
Kini Casy sedang berjalan ke Mall, berniat mencari sebuah hadiah untuk Brandon.
Kemarin Brandon mengirim pesan padanya, untuk ikut melepas kepergianya ke luar negeri. Memang Carrel memberi izin pada Brandon untuk pertemuan terakhir mereka di bandara nanti.
Casy merasa senang, berarti keluarga Brandon tak menganggap dirinya seperti pikirannya kemarin. Casy percaya Brandon suatu hari akan kembali, maka dari itu ia mencari hadiah yang akan selalu mengingatkan Brandon padanya.
Meski merasa marah dan benci pada Brandon kemarin, nampaknya rasa itu hilang berganti rasa senang karena Brandon meminta mengiringi keberangkatannya di bandara besok.
Dengan berjalan perlahan sambil memilah-milah barang yang cocok dijadikan hadiah untuk Brandon, tiba-tiba langkahnya terhenti saat sorot matanya menangkap sosok yang menjadi alasannya berada di sini.
deg...
Berpelukan dengan seorang wanita. Jantungnya seakan tertancap tombak. Darahnya mendidih.
Cantik, putih, modis dan elegan. Gambaran seorang wanita yang sedang bersama Brandon. Casy membeku di tempat, bukankah lelaki itu tidak ingin di peluknya kemarin, sebagai perpisahan dan pertemuan terakhirnya?. Lalu mengapa kini dengan lugasnya dia berpelukan dengan seorang wanita?. Bukan mukrim katanya?, bukankah wanita itu juga bukan muhrimnya?.
Casy tertawa miris, betapa bodohnya dia karena telah dipermainkan. Betapa bodohnya dia berharap pada seseorang yang tak mengharapkannya.
Lagi Casy tersenyum sinis dan melangkah pergi. Namun belum sempat melangkah terlihat oleh pandangannya, seorang wanita tadi berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah toilet. Tak mampu menahan rasa penasarannya, Casy memberanikan diri menghampiri wanita itu untuk memperjelas semuanya.
Dengan menahan rasa sesak, dia pun bertanya, "permisi mbak!." Panggilnya.
Wanita itu berhenti dan menoleh.
"Maaf mbak, saya cuma mau nanya. Apa mbak pacarnya pria yang tadi bersama mbak?." Tanya Casy dengan kelu.
Casy menyiapkan hati dan pikirannya, jika jawaban wanita ini adalah sama dengan pikirannya.
wanita itu nampak bingung. Mengapa tiba-tiba ada seorang wanita bertanya seperti itu padanya. Dengan rasa panik menahan buang air, wanita itu menjawab dengan cepat dan singkat. "Iya mbak. Maaf permisi." Pamitnya.
Duarr
Seolah tersambar petir, dunia Casy hancur. Hatinya perih. Lelaki yang menjadi semangat hidupnya membohongi dirinya. Lelaki yang menjadi tumpuannya selama setahun ini, telah mempermainkannya. Dunia Casy seakan runtuh, sakit, perih, tak mampu menjabarkan lukanya kali ini.
Harapan yang semula menejelma indah seakan jadi kebahagian nyata, kini pupus dan hancur tak bersisa.
"Naif kah diri ini jika masih mengharapkannya? tidak!, tak pantas berharap apa pun sekarang. Cukup, aku tak sanggup !!."
Tak ada niat lagi untuk membeli hadiah atau menemui lelaki itu. Bahkan mendengar namanya pun rasanya Casy tak akan mau lagi.
__ADS_1
Berjalan dengan menyeret kakinya, seakan beban di hatinya berpindah pada kakinya. Terasa sulit untuk sampai ke mobilnya. Beberapa saat akhirnya Casy sampai ke mobilnya.
Menyalakan mobil dan pergi meninggalkan kawasan mall terkutuk itu. Dengan kecepatan tinggi Casy menuju daerah Villa orang tuanya di puncak.
memarkirkan mobilnya, berjalan lesu ke dalam Villa. Kali ini tak ingin siapapun tau keadaanya. Meskipun memang tak akan ada yang tau kecuali Bik Murti. Sekalipun Bik Murti tak boleh tau keadaannya sekarang.
Lelah dengan luka batinnya, Casy terlelap dengan sendirinya.
💐💐💐
Sinar mentari pagi menyapa, menyambut Casy yang siap dengan rencana dan tekadnya. Ya, Casy akan pergi ke suatu tempat hari ini. Sudah dua hari berada di villa ini, rasanya tak ada yang berbeda sama sekali. Tak ada yang khawatir mencarinya.
Bahkan lelaki pembual itu, tak mencoba menghubungi Casy sama sekali. Padahal harusnya kemarin Casy datang ke bandara untuk melepas kepergian nya. Tapi sepertinya Casy tak terlalu penting bagi si pembual itu, jadi untuk apa mencari dirinya. Huh sesak juga kala mengingatnya.
Oh bahkan Casy lupa, bahwa dia sudah memblokir no pembual itu. Untuk apa juga masih disimpannya? mengucapkan selamat jika kelak mereka menikah? tak penting sama sekali.
Casy telah bersiap pada rencananya, kini dia mengendarai mobilnya menuju suatu tempat yang jarang bahkan mungkin tak pernah dikunjungi siapa pun.
