
Mendengar perkataan Cya, Arzan nampak terkejut. Ia tidak menyangka Cya mendengar semua penolakannya pada saat itu. Ia mengeratkan pelukannya, memberanikan diri mencium pucuk kepala Cya.
"Maafin gue atas penolakan yang gue lakuin waktu itu. Gue waktu itu salah mengartikan perasaan kagum gue ke Fanya Cy. Gue cintanya sama lo, bukan Fanya. Gue cuma kagum aja sama dia gak lebih." Jelas Az panjang lebar dengan menciumi dahi dan rambut Cya.
Mendengar penjelasan Arzan, Cya masih tetap terisak di pelukan Az. Ia ingin meluapkan semua rasa sesak di hatinya.
Meski kemarin ia sempat melupakan segala penolakan itu, namun saat menemukan tempat meluapkan rasa perih yang kemarin begitu kian terasa.
Arzan masih berusaha menenangkan Cya yang semakin terisak dalam pelukannya. Ia dapat merasakan kepedihan atas penolakannya waktu itu kepada Cya.
"Maafin gue ya, gue menyesal udah pernah ngelakuin itu Cy" ujarnya dengan tulus.
Ia mengelus rambut sampai punggung Cya dengan sayang, mencoba menenangkan gadis yang telah bersemayam di dalam hatinya.
Setelah sekian lama, Cya melepas pelukannya dari Arzan. Ia menghapus airmata yang membasahi wajahnya.
Perlahan tangan Az mencoba membantunya untuk menghapus airmata di pipinya, namun tangannya segera menepis tangan Arzan.
"Gue butuh waktu Az, gue juga gak bisa langsung percaya dengan semua yang Lo omongin. Sorry gue butuh waktu sendiri, tlong lo pulang dulu" pintanya memalingkan wajahnya dari Arzan.
Sejujurnya ia merasa bahagia, Az membalas cintanya. Namun tidak semudah itu ia bisa percaya. Terlebih rasa sakit di hatinya rupanya belum pulih sepenuhnya.
__ADS_1
Saat bertemu pelaku yang menyebabkan rasa sakitnya, luka lama itu seakan timbul kembali. Ia masih merasakan perihnya.
Arzan yang mendengar permintaan Cya mencoba memahami. Meski sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan Cya dalam keadaan bersedih, namun apa boleh buat. Cya juga butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya.
Ia perlahan berdiri untuk segera melangkah pergi meninggalkan rumah Cya. Ditatapnya wajah cantik Cya yang nampak sembab, ia merasa tidak tega.
Akhirnya dia memutuskan untuk tidak jadi pulang dan meninggalkan Cya sendirian. "Gue gak akan pergi Cy, gue akan temenin lo."
"Az, please..." ucapnya memohon.
"Gue gak akan kemana-mana" tegas Arzan keluar dari kamar Cya.
Arzan memutuskan menunggu Cya di ruang tamu. Ia takut akan benar-benar melakukan hal yang tidak-tidak kepada Cya. Bisa saja ia khilaf karena terpancing oleh Cya yang memaksanya untuk tetap pergi.
Getar ponsel memaksa dirinya untuk mengecek siapa yang menghubunginya. Rupanya sang Daddy.
"Waalaikumsallam, ada apa Mom?" rupanya sang Mommy yang menggunakan ponsel Daddynya.
"...."
"Az di rumah Cya Mom, Az juga akan menginap di sini." terangnya.
__ADS_1
"...."
Jelas saja di seberang sana, Mom Cas tidak terima dengan rencana Az itu. Mereka akan berada pada tempat yang sama dan hanya berdua, jelas hal itu akan menyebabkan hal-hal buruk bisa saja terjadi.
"Tapi Mom, Cya gak bisa Az tinggal sendiri. Dia butuh seseorang sekarang." jelasnya pada Mom Cas.
"...."
Az menjelaskan segala yang terjadi pada dirinya dan Cya barusan. Jelas saja Mom Cas nampak marah dan mengomel di seberang sana.
Bahkan Mom Cas akan memaksa menikahkan mereka setelah pulang dari mengantar Caca. Mendengar hal itu, Arzan merasa bahagia. Cya tidak akan bisa menolak jika sudah begini.
Ia juga tidak akan khawatir Cya dekat dengan Vino, karena Cya akan segera menjadi istrinya.
Pada akhirnya setelah berdebat dengan Mom Cas untuk menginap di rumah Cya. Mom Cas kekeh untuk tetap melarangnya. Justru Mom Cas menyarankan membawa Cya menginap di rumah meraka.
Supaya tidak akan terjadi hal-hal tidak diinginkan. Karena di rumah mereka banyak orang yang kaan mengawasi mereka terutama Az.
Setelah mendengar yang terjadi barusan dengan Az dan Cya, jelas membuat Mom Cas waspada jika Az akan benar-benar melakukan hal itu.
"Cy, Mommy nyuruh gue bawa lo pulang ke rumah." ujarnya pada Cya
__ADS_1
NEXT .......