Our Journey

Our Journey
Doa yang diijabah


__ADS_3

DOA YANG DIIJABAH


Casy nampak terkejut. Jantungnya berdetak lebih cepat mendengar ucapan Brandon. Meski pernah dilamar oleh Brandon sebelumnya, tapi ini rasanya berbeda. Karena bercampur dengan rasa gelisah dan khawatir serta takut.


"Kak, aku....." Casy nampak berat melanjutkan kata-katanya. Ia takut melukai Brandon, tapi ini harus diluruskan. Tak boleh ia membiarkan Brandon berharap.


Brandon menunggu jawaban Casy dengan hati was-was. Ia begitu gugup dan jelas khawatir.


"Kak maaf, aku gak bisa menerima kakak." Ucap Casy merasa tak enak.


Deg


Brandon tampak berubah sedih dan sendu. "Kenapa Cas? kamu masih terluka atas kejadian yang kemarin?." Tanya Brandon ingin tahu.


Casy menggeleng pelan, menunjukkan bahwa memang ia sudah tidak terluka. Meski kecewa, tapi Casy sudah memaafkan Brandon.


"Aku dijodohkan dan akan menikah kak."


Jelas Casy menjawab pertanyaan Brandon.


Terkejut, Brandon merasa terpukul dan teramat kecewa. Gadisnya akan dimiliki oleh orang lain. Sebenarnya Brandon tak terima akan hal itu, tapi tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Kecuali hanya berdoa, pikir Brandon.


Setelah penolakan dari Casy, Brandon memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa kembali ke kantor. Namun saat diperjalanan, ia berhenti di salah satu masjid besar di Jakarta.


Ia pun melaksanakan shalat Sunnah. Ia mencurahkan segala kekecewaan atas apa yang telah terjadi hari ini. Tak lupa ia memohon ampun atas dosa-dosanya. Ia berdoa kepada Allah untuk menguatkan hatinya.


Ia serahkan semua urusannya kepada Allah SWT. Dia yakin jodoh ada di tangan Allah. Jadi apapun yang terjadi, kalau Casy memang jodohnya pasti akan kembali bersamanya. Brandon sangat yakin akan hal itu.


Dia juga telah meneguhkan hatinya kemarin untuk tidak berharap kepada manusia. Dia hanya akan berharap kepada Allah SWT.


Kecewa? pasti. Itu hal wajar bagi manusia, untuk sakit hati dan kecewa ketika keinginannya tak sesuai kenyataan. Namun yang membedakan mukmin dengan yang bukan, adalah ketika kecewa.


Mukmin kala kecewa lalu diingatkan nama Allah, ia akan tersadar dan hatinya tenang. Lain dengan yang bukan. Ketika mereka kecewa, mereka akan terpuruk dan menyalahkan takdir.


Dan sepertinya Brandon adalah ciri orang mukmin. Ia tenang dan lebih menambahkan keyakinannya kepada Allah saat ini.


Tak apa, jika Casy bukan untuknya. Pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Brandon benar-benar menyerahkan segalanya kepada Allah.


Namun, Brandon juga ingat bahwa Rahmat Allah begitu luas. Hal mudah untuk membuat mereka bersatu. Maka Brandon pun mencoba memohon kepada Allah.


Berharap dengan luasnya Rahmat Allah, Allah berkehendak menjodohkan dirinya dan Casy.


💐💐💐


Seminggu berlalu...


"Brand, nanti malam kamu gak lupa kak. Jangan telat pulang kerjanya kamu." Pinta Carrel.


"Iya kak ingat kok. Tenang aja, nanti aku cepat pulang kak. Setelah bersih-bersih diri nanti aku langsung ke sini." Ucap Brandon dengan santai.

__ADS_1


Brandon sudah menceritakan penolakan Casy pada Carrel. Jadilah Carrel merasa lega, berarti ia tak akan mengecewakan pihak yang akan dijodohkan dengan Brandon.


"Iya, kamu udah nerima loh kemarin. Jangan sampai berubah pikiran." Carrel merasa awas.


"Enggak kak, gak akan."


Brandon memang sudah benar-benar pasrah dan meyakinkan semaunya kepada Allah. Biar Allah yang mengatur semuanya.


"Oh iya, setelah pertemuan nanti. 2 bulannya kalian langsung menikah. Cukupkan 2 bulan untuk saling mengenal?." Tanya Carrel.


"Lagian setelah nikah juga masih bisa kenalan sambil pacaran." tambah Carrel terkekeh.


Brandon jadi salah tingkah dibuatnya.


"Apaan sih kak?." Ucapnya malu-malu.


Waktupun berlalu, Carrel, Brandon, Kanaya tak lupa dengan anak imutnya sudah bersiap akan berangkat ke rumah calon Brandon.


Mereka satu mobil, menggunakan mobil Brandon. Tak lupa sebelum berangkat tadi, mereka shalat magrib berjamaah. Brandon juga sempat memanjatkan doa untuk kelancaran proses pertemuan ini. Dan semoga hatinya menerima calonnya dengan tangan terbuka.


