
SEUTUHNYA
"Ayo cepetan dong, kalian malah asik pacaran aja" Naya berucap dengan terkekeh.
Melihat Brandon dan Casy yang berlari begitu lambat, Naya tidak tahan untuk tidak menggoda mereka. Carrel yang berada di sampingnya hanya bisa ikut tertawa.
Sedangkan Brandon hanya memutar bola matanya, ia merasa terganggu. Padahal mereka sedang asik bercanda ria. Casy hanya tersenyum, ia merasa malu terhadap dua senior di depannya.
"Kayaknya Brandon benar-benar membuktikan ucapannya. Dia udah gak ada iri-irinya sama kita" masih dengan kekehan, Naya berujar pada suaminya.
"Iya Sayang, kamu liat aja waktu dulu. Dia kapok ikut kita saking irinya. Tapi sekarang sepertinya dia lebih dari bahagia" ujar Carrel.
Naya mengangguk membenarkan apa yang Carrel ucapkan. Ia selalu berharap Brandon dan Casy akan selalu bahagia dunia Akhirat.
"Mah, aku mau sama Uncle dan aunty. Mama sama Papa duluan aja." Ucap Kiren yang ingin ikut lari bersama Brandon dan Casy. Melihat mereka yang sepertinya bercanda ria, Kiren berfikir seru jika ikut mereka.
Mendengar keinginan anaknya, jelas saja Naya merasa tidak enak menggangu kebahagiaan adik-adiknya yang sedang asik menikmati waktu berdua ditemani suasana yang amat sejuk. "Jangan Sayang, uncle dan aunty itu lagi butuh waktu berdua."
"Kenapa Ma? aku juga pengen ikut ketawa-ketawa sama Uncle dan aunty." Ujarnya dengan nada kecewa.
"Kiren juga bisa ketawa kok kalo sama Mama Papa. Gak percaya?." Ucap Carrel menimpali.
Kiren nampak masih ragu dengan penuturan Carrel. Melihat hal itu, Carrel langsung saja menggelitiki Kiren lalu lari. Kiren tertawa terbahak, kemudian mengejar Carrel yang tengah kabur.
Naya ikut tertawa dengan kelakuan Papa dan anak itu, tak menunggu lama ia ikut mengejar Carrel membantu Kiren.
Sedangkan di belakangnya, Casy menikmati pemandangan seru Ayah Ibu dan anak itu dengan tatapan kagum. Ia juga ingin suatu hari memiliki anak bersama Brandon, dan bermain bersama seperti itu dengan buah hati mereka.
"Kenapa Sayang, kamu juga pengen kayak gitu?" ujar Brandon menyadari apa yang sedang Casy perhatikan.
Matanya tak lepas masih memandang keluarga kecil di depannya, ia mengangguk menyetujui ungkapan Brandon.
__ADS_1
Brandon tersenyum tipis menyaksikan respon Casy, kemudian ia mendekat dan memeluk Casy dari belakang. "Berarti kamu udah siap? nanti malam kita bisa melakukan sesuatu yang sempat tertunda?." Ujarnya dengan tertawa kecil.
Mendapat pelukan Brandon yang tiba-tiba, Casy terkejut. Namun ia kembali menetralkan diri, dan berusaha menjawab pertanyaan suaminya. Sudah cukup lama, Casy masih belum melaksanakan kewajibannya pada Brandon. Sepertinya memang ia harus segera melaksanakan tugasnya itu.
Menggenggam tangan Brandon yang sedang memeluk perutnya, Ia menggangukkan kepala dalam pelukan suaminya.
Mendapati jawaban Casy, Brandon tersenyum riang. "Beneran Sayang?" Tanyanya ingin memastikan.
"Iya Kak, aku mau" Lirih Casy menjawab pertanyaan Brandon. Ia sebenarnya sangat malu membahas hal seperti ini.
Mendapati jawaban yang meyakinkan dari Casy, Brandon memutar tubuh Casy dan kembali memeluknya. Kecupan manis mendarat di kening Casy berulang kali, ia merasa bahagia karena Casy Akhirnya bisa percaya sepenuhnya pada dirinya.
"Makasih Sayang" ucapnya dengan tulus masih terus memeluk Casy. Casy mengangguk dan tersenyum.
Untung saja adegan mereka itu tidak ada seorang pun yang menyaksikan. Karena Carrel dan Naya sudah berjalan jauh meninggalkan mereka. Sedangkan daerah sekitar mereka ini, sangatlah sepi dan tidak ada manusia berlalu-lalang.
