Our Journey

Our Journey
Berjodoh atau Tidak


__ADS_3

Empat bulan berlalu, Brandon yang selalu sibuk dengan urusan perusahaan membuat ia menunda rencananya meminta izin pada Carrel untuk melamar Casy.


Mereka yang sama-sama sibuk dengan urusan perusahaan masing-masing, membuat Casy maklum untuk menunda menentukan kejelasan rencana pernikahan yang diutarakan oleh Brandon.


Hubungan Casy dan Brando terjalin dengan baik. Meski mereka jarang bertemu karena takut akan menimbulkan fitnah, tapi mereka tahu bahwa mereka saling menyayangi dan menginginkan.


Setelah Casy menemui Naya waktu itu, kini dia hanya fokus untuk belajar menjadi istri yang baik kelak untuk suaminya. Yang tak lain adalah Brandon.


Dan setelah Casy menemui Naya waktu itu, Casy pun memutuskan menerima permintaan Brandon untuk menikah dengannya. Brandon sangat bahagia Casy menerima dirinya.


Dan Casy sendiri nampak selalu sumringah dan berbunga-bunga, membayangkan kelak akan hidup bersama dengan seseorang yang dia cintai.


💐💐💐


Duduk berhadapan dengan kakaknya, Brandon berniat mengutarakan keinginannya untuk menikah pada sang kakak.


Namun belum sempat Brandon berucap, Carrel sudah berbicara terlebih dahulu.


"Kakak sama Kak Kanaya mau jodohin kamu." Ucap Carrel menatap Brandon di depannya.


Brandon terkejut dan nampak bertanya-tanya. "Maksud kakak gimana?." Tanyanya balik menatap Carrel.


"Kakak juga sudah bicarakan ini dengan orangtuanya." Carrel menjawabnya dengan tenang.


"Kak?."


"Aku sudah punya calon istri. Dan aku ke sini mau bicarakan itu sama kakak." Brandon mencoba menjelaskan.


Carrel agak terkejut mendengar penuturan Brandon. Tanpa diketahui olehnya, adiknya ini sudah memiliki calon istri saja.


Tiba-tiba terlintas dalam benaknya, apakah Brandon selama ini pacaran?.


Carrel mulai emosi jika pikirannya benar.


Menatap tajam Brandon, Carrel mulai mengintrogasinya.


"Kamu pacaran Bran?." Tanyanya diiringi sorot tajam.


Brandon yang mendengarnya langsung menggeleng dengan cepat. "Demi Allah, tidak kak."


Carrel menghela nafas. Rasanya lega karena semua tak seperti dalam pikirannya.


"Jadi, bagaimana kamu sudah punya calon istri?." Carrel sangat penasaran.


"Dia gadis yang waktu itu kak. Gadis yang pernah aku ceritakan pada kakak."


Jelas Brandon.


Carrel mengangguk merespon penjelasan Brandon. Namun keputusannya tetap bulat untuk menjodohkan Brandon. Carrel selalu ingin yang terbaik untuk adiknya ini.


"Kakak tetap akan menjodohkan kamu!." Ucapnya tegas.

__ADS_1


"Kak?." Brandon nampak tak menyangka respon Carrel akan seperti ini.


"Kakak sibuk, lain kali kita akan bahas lagi sama Kak Kanaya." Usirnya pada Brandon agar segera meninggalkan kantornya.


Brandon memang datang ke kantor Carrel untuk mendiskusikan keinginan dia untuk menikah itu. Namun mengapa pembahasannya malah jadi perjodohan?.


Dengan perasaan kecewa Brandon pun pamit. Berencana menemui Casy, karena memang sedang ada janji dengannya.


Memasuki kafe yang ramai akan pengunjung, Brandon dapat melihat Casy sedang duduk menunggunya. Dia sangat gelisah untuk menjelaskan pada Casy yang terjadi.


Membuat dia teringat malam perpisahan mereka dulu sebelum dia ke luar negeri. Dadanya berdenyut merasa sakit, dia menyesal pernah menyakiti gadisnya itu.


Duduk berhadapan dengan Casy, mereka mulai berbincang-bincang ringan. Setelah cukup lama mereka berbincang dan menghabiskan pesanan mereka, akhirnya Brandon mengutarakan kegelisahan hatinya.


"Cas, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucapnya berusaha tenang.


"Apa kak? ngomong aja kak."


"Oh iya kak, kapan kakak mau datang ke rumah?. Aku udah ngomong sama mama papa, mereka welcome banget." Jelas Casy tersenyum sumringah.


Nyalinya semakin menciut mendengar penuturan Casy. Dia tak sanggup membuat Casy kecewa.


"Cas, maafin aku ya. Tapi Kak Carrel belum setuju sama keputusan aku untuk menikahi kamu."


Casy tercengang. Waraskah lelaki di depannya ini?. Bukannya kemarin lelaki ini yang begitu kekeh ingin menikahinya dengan begitu yakin?. Lalu kenapa sekarang seolah keseriusan kemarin hangus begitu saja.


Bercandakah dia kemarin?. Casy kira dengan ucapan Brandon yang begitu yakin dan serius kemarin, seolah semua orang memang sudah merestui mereka. Namun nampaknya mimpi Casy sirna. Tak ingin lagi ia berharap kini.


Salahnya juga. Mengapa dia lupa?, tak bolehkan berharap kepada manusia. Inilah akhirnya, harus kecewa karena harapan pada manusia.