💐💐💐


Sedangkan di tempat yang berbeda, Kedua orangtua Casy sudah bersiap untuk menyambut calon menantu mereka. Tinggal Casy yang belum keluar dari kamar.


Setelah berjamaah bertiga bersama mama papa tadi, Casy belum melepas mukenanya. Dia memilih melanjutkan doa-doanya dan mungkin shalat sunah juga.


Jujur saja, Casy begitu gugup bertemu calon suaminya ini. Dia merasa gelisah, dia berdoa kepada Allah supaya hatinya dapat menerima calonnya nanti dengan lapang dada.


Casy juga mulai berusaha melupakan Brandon, begitu juga sebaliknya. Mereka merasa memiliki calon masing-masing, jadi tak layak masih saling memikirkan.


"Cas, kamu lama banget. Ayo keluar sebelum mereka datang." Panggil Mama dari luar pintu.


Casy yang memang sudah selesai, segera keluar bersama mama menunggu Di ruang tamu.


Mama, Papa, dan Casy duduk di sofa bersama. Mama di samping Casy, dan Papa di kursi tunggal.


Menit berlalu.....


Mereka pun datang, memasuki ruang tamu dan di sambut oleh Mama, Papa dan Casy.


"Selamat datang Tuan Carrel dan Nyonya Kanaya." Sambut Papa.


Carrel dan Naya pun tersenyum, mereka di persilakan duduk. Mama dan Papa serta Casy juga duduk kembali.


Brandon dan Casy masih sama-sama belum menyadari keberadaan masing-masing. Casy nampak menunduk merasa sangat malu serta gugup. Sampai nama Carrel disebut oleh Papa, ia tak menyadari.


Sedangkan Brandon juga menunduk, tak berbeda dengan Casy. Brandon juga gugup, malah sangat gugup. Entahlah karena apa. Karena bertemu calon istri, akan menikah, atau karena hal lain.


Saking gugupnya, dia tak menyadari bahwa yang ia datangi adalah rumah gadisnya.

__ADS_1


Mereka para orang tua pun mencoba berbincang-bincang. Saat Naya melihat Brandon dan Casy yang sama-sama menunduk, dia berinisiatif meminta mereka mengobrol berdua.


"Bran, ajak calon kamu ngobrol dong." Bisik Naya.


Brandon yang menunduk, menoleh pada Naya.


"Tapi kak, gak enak sama orangtuanya."


Elaknya. Padahal mah dia gugup setengah mati.


Naya pun memanggil Casy supaya mereka bisa mengobrol berdua di luar.


"Casy!." Panggil Naya.


Brandon yang mendengar nama yang sangat familiar di telinganya bahkan hatinya, langsung tersentak kaget. Mengapa namanya sama, apa mungkin?....


Brandon langsung mengangkat wajahnya dan terlihat jelas wajah calon istrinya itu berada tepat lurus di depannya.


Deg


MasyaAllah, gumamnya. Benarkah yang ada di depannya ini gadis yang kemarin ia perjuangkan tapi tak sampai. Sekarang?...


Sedangkan Casy yang merasa di panggil juga mengangkat wajahnya, ia pun kaget. Melihat Brandon tepat di depannya sedang menatapnya.


Deg


Allahu Akbar MasyaAllah, Benarkah semua ini?. Betapa besarnya kuasa Allah. Memisahkan mereka, dan kini mempertemukan dengan cara yang tanpa mereka duga2.


Mereka masih saling menatap dan menikmati wajah masing-masing. Naya pun tersenyum menyaksikan mereka. Naya mengira mereka saling terpesona.


Namun Casy nampak berkaca-kaca, melihat tatapan Brandon yang juga nampak berkaca-kaca.


Tak ingin tatapan mereka menimbulkan syahwat, Naya pun mencoba memutusnya. "Casy!." Panggilnya Naya lagi.


Casy beralih melihat Kak Naya, Sedetik kemudian air mata yang tak mampu tertahan pun mengalir membasahi pipinya. Dia terisak, Mama yang berada di dekatnya pun langsung menoleh.


"Kenapa sayang?." Tanya Mama, tangannya membawa Casy ke dalam pelukannya. Naya pun juga mendekat pada Casy.


Mereka tampak Khawatir dengan Casy.


Papa dan Carrel juga ikut khawatir dan bertanya-tanya.


Carrel menoleh melihat respon Brandon, namun ia sungguh terkejut melihat Brandon dengan mata yang tampak berair. Brandon pun menunduk dan tersenyum, meski airmata itu masih menggenang di pelupuk matanya.


Di dalam hatinya, Brandon tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah. Tak henti-hentinya ia memuji Allah SWT.


Carrel merangkul dan menepuk-nepuk pundak Brandon.


"Kenapa sebenarnya?." Tanya Carrel.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2