Our Journey

Our Journey
Cinta Sejati


__ADS_3

Tatapan Brandon yang semakin dalam seolah mampu menghipnotis Casy. Ia hanya mampu terdiam membeku dengan posisi yang masih sama. Brandon semakin mendekatkan wajahnya pada Casy. Bahkan, kini tatapan matanya beralih pada bibir Casy.


Hanya tinggal beberapa senti saja, bibir mereka akan segera menyatu. Casy yang menyadari arah tindakan Brandon menjadi gugup dan tegang. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada punggung Brandon.


Kala bibir mereka akan segera menyatu, Casy spontan menenggelamkan kepalanya di dada Brandon. Ia berusaha menghindari adegan itu.


Menyaksikan Casy yang sengaja menghindar, Brandon hanya bisa diam menatap Casy yang bersembunyi dalam pelukannya. Brandon mencoba melepaskan pelukan mereka, namun Casy semakin mengeratkannya.


"Kak, jangan sekarang ya. Aku masih belum siap" ungkapnya dalam pelukan Brandon. Casy begitu malu, dengan apa yang baru saja akan mereka lakukan.


Mendengar perkataan Casy, Brandon tahu Casy merasa malu. Ia tersenyum dan melakukan hal yang sama, semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Casy yang tertutup jilbab.


"Aku gak akan maksa kamu kalau belum siap. Pasti kamu juga lelah karena acara tadi" ucapnya dengan lembut.


"Kakak gak marah?" Casy bertanya, ia pikir Brandon akan marah karena menolaknya rupanya tidak. Syukurlah, ia merasa lega. Casy benar-benar merasa tidak siap sama sekali.


"Enggak Sayang." Ujarnya meyakinkan.


Pelukan mereka yang terasa nyaman, membuat salah satu dari mereka tidak ingin melepasnya. Namun Brandon yang menyadari Casy sangat kelelahan, segera mengajak untuk beristirahat.


"Kita tidur aja ya sekarang." Ajaknya, dengan mengelus lembut kepala Casy.


Casy mengangguk, mereka segera naik ke ranjang bersama. Tak lupa menutupi tubuh mereka dengan selimut. Casy mencoba memejamkan matanya, Brandon menoleh kepada Casy. Mendekatkan wajahnya, ia mencium kening Casy lumayan lama.


Casy yang sudah memejamkan mata, reflek membuka mata kala merasakan sesuatu menyentuh keningnya. Matanya membulat, ia dapat melihat wajah Brandon yang begitu dekat di depan matanya.


Ia begitu malu diperlakukan seperti ini oleh suaminya. Ia merona, merasa belum terbiasa. Apalagi sudah bertahun-tahun ia tak pernah dekat dengan satupun lawan jenis, apalagi sampai bersentuhan. Tentunya setelah perpisahannya dengan Brandon dulu.


"Kak?" tegurnya dengan pipi merona, setelah Brandon menjauhkan diri dari wajahnya.

__ADS_1


"Kamu harus terbiasa Sayang. kita itu suami istri, jadi hal seperti ini bukan hal tabu lagi." Terangnya pada Casy.


Casy pun tersadar, mungkin memang ia harus membiasakan diri dengan hal-hal seperti ini mulai sekarang. Apalagi suatu hari, mereka harus melakukan hal yang lebih dari ini.


Akhirnya Casy menjawab dengan anggukan, Brandon tersenyum melihatnya. "Sini!" pintanya supaya Casy mendekat kepadanya. Casy pun menurut, ia menggeser tubuhnya mendekati Brandon. Begitu pula sebaliknya, Brandon juga menggeser tubuhnya semakin mendekat kepada istrinya.


Setelah tubuh mereka yang dekat tanpa jarak, Brandon merengkuh Casy untuk masuk dalam pelukannya. "Termasuk ini, kita juga harus terbiasa."


Casy mengangguk dan tersenyum. Meski agak canggung, tapi ia mencoba untuk rileks. Nyatanya ia merasa nyaman dalam pelukan suaminya ini. Akhirnya mereka tidur dengan berpelukan.


πŸ’πŸ’πŸ’


Pukul 03:00, alarm jam terdengar berbunyi. Mata bernetra bulat yang juga memiliki bulu mata lentik itu, mengerjap merasa ada suara yang mengusik ketenangannya dalam alam mimpi.


Tangannya terulur untuk menghentikan suara yang mengusiknya. Ia berusaha melepas dekapan hangat nan nyaman dari suaminya. Bangkit dari posisi berbaringnya, ia terduduk di atas ranjang.


