cya mencoba mencari tahu tentang apa yang terjadi kepada Mom Cas.


Mom Cas menghela nafasnya pelan untuk mencari kebenaran apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Sebelumnya Mommy mau nanya, kenapa Vino bisa tidur di kamar kamu?" ujar Mom Cas dengan rasa penasaran.


Meski ia kecewa dengan Cya, namun sama seperti Arzan Mom Cas juga tidak ingin berburuk sangka sebelum mendengar penjelasan dari Cya.


Cya yang mendengar pertanyaan Mom Cas merasa terkejut. Ia benar-benar tidak mengetahui jika Vino tidur di kamarnya. Ia mencoba merangkai segala kemungkinan yang membuat Arzan dan Mom Cas terlihat kecewa.


Setelah dipikir-pikir, jika Vino tidur di kamarnya dan dia juga tidur di kamar yang sama. Berarti pandangan yang disaksikan oleh Arzan dan Mom Cas adalah mereka yang tidur berdua di dalam kamar.


"Mom Cya benar-benar gak tau kenapa Vino bisa tidur di sini sama aku. Padahal seingat Cya kita berdua lagi main catur, terus aku ketiduran di ruang tamu." Jelas Cya berusaha membuat Mom Cas percaya.


Mendengar penjelasan Cya, Mom Cas mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya Vino yang membawa Cya ke kamar dan dia ikut terlelap di samping Cya.


Tiba-tiba Cya merasa khawatir kepada Vino. Jika benar yang mereka saksikan seperti dalam pikirannya, berarti keselamatan Vino sedang terancam saat ini. Arzan bisa saja melukai Vino.


Ia berlari keluar rumah diikuti oleh Mom Cas. Dan benar saja sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Arzan sedang melayangkan pukulannya kepada Vino. Melihat Vino yang tidak melawan sama sekali membuatnya merasa tidak tega.


Sedangkan di luar rumah, Arzan memberikan beberapa kali pukulan kepada Vino. Vino hanya pasrah saat Arzan melakukannya, semata-mata untuk mencari simpati Cya.


Cya mendekati mereka dan menghentikan tindakan Arzan. Ia berdiri di depan Vino untuk melindungi sahabatnya itu. Terang saja melihat Cya melindungi sahabatnya, Arzan tidak jadi memberikan pukulannya.

__ADS_1


"Cya minggir, gue mau kasih pelajaran buat dia." Ujar Arzan menahan emosi.


"Az please jangan kayak anak kecil. Kita selesaikan ini baik-baik. Vino gak salah apa-apa Az." Ujar Cya mencoba menghentikan Arzan.


Mendengar perkataan Cya yang seolah membela Vino yang jelas-jelas salah di matanya, Arzan mengalihkan tatapan tajamnya dari Vino kepada Cya. Ia tersenyum sinis melihat bagaimana Cya membela seorang Vino.


"Jadi lo lebih belain dia? Lagian kenapa Cy lo mau-maunya tidur bareng dia? Sambil pelukan lagi. Hebat ya kalian, yang katanya sahabat tapi sungguh mesra." Arzan mulai terbawa emosi kala Cya terus saja membela sahabatnya yang breng*** itu.


Mendengar perkataan Arzan, Cya merasa tersinggung.


"Iya Az gue emang terlihat gampangan kan?" ujar Cya tersenyum miris.


"Gue emang gak pantes buat lo Az, mending lo sama Fanya. Dia soleha kan? , baik, perempuan terhormat lagi. Gak kayak gue Az yang gampangan, kotor, gue bukan perempuan baik-baik yang pantes buat lo." Jelas Cya dengan nada tinggi.


"Kenapa lo bawa-bawa Fanya? gue udah bilang gue gak ada rasa apa-apa sam dia Cya. Jadi jangan ngalihin pembicaraan kita dengan melibatkan orang lain." Tegas Arzan kepada Cya.


Mendengar perkataan Arzan, Cya justru tertawa namun diiringi air mata yang tanpa ia sadari menetes membasahi pipinya. Segera ia hapus air mata itu dengan kasar menggunakan tangannya.


"Lo gak usah munafik Az, gue liat sendiri tadi pagi. Lo batalin janji sama gue buat ketemu sama Fanya kan?. Gue tau semuanya Az. Jadi jangan lo bilang kalau lo gak ada rasa sama Fanya, itu bullshits." Terang Cya dengan menggebu.

__ADS_1


NEXT .......


__ADS_2