Melajukan mobilnya dengan kencang, Casy menikmati semilir angin yang menghempaskan rambut hitam indahnya.
Tanpa sengaja, dia hampir menabrak pengendara mobil hijau di depannya.
Dengan santainya Casy terus melajukan mobilnya dengan kecepatan semakin tinggi. Tanpa peduli pada mobil yang hampir ditabraknya tadi.
Berbeda dengan Casy yang seolah tak peduli, si pengendera mobil hijau tadi berhenti sejenak dan berbalik arah.
Mengikuti mobil Casy yang semakin melaju dengan kencang. Tak mau kalah, mobil hijau itu pun menambah kecepatannya untuk mengejar mobil Casy.
Masih terus berusaha mengejar, akhirnya mobil hijau itu berhasil tepat di belakang Casy. Mungkin hanya berjarak 1 meter.
Casy menoleh ke kaca spion, rupanya dia diikuti. Tak ambil pusing, Casy pun langsung berbelok ke arah tujuannya.
Sang pengendara mobil hijau kaget saat melihat mobil Casy berbelok ke arah sana. Bukankah di sana hanya kawasan jurang dan Tebing-tebing? Mengapa dia berbelok kesana?. Pikir si pengendara mobil hijau.
Karena semakin khawatir, si pengendara mobil hijau tetap mengikuti Casy. Dia pun ikut berbelok ke kawasan yang sebenarnya terlarang itu.
Awalnya Si pengendara berfikir kalau Casy sedang mabuk, makanya dia mengikuti. Takutnya terjadi kecelakaan, dan dia bisa langsung menolong pengendara mobil merah, yang tak lain adalah Casy.
Setelah mengikuti Casy, dan ternyata masuk ke kawasan terlarang. Si pengendara mobil hijau semakin yakin ada yang tidak beres dengan Casy. Ternyata mengikuti Casy adalah keputusan yang tepat.
__ADS_1
Casy yang telah sampai pada tujuannya. Menghentikkan mobilnya dan keluar dari mobil. Memandang alam sekitarnya hanya ada tebing, jurang dan pepohonan.
Melangkah mendekati tebing, Casy duduk di tepiannya. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskanya.
Mata bulat nan lentiknya mulai berembun dan tergenanglah cairan bening di dalamnya. Matanya berkaca-kaca, berkedip perlahan jatuh sudah air matanya.
semakin deras airmata mengalir di pipi mulusnya. Tangisannya semakin pilu. Casy sesegukan tanpa mampu menahan sesak. Tak sanggup menahan luka. Mengingat segala rentetan kepiluan dalam garis takdirnya, Casy semakin menumpahkan derita batinnya lewat air mata.
Casy tak sanggup, "Aaaaaaakkkkkkkkkk hiks hiks hiks" Teriaknya dengan pilu.
Casy berdiri dari duduknya, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Dengan merentangkan tangannya, Casy bersiap menjatuhkan tubuhnya dari tebing yang tinggi itu.
Tubuhnya serasa melayang diterpa angin semilir yang semakin membulatkan tekadnya. Bibirnya tersenyum seolah akan melepas beban berat yang menyiksa batinnya.
"selamat tinggal dunia." Batinnya.
Namun bersamaan dengan itu, terasa seseorang menarik tangannya dengan kasar.
"Auuu..." Pekiknya. Casy jatuh terjerembab ke tanah.
Dia mendongak melihat seseorang yang berdiri di depan nya. Dengan dahi mengkerut, Casy menatap lekat wajah itu dengan heran. Wanita berhijab? tampak asing, untuk apa dia di sini?. Dan lagi, dia menatap tajam pada Casy seolah marah dan murka?.
Sedari tadi wanita berhijab yang tak lain pengendara mobil hijau itu terus mengamati apa yang dilakukan Casy. Setelah Casy turun dari mobil tepatnya, dia juga berada di belakang mengamati.
Ternyata pengendara mobil kencang tadi adalah seorang gadis remaja yang nampak sedih dan putus asa.
Wanita itu menemukan jawaban, mengapa Casy sempat hampir menabraknya. Kasihan, itu yang wanita ini rasakan pada gadis remaja itu. Apa yang sebenarnya menimpanya sampai dia putus asa seperti itu?.
Dia bertekad, akan menolong gadis itu. Bergelut dengan pikiran dan tekadnya, wanita berhijab itu tersentak kaget saat melihat Casy hendak menjatuhkan diri dari tebing itu. Dengan berlari dia mendekat dan menarik tangan gadis itu.
Cukup keras tarikannya hingga membuat Casy jatuh ke tanah. Ditatapnya gadis remaja itu dengan tatapan marah dan murka.
Wanita berhijab itu pun berkata dengan lantang dan marahnya.
"HIDUP ITU SEKALI BUKAN UNTUK DISIAKAN!!, MASALAH ITU DATANG SELALU BERSAMA SOLUSI, BUKAN UNTUK DI PUTUS ASAI!!!."
Casy yang mendengarnya, hanya mampu menunduk dan menangis.
"hiks hiks hiks."
__ADS_1
NEXT.......