Dia begitu ingat bagaimana perjuanganya belajar memasak, bersih-bersih, dan hal lain yang biasanya dilakukan seorang istri. Agaknya hal itu sia-sia sekarang. Casy pasrah.


"Cas, gak gitu maksutnya. Kak Carrel pasti bakal setuju kok nanti." Jelas Brandon berusaha meyakinkan Casy.


"Kamu mau sabar kan nungguin aku untuk meyakinkan Kak Carrel?." Tanya Brandon penuh harap.


Menunggu?. Casy menggeleng, untuk apa menunggu hal yang kurang pasti. Apa ini merupakan balasan karena Casy menolak perjodohan dengan adik Kak Naya?. Pikir Casy.


Sudah empat bulan Casy menunggu. Baginya itu waktu yang agak lama untuk sebuah kepastian, apalagi agama cukup melarang hubungan-hubungan yang kurang jelas seperti itu.


Memang mereka saling menyayangi, tapi dua keluarga belum sama sekali bertemu. Dan belum ada ikatan khusus untuk melanjutkan ke jenjang yang serius.


Apa seperti ini, sudah dianggap pacaran?. Casy takut berdosa jika benar seperti itu dianggap pacaran.


Berfikir sejenak, Casy mencoba mencari solusi untuk mencoba menghadapi situasi ini.


"Cas, kamu mau kan nungguin aku?." Brandon mengulang pertanyaannya karena tak mendapat respon dari Casy.


Casy tersentak. Pikirannya yang sudah mulai tersusun tadi, buyar seketika.


"Iy..iya kenapa kak." Tanyanya yang tak mendengar Brandon.

__ADS_1


Menatap lekat Casy, Brandon mengunci dalam-dalam netra mata bulat itu.


"Kamu mau kan nungguin aku?." Tanyanya penuh harap.


Casy memutus tatapan mereka.


"Kak, maafin aku ya. Aku gk bisa lagi nunggu kakak. Belum tentu jugakan, Kak Carrel akan merestui kita." Jelas Casy membuat Brandon kecewa.


"Tapi Cas.."


"Kak, mungkin aku memang bukan jodoh kakak. Mungkin jodoh kakak udah nungguin kakak sekarang. Jadi jangan gangguin aku lagi." Ucap Casy dengan tegas.


Brandon menggeleng.


"Cuma kamu jodoh aku Cas. Hanya kamu yang aku cintai." Ungkap Brandon menyangkal.


Casy tersenyum miris dan bangkit dari duduknya.


"Aku pulang duluan kak." Pamitnya pada Brandon.


Casy melangkah menjauh dari kafe itu. Namun langkahnya terhenti kala tangannya digenggam oleh seseorang. Berbalik, Casy dapat melihat Brandon berdiri dengan mata yang memerah.


Casy nampak tak tega melihat rautnya itu. Namun semua hal ini tak pantas dipertahankan. Casy lebih memilih teguh pada syariat, untuk tak meneruskan hubungan yang lama-lama menyebabkan dosa ini.


Bagaimana tidak. Jika terus terjalin tanpa kepastian dan tanpa ikatan yang suci, bukankah itu adalah dosa dan maksiat. Akan ada syaiton di tengah-tengahnya. Casy tak mau hal itu.


Casy memilih Iman yang harus selalu dijaga, dengan menjauhi segala dosa dan kemaksiatan semampunya.


"Kak, lepasin tangan aku." Pintanya pelan.


Brandon melepaskan tangan Casy. "Please Cas, jangan tinggalin aku." Penuh harap.


Casy menatap Brandon. Menelisik dari atas sampai bawah.


"Kakak makin tampan dan tinggi, aku rasa pengetahuan dan wawasan kakak juga makin banyak. Lalu iman kakak?." Tanya Casy sedikit menyindir.


Casy kesal mengapa Brandon kurang dewasa sama sekali. Bukannya dulu tak mau dipeluk olehnya, kenapa dia sekarang menyentuh tangan Casy semudah itu.


Mengapa lelaki ini seakan kehilangan kedewasaannya. Harusnya dia membicarakan pada keluarganya dulu, sebelum berniat mengajak seorang wanita menikah.


Brandon tersentak dengan sindiran Casy. Bahkan ia tak pernah ngeh akan hal itu. Di mana imannya selama ini?. Kenapa dia seolah bodoh sekarang. Kenapa dia seolah tak memiliki pendirian sama sekali.


Nampaknya Cinta yang sebenarnya nafsu telah membutakan mata hati Brandon. Memang Casy secara agama adalah gadis muslimah yang Sholehah. Pantas dan layak untuk dicintai karena agamanya.


Tapi harusnya Brandon mencintainya karena Allah kan?. Nampaknya Brandon memang sudah kehilangan akal sehatnya. Setan telah berhasil menghasutnya.


"Maaf Cas, aku gk bermaksud megang tangan kamu tadi." Ucapnya merasa bersalah. Brandon sadar sindiran Casy itu muncul karena tindakan implusifnya barusan yang seakan bukan dirinya yang dulu.


"Iya gak papa kak. Aku pulang ya, see you." Ucap Casy bergegas pergi seakan tanpa beban.


Brandon masih diam mematung ditempatnya. Sindiran Casy sepertinya berhasil menyadarkan otak dan pikirannya. Terlebih jiwanya yang selama ini telah kehilangan jati diri.

__ADS_1


NEXT.......


__ADS_2