Our Journey

Our Journey
Berbincang


__ADS_3

Carrel merangkul dan menepuk-nepuk pundak Brandon.


"Kenapa sebenarnya?." Tanya Carrel.


Akhirnya Brandon dan Casy menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang yang ada di sana.


Mereka pun turut mengucapkan MasyaAllah saking terkesimanya. Mereka juga tak lupa berucap syukur dan semakin mengagumi keagungan Allah SWT.


Setelah semuanya jelas, tangis Casy pun juga sudah mereda. Kini mereka melanjutkan diskusi perjodohan mereka.


"Jadi gimana Cas, Mau menerima Brandon apa enggak?." Tanya Naya bercanda.


"Ya enggak nolak lah." Bukan Casy yang menjawab, melainkan Mama.


Mereka semua tertawa akan bercandaan Mama dan Kanaya. Pertemuan akhirnya usai, Brandon bersama keluarganya pun pulang ke rumah.


Pastinya setelah menentukan tepatnya hari sakral bagi Brandon dan Casy. Yang sebelumnya rencana pernikahan akan berjalan dua bulan lagi, namun Brandon meminta untuk dipercepat.


Agaknya ia terauma berpisah dengan Casy, atau mungkin dia tak mau terlalu lama takut dosa. Entahlah...


Jadilah mereka akan menikah sebulan kemudian. Mengapa begitu cepat?. Rupanya Mama bersama Kak Naya sudah mempersiapkan pernikahan mereka jauh-jauh hari.


Mereka tak peduli jadi atau tidaknya perjodohan ini, tapi mereka tetap mempersiapkannya. Sungguh perfect.


Hari-hari pun berlalu, Brandon dan Casy jarang sekali bertemu. Itu semua adalah rencana Mama dan Kak Naya, supaya mereka saling merindukan dan bisa melepas rindu kala telah halal nanti.


Pertemuan mereka pun tidak pernah jauh-jauh dari pantauan mereka berdua. Mama dan Kanaya selalu ikut nimbrung di sekitar mereka demi mengawasi.


Seperti kali ini, Brandon dan Casy terlihat sedang duduk di bangku taman. Mama dan Kanaya pun jelas berada di sekitar mereka. Mama dan Kanaya terlihat sedang mengotak-atik bunga di taman rumah Casy.


"Kak Naya ikut lagi?." Tanya Casy pada Brandon dengan terkekeh.


Brandon hanya bisa mengangguk malas.


"Katanya kangen sama kamu?." Jawab Brandon menjelaskan alasan yang Kanaya gunakan demi ikut bersamanya.


Casy hanya tersenyum mendengar kelakuan Kak Nayanya itu. "Mama juga gitu, suka ngawasin kalo kakak lagi telfone."

__ADS_1


Casy teringat kala Mama mengetahui Brandon yang menghubungi dirinya, dan Mama langsung mendekati Casy dan menyuruh meloud speaker handphonenya. Padahal itu kali pertamanya mereka bertelepon setelah mereka menjadi calon pengantin.


Karena pengalaman itu, Casy tak pernah lagi mau ditelpon oleh Brandon. Terlalu malu kalau Mama sampai tahu obrolan anak muda mereka.


Brandon terkekeh geli mengingat saat Mama juga ikut nimbrung dalam obrolan via telepon mereka. "Iya, setelah itu kita gak berani lagi." Ucap Brandon masih dengan kekehannya.


"Aku tau, mereka ngelakuin itu demi kebaikan kita juga. Aku juga kadang takut Kak, kalau kita sampai mendekat pada hal-hal buruk." Casy nampak menerawang ke depan, membayangkan sebuah penyesalan jika perbuatan buruk ia lakukan.


"Iya, aku juga setuju sama mereka." Brandon menimpali dengan tersenyum


Mereka meneruskan perbincangan mereka. Dan terucaplah lagi kalimat yang sering Brandon ulang-ulang kala berkesempatan bertemu dan berbincang dengan calon istrinya ini.


"Aku masih gak percaya kalau kamu benar-benar akan jadi istri aku." Brandon meluruskan penglihatannya pada bunga-bunga di taman.


Mengingat semua lika-liku yang Brandon lalui selama ini, membuat ia selalu bersyukur benar-benar bisa segera menghalalkan Casy. Dia pikir setelah penolakan lamarannya yang kedua kemarin, ia dan Casy tak akan pernah lagi bisa bersama. Namun nyatanya Allah begitu baik kepada dirinya.