💐💐💐
Terlihat Brandon dan Casy sedang menikmati sarapan pagi mereka. Dari beberapa menit yang lalu, Brandon tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari sang istri tercinta yang terlihat tersipu dan merona.
Tadi malam memang mereka telah melakukan hal yang sempat tertunda karena ketidaksiapan Casy waktu itu. Namun kini, mereka telah melakukan kewajiban nafkah batin itu. Mereka telah menjadi suami istri yang sesungguhnya.
"Kak, jangan ngeliatin aku terus dong!" Casy kesal sendiri terus dipandangi oleh Brandon. Tak taukah suaminya ini, ia begitu malu.
Mendengar protes dari Casy, Brandon terkekeh. "Kenapa? hak aku dong ngliatin kamu" ucapnya membuat Casy semakin sebal.
Casy yang merasa semakin kesal, berdiri dari duduknya dan melangkah pergi. Namun sebelum ia berhasil meninggalkan meja makan, langkahnya terhenti kala merasakan tubuhnya direngkuh oleh sebuah tangan. Siapa lagi kalau bukan si suami.
"Maafin aku, jangan ngambek Sayang" ucapnya memelas dengan memeluk Casy dari belakang.
Casy tak berdaya, lenyap sudah perasaan kesalnya tadi kala diperlakukan seperti ini oleh Brandon. Ia selalu begitu lemah mengahadapi sikap manis Brandon.
__ADS_1
Casy membalikkan badannya menghadap Brandon. Ia kembali masuk dalam pelukan suaminya. "Jangan kayak gitu Kak, aku malu banget" keluhnya.
"Iya Sayang, gak lagi lain kali." ujarnya tersenyum. Tangannya membelai lembut kepala Casy yang berada dalam pelukannya.
"Kak, aku ikut ke kantor ya?" tanyanya penuh harap.
"Kamu pasti capek, lebih baik di rumah istirahat" ujarnya memberi nasehat.
"Di rumah sepi gak ada kamu. Biasanya aku kerja, tapi kamu minta aku cuti" ujarnya mengeluh.
"Aku minta kamu cuti biar bisa istirahat, kamu pasti capekkan?" tanyanya menatap Casy.
Sebenarnya ia memang merasa lelah, tapi jika istirahat di rumah ia akan merasa bosan. Selama ini ia selalu sibuk, tiba-tiba harus di rumah sendiri tanpa Brandon. Rasanya hampa, padahal ia masih membayangkan apalagi nanti kalau Brandon sudah pergi ke kantor.
Memang ada orang-orang yang bekerja di rumah Brandon, tapi mereka sibuk masing-masing. Bagaimana mungkin demi menemani Casy, harus mengganggu pekerjaan mereka.
Jika ikut Brandon, ia bisa beristirahat di kamar pribadi ruang kerja Brandon kan?. Sepertinya ide itu sungguh brilian, ia tidak kesepian dan juga bisa beristirahat.
"Kak, di ruang kamu ada kamar pribadinya kan? aku bisa istirahat di sana" Ia berusaha merayu Brandon supaya di izinkan.
"Ya udah, kamu ikut aku ke kantor" Brandon Akhirnya mengizinkan Casy ikut.
Meski Brandon takut Casy tetap kecapekan, tapi ia nanti akan berusaha mengawasi Casy benar-benar istirahat. Ia kenal dalam kepribadian Casy. Sering Casy datang ke kantornya, bila Casy selesai meeting dengan client.
Dan istrinya itu tidak pernah diam sedetikpun, ia juga ikut membantu Brandon berkutat dengan berkas-berkas yang sedang menyibukkan Brandon.
Brandon sering juga melarangnya, ia tahu Casy pasti lelah dengan pekerjaannya sendiri. Apalagi ia juga seorang CEO sama seperti dirinya. Pasti kesibukannya tak jauh berbeda dengan dirinya. Tapi Casy selalu mengelak tidak mau dilarang. Ia begitu semangat membantu suaminya.
"Makasih Kak" Casy merasa senang Brandon mengizinkan dirinya ikut.
"Iya Sayang. Ya udah kamu siap-siap" titahnya pada Casy.
__ADS_1
Setelah sama-sama rapi, Brandon dan Casy berangkat ke kantor.
NEXT.......