
Tampak dua insan saling duduk berhadapan di sebuah rumah makan. Dihadapan mereka hanya tersedia minuman yang sempat mereka pesan.
Keadaannya terasa hening karena salah satu dari mereka tidak ada yang membuka suara.
Setelah menyetujui untuk berbicara dengan Cya, mereka memutuskan untuk mengobrol di tempat yang lebih nyaman.
Namun sejak mereka sampai, wanita cantik di depannya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Jujur saja hak itu membuat Arzan sedikit kesal. Ia diminta ke kantor Dad Brandon setelah pulang kuliah, namun ia harus menunda sebentar karena Cya ingin berbicara pada dirinya.
Namun sampai saat ini, Cya sama sekali tidak membuka mulut untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Az merasa tidak sabarpun membuka suara.
"Apa yang mau lo bicarain sama gue?"
Ia bertanya langsung keintinya. Ia menghindari basa-basi karena merasa agak malas dengan wanita didepannya yang ia ketahui menyimpan rasa padanya.
Cya senang akhirnya Az mau diajak bicara. Ia pikir Az akn menolak ketika ia meminta berbicara padanya tadi. Namun diluar dugaannya Az menyanggupinya.
__ADS_1
Cya tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Setiap bersama Az ia pasti merasa gugup dengan jantungnya yang ingin melompat.
Seperti saat ini pun begitu. Ia benar-benar gugup berada di dekat Az. Lebih gugupnya lagi, akan hal yang ingin ia ajukan.
Ia takut hal yang akan ia katakan membuat Az tak nyaman atau bahkan bisa sampai marah padanya. Maka dari itu sampai saat ini ia masih belum berani membuka mulut.
Saat ia masih asik mengatur kegugupannya, ia mendengar suara Az. Akhirnya mau tidak mau ia harus segera menyampaikan hal yang mengganjal di hatinya.
"Emm..Az apa lo akhir-akhir ini sengaja menghindari gue?" Cya pun sama langsung berbicara pada intinya. Ia takut Az akan kesal jika diajak bertele-tele.
Az yang mendengar pertanyaan Cya tersenyum tipis. "Kalau lo merasa kayak gitu kemungkinan benar"
"Gue tau lo ada perasaan sama gue" Az berucap dengan santai. Ia ingin menegaskan kepada Cya untuk segera melupakan dirinya.
Cya terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka dugaannya benar, bahwa Az mengetahui perasaannya. Kini ia benar-benar merasa tak ada muka, ia teramat malu.
"Ha..ha lo bercanda ya. Siapa yang berani ngomong gitu ke Lo?" demi menjaga imagenya, Cya berusaha menyangkal tuduhan Az.
__ADS_1
Lagi Az tersenyum tipis, ia tahu akting apa yang sedang Cya mainkan. "Gue denger kalian ngobrol di ruang tamu."
Selesai sudah hidupnya, rupanya Az mendengar obrolan mereka. Tidak ada gunanya lagi ia mengelak, "sorry Az gue lancang."
Cya merasa melakukan kesalahan dengan menyukai Az lalu diketahui begini oleh empunya.
"It's ok, lo gak salah. Hal itu gak bisa kita rencanain", Az memang memaklumi perasaan Cya kepada dirinya. Karena perasaan hadirkan memang tanpa terduga.
Namun ada hal yang harus ia luruskan di sini kepada Cya. "Gue gak masalah dengan perasaan lo. Tapi gue minta demi kebaikan lo, sebaiknya perlahan lupain gue. Gue gak mau ada yang tersakiti karena gue."
Deg
Mendengar perkataan Az jantungnya serasa berhenti berdetak. Rasanya sakit kala mendengar perkataan Az barusan.
Az seolah memberikan penegasan bahwa dirinya tidak berhak menyimpan rasa pada pria tampan di depannya ini Tidak pantaskan dirinya dibiarkan berusaha mendapatkan Az atau mencintainya dalam diam?
Namun ia sadar, kalau seperti itu namanya ia tidak tau diri. Karena Az memintanya dengan cara baik-baik mungkin akan ia pertimbangan dulu.
__ADS_1
Melupakan Az tidak akan semudah itu, namun jika itu memang demi kebaikan bersama. Maka akan ia lakukan.
NEXT .......