Menoleh pada suami yang ada di sampingnya, ia menggerakkan tangannya untuk membangunkan Brandon. Memukul pelan lengannya, Casy berusaha membawa Brandon meninggalkan dunia mimpinya.


Setelah mereka selesai berdoa, Brandon membalikkan badannya ke belakang pada Casy. Casy meraih tangannya untuk dikecup. Ketika ia hendak melepaskan tangannya, justru Brandon menahannya.


Ia meraih kedua tangan Casy dan membawa ke bibirnya. Ia kecup tangan itu dengan lembut. Casy terpaku dibuatnya, ia merasa terharu dengan perlakuan Brandon.


"Aku bahagia dan sangat bersyukur karena Allah memilih kamu yang menjadi pendamping hidup dan pasangan aku." Ucapnya tulus.


"Aku juga bahagia Kak, karena Kakak yang Allah pilih untuk menjadi imam aku." Mata Casy nampak berkaca-kaca.


"Aku berharap Allah selalu menjaga ikatan suci cinta kita. Kamu adalah cinta sejati aku di dunia dan In Syaa Allah sampai akhirat. Aku mencintai kamu. Karena Allah aku mencintai kamu Sayang." Ungkap Brandon dengan tersenyum.


"Aku juga Kak, aku mencinta Kakak karena Allah. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita lagi dalam keadaan telah sama-sama mengenal Allah. Dulu aku begitu buta dan tuli dengan kekuasaan Allah, tapi Allah begitu baik memberikan aku hidayah dan mengirim banyak pertolongan untuk membantu aku memperbaiki diri." Terangnya mulai menitikkan air mata.

__ADS_1


"Lalu sekarang, Allah mengembalikan Kakak untuk aku. Aku pikir Kakak gak akan pernah lagi hadir dalam hidup aku. Tapi setelah Allah memberikan banyak kebahagiaan dalam hidup aku, Allah masih aja memberikan kebahagiaan untuk aku dengan kembalinya Kakak. Bahkan Allah menjadikan Kakak suami aku." Tambah Casy dengan berderai air mata.


Ia sangat merasa terharu dengan segala karunia dan anugerah yang Allah hadirkan dalam hidupnya. Brandon membawa Casy dalam dekapannya, ia juga bersyukur dengan perubahan yang Allah berikan kepada Casy.


Mereka pun berpelukan cukup lama. Casy masih saja terisak dan Brandon terus mengelus punggungnya untuk menenangkan. Mereka bersyukur, mereka bersatu dengan cara yang halal. Dan kini mereka juga saling mencintai karena Allah, bukan n**su semata.


πŸ’Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, "Siapakah mereka itu?" mereka adalah orang-orang yang mencintai karena Allah Azzwajalla. (HR. Ahmad)πŸ’


πŸ’πŸ’πŸ’


Pagi-pagi sekitar jam 07:00, semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Papa, Mama, Carrel, Kanaya, Brandon, dan Casy. Mereka yang sudah terbiasa bangun pagi untuk melaksanakan kewajiban, membuat mereka selalu on time untuk sarapan pagi.


Bahkan tadi pagi, Mama, Kanaya, dan Casy membantu serta art untuk menyiapkan sarapan mereka. Tampak hidangkan yang tersaji begitu banyak dan sepertinya lezat.


Mama dan Kanaya melayani suami mereka masing-masing, untuk mengambilkan makanan. Sedangkan Casy bingung, haruskah ia melakukan hal yang sama?. Namun ia begitu canggung.


"Brandon diambilin juga dong Cas" tegur Mama pada anaknya itu.


"Iya Ma" ucapnya. Casy segera mengambilkan makanan untuk Brandon kemudian untuk dirinya sendiri.


Brandon tersenyum, merasa hal yang membuat hatinya berbunga-bunga. Diperlakukan oleh istri sekaligus gadis yang sangat dicintainya, Brandon merasa seakan melayang.


Menit pun semakin berlalu, mereka menyantap makanan dengan hikmat. Namun tiba-tiba suara Mama memecah keheningan.


"Apa kalian akan pergi bulan madu?" tanyanya dengan santai.


Uhukk uhukk, Brandon sedikit terkejut dengan pertanyaan mertuanya. Sedangkan Casy tersedak mendengar ucapan dari Mamanya itu.


"Pelan-pelan Sayang." Brandon segera memberikan minum kepada Casy. Ia paham mengapa respon Casy seperti itu.

__ADS_1


Selain dua pasangan pengantin baru itu, semua orang sedang menatap ke arah mereka berdua. Menanti jawaban dari pertanyaan Mama.


NEXT.......


__ADS_2