"Kakak selalu itu aja yang dibahas. Kayaknya ini udah yang keseribu aku dengar." Ucap Casy bercanda.


"Kenapa, gak boleh? aku tu bersyukur banget sama Allah atas takdir ini. Atau jangan-jangan kamu gak bahagia sama sekali?." Tanya Brandon, nampak nada kecewa pada kalimatnya yang terakhir.


"Kamu memang paling terbaik untuk aku kok." Sanggah Brandon menatap Casy.


Casy yang awalnya menatap lurus ke depan, kini menoleh menatap Brandon yang berada agak jauh di sampingnya sekitar 1 meter, setelah mendengar kalimat dari Brandon.


Jadilah mereka kini saling bertatapan. Nampak dari jarak yang agak jauh, Naya dan Mama melipat tangan dan menatap tajam ke arah mereka.


"Eehhmm..." Suara Mama dan Naya tampak keras mengusik tatapan mata mereka.


Tatapan mata itu pun terputus, Brandon dan Casy menoleh ke arah Mama dan Naya. Melihat tatapan tajam dari kedua tetua, mereka tersenyum canggung dan cengengesan.


"Kalian itu belum halal, belum boleh tatap-tatapan kayak gitu. Gak takut nanti di tengah-tengah situ ada setan." Jelas Naya memperingati dengan mengomel.


Casy hanya mampu tersenyum malu, sedangkan Brandon nampak canggung dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Brandon, sepertinya lebih bagus kalau kita percepat saja pernikahannya." Ujar Mama tampak mengerti kondisi Brandon.


Raut wajahnya nampak sumringah, dan matanya tampak berbinar.

__ADS_1


"Benar Ma, aku setuju."


"Naya gak setuju Ma, biar Brandon belajar sabar dulu." Ujar Naya memprovokasi Mama.


"Iya, Casy juga gk mau kalau dipercepat Ma. Dua Minggu kedepan aja sebenarnya kecepetan." Casy menimpali dengan sedikit ngegas. Namun pada kata terakhirnya ia ucapkan dengan pelan.


Ya, hanya kurang dua minggu lagi menjelang akad mereka. Namun tampaknya Brandon merasa kelamaan. Baginya berpisah sejam saja dengan Casy, seperti berpisah setahun.


Naya mengangguk menyetujui ucapan Casy. Sedangkan Mama tampak menimang-nimang.


Mendapati jawaban Casy yang kurang menyenangkan baginya, Brandon beralih menatap Casy. Tatapannya tajam seolah sanggup menelan Casy saat ini juga.


Casy yang menyadari perkataannya kurang tepat bagi pria di depannya ini, beralih menatap Brandon. Melihat tatapan Brandon yang tak aman sama sekali, ia spontan menunduk.


"Gak gitu maksutnya kak, aku cuma takut nanti...." Casy bingung mencari alasan.


Brandon menyipitkan matanya, masih dengan tatapan tajam.


"Takut nanti apa? ehm?." Tanyanya meminta kelanjutan ucapan Casy.


Casy makin dibuat gugup dan bingung. Baru kali ini, ia begitu gemetar pada Brandon. Selama ini tak pernah Lelaki tampan di depannya ini memberikan tatapan seperti itu.


Akhirnya Casy memberanikan diri menatap balik Brandon.


"Apaan sih kak, udah matanya itu dikondisikan dong." Ucap Casy berusaha melawan rasa gugupnya.


Brandon menghela nafas, sebenarnya tak ada masalah dengan kata-kata Casy. Namun dirinya seolah tersinggung dengan kata-kata itu. Seolah Casy tak benar-benar ingin bersamanya.


"Aku mau kok secepatnya menikah sama kakak, tapi kalau waktu yang kemarin dipercepat lagi aku benar-benar belum siap kak." Jelas Casy seolah tau apa yang Brandon pikirkan.


Brandon mengangguk pelan, masih berusaha menguasai egonya. Kenapa dia gampang emosi sekarang? kenapa gampang terbawa perasaan?. Sepertinya kegugupan menjelang pernikahannya, sangat mempengaruhi emosionalnya.


"Iya, aku ngerti." Jawab Brandon tersenyum.


Casy pun membalas senyuman Brandon. Akhirnya sudah dingin juga, bara panas tadi ...pikirnya.


NEXT.......

__ADS_1


__ADS_2